PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

Purwa Wacana




ॐ स्वस्त्यस्तु

Puja dan puji astuti senantiasa kami panjatkan kepada Sang Hyang Widdhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan wara nugrahaNya sehingga Pembentukan Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara selanjutnya disingkat PANDU NUSA sebagai organisasi profesi Guru Pendidikan Agama dan Keagamaan Hindu di Indonesia dapat terwujud.

Profesi bukan sekedar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu perkerjaan khusus yang mempunyai ciri-ciri, keahlian, tanggung jawab dan rasa kejawatan. Organisasi profesi merupakan suatu wadah tempat para anggota professional tersebut menggabungkan diri dari mendapatkan perlindungan.

Dengan demikian organisasi profesi guru dapat didefinisikan sebagai berikut: Suatu koordinasi secara rasional kegiatan sejumlah orang (guru) untuk mencapai tujuan (pendidikan) bersama yang dirumuskan secara eksplisit, melalui pengaturan (kode etik) dan pembagian kerja serta melalui hierarki kekuasaan dan tanggung jawab professional.

Di Indonesia, istilah organisasi sebagai suatu wadah profesi sering digunakan istilah lain seperti ikatan, persatuan, asosiasi, serikat, dan sebagainya. Hal ini dapat kita lihat berbagai penggabungan dan sebagainya.

Dalam bidang pendidikan, kita mengenal seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Ikatan Sarjana Administrasi Pendidikan (ISAPI), Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI), dan masih banyak lagi organisasi lain yang memiliki ciri yang sama.

Guru dalam konteks sosial di negeri ini merupakan massa riil tersendiri dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Persepsi ini semakin kuat mengingat elemen massa ini berbasis kecerdasan bukan layaknya massa di jenjang akar rumput lainnya. Keberadaan guru dalam setiap peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sangat dibutuhkan. Lebih-lebih gelar yang disandang oleh para guru saat ini yang diharapkan menjadi agent of change.

Menelisik  keberadaan kesadaran berorganisasi dalam menjalankan profesinya, kami meyakini bahwa guru di negeri ini memiliki kapabilitas sangat memadai untuk mengelola sebuah organisasi profesi. Bukannya mengecilkan arti organisasi lain, jika sebuah komunitas dengan tingkat pendidikan tidak memadai mampu mengelola organisasi dan memiliki posisi tawar tinggi, keberadaan organisasi hasil bentukan guru akan memberikan efek luar biasa tidak sekadar mengajukan tuntutan kebutuhan primer semata.

Guru sendiri pada hakikatnya juga mengetahui bagaimanakah perjuangan dilakukan secara “bersama-sama“ akan menuai hasil menggembirakan dibandingkan perjuangan individual. Organisasi Profesi Keguruan di Indonesia yang pertama kali dibentuk adalah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang dibentuk pada tanggal 25 November 1945 dalam kongres guru Indonesia di Surakarta. PGRI sebagai organisasi professional keguruan memiliki peranan dan tanggung jawab menjaga, memelihara, dan mengembangkan profesi keguruan. Namun seiring dengan berjalannya waktu di era selanjutnya banyak muncul organisasi yang berlatar belakang profesi guru selain PGRI di negeri ini misalnya: Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI), menyusul Forum Guru Independen Indonesia (FGII),  dan tak kalah pentingnya IGI (Ikatan Guru Indonesia). Disamping barisan indah kelompok berbasis guru diatas dalam perspektif beberapa saat silam ditemui pula  Oganisasi Guru Honorer di Solo (Soetapawibakso) hingga Forum Guru Bantu. Beragamnya organisasi berlatar belakang guru bersangkutan membuktikan betapa guru mengisi ceruk pasar tersendiri pada hakikat sebuah organisasi profesi. Reposisi peran organisasi profesi guru mutlak diperlukan agar tidak dijumpai pengerdilan peran intelektual seorang guru disebabkan karut-marut organisasi guru yang sebenarnya berpangkal pada egoisme sempit beberapa oknum didalamnya.

Guru Agama Hindu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Guru di Indonesia memiliki peran yang amat besar dalam mengembangkan sistem pendidikan agama dan keagamaan Hindu. Peneguhan idealisme guru Agama Hindu dalam sebuah wadah profesi tersendiri menjadi sangat penting mengingat hampir sebagian besar organisasi profesi guru di Indonesia belum mampu memperjuangkan ide dan cita-cita yang diharapkan oleh sebagian besar guru Agama Hindu di Indonesia. Selain itu masalah pendidikan agama dan keagamaan Hindu tidak akan mungkin dijadikan sebagai acuan utama bagi organisasi profesi guru yang bersifat umum.

Guru Agama Hindu di sini tidak hanya diartikan sebagai Guru Pendidikan Agama Hindu di sekolah saja, namun juga mencakup Guru-guru yang mengajar di Pasraman, baik yang formal maupun non formal. Tentu hak-hak mereka semua, ide, dan tujuan mereka harus mendapat pengawalan dari sebuah organisasi profesi yang tidak mungkin itu akan dilakukan oleh organisasi seperti PGRI, IGI, PGSI, dan sebagainya.

Sekitar pertengahan tahun 2016 lalu kami bersama guru-guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Hindu (KKG-PAH) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu (MGMP-PAH) di seluruh wilayah Indonesia telah membuat grup bernama Forum Komunikasi Guru Agama Hindu Nusantara. Antusiasme guru Agama Hindu dari seluruh Indonesia untuk masuk ke grup cukup besar hingga dari admin kewalahan bahkan ada beberapa anggota yang terpaksa dikeluarkan agar bisa menampung perwakilan dari 33 provinsi (belum termasuk kabupaten/kota) yang di Indonesia. Mengingat jumlah maksimal anggota yang bisa ditampung hanya 256 orang saja. Awalnya grup ini hanya grup sharing tentang agama saja, namun atas banyaknya permintaan dari sebagian besar anggota untuk mendirikan organisasi guru agama Hindu, maka pada awal tahun 2017 lalu kami telah membentuk tim Persiapan Pembentukan Asosiasi Guru Agama Hindu Indonesia.

Lebih-lebih setelah kami mendapat informasi bahwa Dirjen Bimas Hindu juga telah menerbitkan Keputusan Dirjen Bimas Hindu Nomor DJ.V/45/2015 tentang Pembentukan dan Penetapan Personalia Pengurus Asosiasi Dosen Hindu Indonesia. Maka kami bersama teman-teman KKG-PAH dan MGMP-PAH dari seluruh Indonesia semakin memantabkan diri untuk melanjutkan rencana perjuangan kami guna terbentuknya Asosiasi Guru Agama Hindu Indonesia.

Untuk itu pada pertengahan Januari 2017, kami telah membentuk tim SC Persiapan Pembentukan Asosiasi Guru Agama Hindu Indonesia sejumlah 30 orang yang personalianya sebagian besar merupakan perwakilan KKG-PAH/MGMP-PAH dari provinsi-provinsi di Indonesia. Kemudian melalui grup tersendiri, kami telah melakukan perbincangan, diskusi, dan musyawarah yang kami lakukan dengan mode dalam jaringan (daring). Rapat Dalam Jaringan (Radar) pun telah beberapa kali kami laksanakan. Akhirnya tercapailah sebuah kesepakatan untuk membentuk Asosiasi Guru Agama Hindu Indonesia disingkat Agraha. Dalam Kamus Sanskrit-English Monier-William disebutkan bahwa kata Agraha (अग्रह) adalah kata Sanskerta yang berarti masa setelah Grhastha (Wanaprastha/Bhiksuka), brahmana, menunjuk pada gunung, dan sebagainya. Pemilihan nama ini pun sudah menjadi kesepakatan dari seluruh Tim SC.

Namun demikian pendaftaran AGRAHA ke Kemenkumham RI terganjal pada masalah nama organisasi. Kemudian setelah dirapatkan melalui RADAR, akhirnya disepakati nama organisasi Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara (Pandu Nusa). Dengan kegigihan Tim SC Pandu Nusa akhirnya terwujudlah organisasi Pandu Nusa yang berbadan hukum dan telah disahkan melalui SK KEMENKUMHAM RI Nomor: AHU-0009098.AH.01.07 Tahun 2017.

Updated: 3 April 2018 — 02:22

2 Comments

Add a Comment
  1. Om Svastyastu mantab Mas, tolong sekalian buat website Pandu Nusa nggih
    Jayalah Pandu Nusa, sejahteralah guru Hindu Nusantara

    1. matur nuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: