PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

Ujian Sebagai Barometer Disiplin

Ujian Sebagai Barometer Disiplin

Om Swastiastu,
Suksma kita haturkan pada Sang Hyang Widhi sebagai pemilik kehidupan, atas waranugrahnya karya ini dapat menjadi penuntun.
Belakangan ini mendengar kata Ujian seperti sebuah hukuman mati yang dijatuhkan karena kesalahan besar. Banyak yang memilih jalan singkat dengan mencari bocoran, menggunakan joki, serta yang lain. sebagian yang berpikir positif mengadakan pendekatan dengan Sang Hyang Widhi dengan melakukan persembahyangan, bahkan sampe mesesangi (memohon kepada Sang Hyang Widhi dengan perjanjian jika dikabulkan akan memberikan imbalan).

Ujian mampu menjadikan kita bernegosiasi dengan Sang Hyang Widhi bahkan membuat kontrak (MoU) agar permohonan dikabulkan. Penomena yang demikian tentu menjadi keprihatinan bagi semua pihak termasuk guru sebagai agen of change. Ada apa dengan pola pikir pelajar saat ini sehingga ketika mendengar kata ujian mampu meluluh lantahkan pertahanan percaya dirinya.
Ujian bukanlah sebuah pertempuran antara hidup dan mati bagi seorang pelajar, namun sebagai bentuk pemetaan kedisiplinan pelajar selama menuntut ilmu pengetahuan. Disiplin merupakan bentuk konsen pelajar dalam menggapai tujuan utama sebagai pelajar.
Agama Hindu mengajar bahwa proses kehidupan secara alami melalui empat tahapan kehidupan, seperti tahap belajar, berkeluarga, mengendalikan keinginan dan tahap melakukan pelayanan (Catur Asrama). Tahap belajar merupakan tahapan yang patut dilewati oleh setiap manusia yang lahir ke dunia. Tahap belajar tujuan utamanya mendapatkan pengetahuan yang benar agar tercapai kebahagian.
Seorang pelajar dalam menggapai ilmu pengetahuan yang benar tentu melewati berbagai ujian-ujian dan evaluasi-evaluasi sehingga dapat melanjutkan tahapan-tahapan berikutnya. Dalam purana telah diceritakan sebuah cerita menarik bagaimana seorang guru memberikan ujian kepada peserta didiknya agar ilmu yang akan diajarkan tepat guna dan mampu diajarkan kepada yang lain dengan baik.
Ujian yang diberikan guru kepada peserta didiknya bukan sebagai momok menakutkan namun disambut dengan kedisiplinan yang tinggi oleh muridnya. Kedisiplinan muridnya terhadap tugas yang diberikan mengakibatkan murid tersebut dapat mencapai pengetahuan yang diharpakan. Kedisiplinan dan kepatuhan murinya sekaligus sebagai daksina (sebagai bentuk penghormatan), kepada guru yang telah memberikan pengetahuan.
Seorang pelajar yang memahami swadharma tentu akan melakukan disiplin diri dalam menuntut ilmu. Salah satu cara mendapatkan pengetahuan dengan membaca buku-buku, menulis atau melakukan ringkasan materi, mendengar pelajaran dengan baik dan melatih soal-soal sehingga pengetahuan meresap dalam ingatan kita.
Secara umum mulai memasuki sekolah akan diadakan semacam tes awal dan diakhiri dengan tes akhir. Secara rohani dalam ajaran agama Hindu juga melakukan proses seperti pada umumnya. Sebelum memasukan masa Brahmacari seorang calon sisya akan diadakan upacara Upanayana (upacara untuk mempersiapkan diri secara spiritual siap menerima pengetahuan), ketika seseorang telah diupacara Upanayana tentu sudah selalu ingat akan Sang Hyang Widhi sebagai penguasa pengetahuan dengan gelar beliau Dewi Saraswati, setiap saat sebelum memulai belajar kita wajib memohon Inspirasi kehadapan beliau (OM Ano Badrah Kertawo Yantu Wiswatah) dan (OM Saraswati Nama Stubyam, Warade Kama Rupini, Widya Rambham Karisyami, Sidhirbawa Tume Sada). Berdoa kepada sang pemilik pengetahuan menjadi kedisiplinan utama agar dapat pengetahuan dan usaha dengan melakukan hal berikut; membaca, menulis, mendengar, dan melatih, diakhir masa menuntut ilmu pengetahuan melaksanakan upacara Samawartana (upacara pengukuhan telah selesai belajar), sehingga apa yang dipelajari dapat digunakan sebagai modal menjalani tahapan hidup berikutnya.
Jadi jangan pernah khawatir akan ujian, selama kita memahami swadharma sebagai pelajar, maka menghadapi ujian sebagai sebuah barometer kedisiplinan sang pelajar.
Om Santih Santih Santih Om

Oleh: Komang Susila (Sekjen PP Pandu Nusa)

Updated: 28 April 2018 — 18:26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: