PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MENELUSURI JEJAK KONFLIK ANTAR AGAMA

Sejak beberapa dekade terakhir, citra agama menjadi buruk di mata umat manusia di dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masalah yang secara tidak langsung bersumber pada keberadaan agama atau para penganut agama (baca: agamawan) yang justru sering menjadi biang keladi dari semua kejahatan dan perang.

Banyak kasus perang dan kejahatan lainnya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Kasus Sambas, Kerusuhan di Ambon, Konflik di Poso, Perang di Irak dan Afghananistan, Kasus Bom Bali, Bom Palu, Bom Marriot serta sederetan kasus lainnya akan selalu mengingatkan kita pada konflik antar agama (baca: SARA). Bahkan, sangat disayangkan, agama juga menjadi alat legitimasi konflik. Banyak perang atas nama agama, membunuh karena perintah agama, konflik atas nama agama dan berbagai kekerasan lain yang mengatasnamakan agama. Agama seolah-olah menjadi “penyebab” konflik, perang dan aksi kekerasan lainnya sampai-sampai Hans Kung, seorang Teolog Jerman menulis dalam bukunya Global Responbility, “No world peace without peace among religions” (tak ada kedamaian di dunia tanpa kedamian antar agama).

Jika perintah agama yang dimaksud tersebut adalah perintah Tuhan maka pernyataan tentang pengatasnamaan agama tersebut berlaku pula untuk pengatasnamaan Tuhan. Dengan demikian, Tuhan juga akan dijadikan  “biang kerok” dari segala tindak kekerasan, pembunuhan, perang, dan sebagainya (untunglah kita mempunyai Tuhan yang maha pengampun, seandainya Tuhan kita pemarah dan Dia dapat “berbicara” mungkin Dia akan berkata, “Terkutuklah kau manusia yang mengatasnamakan-Ku atas tindakan kejimu”).

Mungkin kita bertanya-tanya dalam benak kita mengapa konflik tersebut bisa terjadi? Bukankah agama mengajarkan kebaikan dan kesucian? Lalu di mana letak kesucian agama kalau ternyata agama justru sering menjadi “penyebab” pertikaian, perang dan kejahatan lainnya? Pertanyaan demi pertanyaan tersebut akan selalu muncul menghiasi pikiran kita mana kala kita mendengar dan menyaksikan berbagai kasus tentang bagaimana seseorang membunuh “atas nama” agama, melakukan terror “atas perintah” Tuhan dan sejenisnya.

Apabila kita jeli dengan masalah ini, maka dapat kita lihat pokok dari permasalahan yang menjadi akar dari semua permasalahan yang ada tersebut. Pokok permasalahan itu tiada lain adalah masih rendahnya pemahaman kita tentang agama dan Tuhan. Kadang kala kita terlalu zakelij mengartikan dan memaknai agama. Pemahaman tentang agama pun jarang disertai dengan nalar yang “sehat”. Sehingga pengamalan beragamanya pun cenderung terpasung pada dunia yang jauh dari kenyataan dan kasunyatan. Dalam pada itu otak kita terus terbelenggu oleh doktrinasi yang kaku dan tidak supel.

Lalu, bagaimanakah menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan keyakinan atau aqidah tersebut? Bukankah masalah-masalah semacam itu merupakan masalah yang paling asasi dari seluruh umat manusia?

Memang benar keyakinan, aqidah atau apalah namanya adalah masalah yang paling asasi yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Tetapi kita juga harus berpikir bahwa Tuhan memberikan semua itu kepada kita adalah untuk kedamaian dan keharmonisan umat manusia di seluruh dunia. Jika ternyata apa yang telah Tuhan berikan kepada kita itu berakibat buruk terhadap keberlangsungan kehidupan manusia karena ulah manusia yang tidak bisa memaknai karunia Tuhan tersebut, bukankah sama saja kita tidak menghargai keberadaan-Nya. Seandainya saja kita bisa melihat dan mendengar mendengar langsung apa yang diperbuat dan dikatakan oleh Tuhan mungkin kita akan gemetar dan takut setengah hidup karena kemarahan-Nya atas perbuatan kita yang telah menyalahgunakan karunia-Nya.

Kalau kita (baca : para penganut agama) mau sedikit terbuka dan membuka diri barangkali kita akan menemukan kebodohan yang sering kita lakukan atas keyakinan kita. Kebodohan ini merupakan bagian usaha kita untuk memproteksi keyakinan kita terhadap kenyataan yang kadang kala tidak berpihak kepada kita. Dengan segala konsep dan hukum yang kita “adakan” akhirnya kenyataan tersebut bisa kita alihkan dan berpihak mengikuti kita walaupun harus menentang “hukum alam yang sebenarnya”.

Bertolak dari fenomena tersebut ada baiknya kita cermati apa yang menjadi konsepsi dari para budayawan yang menyatakan bahwa agama adalah sebagai sebuah kontruksi budaya. Artinya, agama tidak lebih dari sekedar pengembangan daya cipta, rasa dan karsa manusia yang kemudian diterima sebagai sebuah ajaran luhur yang dikuti secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Sebagai sebuah pengembangan daya cipta, rasa dan karsa manusia, maka menurut teori budaya tidak ada konsepsi dalam agama yang sifatnya kaku. Dari masa ke masa akan selalu ada perkembangan dalam bidang keagamaan. Dan memang sebagaimana kata orang-orang bijak yang abadi di dunia ini adalah perubahan.

Kendati demikian konsepsi para ahli budaya itu tidak diterima sepenuhnya oleh para agamawan, mengingat agama adalah sesuatu yang sakral dan merupakan ajaran yang secara langsung diturunkan oleh Tuhan kepada umat-Nya untuk mengarungi lautan kehidupan di dunia fana ini. Ajaran-ajaran itu kemudian dibukukan ke dalam bentuk “kitab yang mereka sucikan”. Isi kitab itulah mereka yakini sebagai aturan atau hukum-hukum suci yang mutlak harus dipatuhi dan diakui kebenarannya tanpa syarat apa pun.

Keyakinan yang demikian itu tentu tidak salah, karena menurut kepercayaan mereka agama turun dari langit. Akan tetapi, jika agama yang dari langit itu diturunkan untuk kehidupan manusia di bumi sudah seharusnya agama “membumi” supaya dapat diterima oleh manusia.

Manusia adalah makhluk yang selalu menuntut perubahan. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dari bulan ke tahun dan seterusnya manusia akan selalu berupaya untuk berubah. Perubahan pada kehidupan manusia secara otomatis harus dikuti oleh “agama” itu sendiri. Karena pada hakikatnya agama adalah untuk manusia, bukan manusia untuk agama. Dan penegasan ini sesungguhnya merupakan perpanjangan arti bahwa Tuhan ada untuk manusia, bukan manusia untuk Tuhan. Dan memang Tuhan sepenuhnya Tuhan tidak membutuhkan manusia sama sekali, sebaliknya manusia selalu membutuhkan Tuhan apalagi di saat-saat ia menghadapi kenyataan kelemahan dirinya. Atau dalam sebuah ungkapan kata disebutkan, “Tuhan bukanlah apa-apa. Manusialah yang mengapa-apakanNya karena apa-apa yang diinginkan manusia”.

Ungkapan itu memang agak ekstrim, akan tetapi makna di balik ungkapan tersebut sebenarnya begitu dalam untuk dikaji. Bagi mereka yang belum bisa “terbuka dan membuka diri” sebaiknya abaikan ungkapan tersebut. Sedangkan bagi mereka yang mau “terbuka dan membuka diri” ada baiknya mencermati makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut.

Lebih jauh, secara ontologis semua agama bersumber pada Tuhan yang satu yang menjadi awal dan akhir dari seluruh kehidupan yang ada di alam semesta ini, karena kehidupan hanya ada dalam Tuhan dan di luar Tuhan tidak ada sama sekali kehidupan. Akan tetapi realitas kehidupan manusia yang banyak dengan segala macam peradabannya, dengan sendirinya akan memunculkan adanya pluralitas pemahaman dan pemikiran tentang agama itu sendiri. Sehingga agama yang bersumber dari Tuhan yang satu itu, karena diperuntukkan untuk manusia yang plural, maka niscaya agama menjadi sesuatu yang plural sesuai dengan ruang dan waktu dari keberadaan agama tersebut. Pluralitas ini terjadi secara internal dan eksternal. Secara internal dapat kita lihat pada satu agama saja banyak terdapat sekte dan aliran keagamaan. Sedangkan secara eksternal, kenyataannya di dunia ada berbagai macam agama. Oleh karenanya betapa pentingnya menghargai sebuah perbedaan. Perbedaan itu indah. Taman bunga yang asri adalah taman bunga yang di dalamnya terdapat berbagai macam jenis bunga atau tanaman. Menghargai perbedaan adalah nikmat tersendiri dalam merasakan keindahan serta mensyukuri karunia Tuhan.

Andaikata setiap pemeluk agama bisa menghargai perbedaan tersebut pertikaian, konflik dan perang atas nama agama sebagaimana yang telah disinggung di muka mungkin tidak akan pernah terjadi.

Bertolak dari ulasan tersebut di atas, sudah saatnya kita sebagai pemeluk agama saling menghindari sikap memonopoli Tuhan kita beserta ajaran-ajaranNya, membedakan masyarakat menurut legitimasi “agama”, tertutup untuk mengadakan “rekonsiliasi” antar penganut beragama. Sebaliknya kita harus mulai membuka diri untuk saling menerima, menghormati dan melupakan  dendam masa lalu yang hanya akan membawa kekacauan, kehancuran dan penderitaan. Untuk itulah kita harus mengubah haluan tentang Tuhan  yang hanya ada dalam pura, gereja, masjid, vihara, kuil, klenteng dan lain-lain, dengan haluan baru tentang pura, gereja, masjid, vihara, kuil, klenteng dan sebagainya yang kesemuanya itu ada dalam Tuhan.

 


Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Raditya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: