PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

SARASVATĪ DALAM VEDA DAN SUSASTRA HINDU RELEVANSINYA DEWASA INI

ॐ सरस्वती नमोस्तुभ्यं वरदे काम रूपिनी । सिद्धिराम्भ करिस्यामि सिद्धिर्भवन्तु मेसदा ॥
Sarasvatīstava 1

(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai dewi Saravatī, pemberi berkah, wujud kasih
bagai seorang ibu sangat didambakan didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karunia-Mu).

Pendahuluan

Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Mahaesa. Demikian pula Tuhan Yang Mahaesa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia, untuk kepentingan Bhakti, Tuhan yang Mahaesa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berperibadi (personal God). Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Mahaesa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahtraan umat manusia.

Di dalam Teologi Hindu dikenal adanya tiga manifestasi utama tuhan Yang Mahaesa yaitu : brahma sebagai pencipta alam semesta beserta isinya, Viṣṇu sebagai pemelihara dan Śiva sebagai pelebur kembali alam semesta berserta segala isinya. Demikian masing-masing manifestasi utama ini memiliki sakti atau power sebagai aspek femininum Tuhan Yang Mahaesa. Brahma saktinya Sarasvatī, Viṣṇu saktinya Śrī atau Lakṣmī dan Śiva saktinya adalah Durgā atau Parvatī.

Seperti halnya di India, pemujaan kepada dewi Sarasvatī dilakukan setahun sekali, dikaitkan dengan upacara Śraddha Vijaya Daśami atau Durgāpūjā atau juga disebut hari. Dussera (Dasahara/terbunuhnya Ravana), maka umat Hindu di Indonesia juga memuja dewi Sarasvatī setahun dua kali, yakni setiap 210 hari sekali menurut perhitungan kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Pada hari ini seluruh umat Hindu melakukan pemujaan yang dimulai sejak matahari terbit di pagi hari.

Arti kata Sarasvatī

Kata Sarasvatī dalam bahasa Sanskerta dari urat kata सृ yang artinya mengalir. Sarasvatī berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam, barangkali karena posisi air selalu menuju ke bawah (Macdonell & Keith II,1982 : 432). Kata Sarasvatī ini dapat dihubungkan dengan Haraihvati dalam bahasa Iran. Di dalam Avesta Aban Yasht (5.3) अरेद्वी, सुरा dan अनाहिता adalah tiga sebutan untuk Haraihvati. Ketiga kata tersebut masing-masing sangat dekat dengan bahasa bahasa Sanskerta berikut: आर्दुकि artinya ramah, lembut atau आर्द्रिका artinya lembab, sūrā artinya kuat atau pahlawan dan अनाहिता yang artinya bersih tanpa noda. Walaupun ketiga kata-kata tersebut tidak dijumpai dalam Ṛgveda untuk menujukkan Saravatī namun masing-masing masih tersimpan dalam refleksi kata-kata berikut yakni ऋतावरी, वीरपत्नी dan शुभ्रा yang menurut Yāska masing- masing berarti : ramah, lembab dan penuh dengan air (Raghunath,1977 : 1).

Selanjutnya menurut Yāska dalam kitabnya Nirukta (II.23) secara tegas menyatakan bahwa terdapat dua tipe mantra yang berhubungan dengan Saravatī yaitu : mantra-mantra yang menyatakan Sarasvatī sebagai sungai dan mantra-mantra yang menunjukkan sebagai dewi (Lakshman Sarup,1984 : 34). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Sarasvatī adalah devatā, yakni dewi sungai yang nantinya adalah dewi Vāk atau dewi kebijaksanaan, devatā yang menyucikan (पावका) dan lain-lain.Selanjutnya di dalam kitab – kitab Purāṇa disebutkan berbagai nama (abhiseka) untuk dewi Sarasvatī antara lain: वाछ्, वाग्देवी, भारती, शारदा, वागीश्वरी, वीणापाणी dan lain-lain dan umat Hindu senantiasa memujanya terutama pada hari Sarasvatīpūjā juga pada saat seorang anak didik mulai diterima di sekolah.

Saravatī dalam Veda

Sarasvatī sebagai dewi sungai

Di dalam Ṛgveda, Sarasvatī dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh ṛc atau mantra pujaan. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap dewa Viśvedevah, di samping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvat. Sarasvatī senantiasa dipuja oleh pencinta – pencinta Veda ( termasuk susastranya ). Kadang – kadang beberapa sifat disamakan dengan dewi-dewi Veda yang lain baik berdiri sendiri maupun dalam kaitannya dengan dewa-dewi secara berkelompok. Sarasvatī dipuja dalam berbagai aspeknya oleh para mahāṛṣi jaman Veda sampai jaman tumbuhnya susastra Hindu seperti ditulisnya kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa.

Di dalam beberapa mantra seperti Taittirīya Saýhitā VII. 2. 4, Pañcaviýsa Brāhmaṇa XXV.10.1., Kauṣtakī Brāhmaṇa XII.2.3., Śatapatha Brāhmaṇa I.4.1.14., Aitareya Brāhmaṇa II.19.1.2., juga dalam Atharvaveda VI.30.l., yang merupakan mantra-mantra yang turun belakangan, seperti pula Ṛgveda, yang dimaksud dengan Sarasvatī adalah nama sungai tertentu, yakni sungai Sarasvatī yang kini bekasnya masih ada, namun telah lenyap di tutup oleh gurun di Patiala, Negara Bagian Punjab. Di dalam Pañcaviýsa Brāhmaṇa IX.3.2., IX.65.12., IX.99.1. disebut dengan nama Vinaśana yang artinya : yang telah lenyap. Prof. Roth meyakini bahwa sungai Sarasvatī inilah yang dimaksud dalam kitab suci Ṛgveda. Bersamaan dengan disebutnya sungai Sarasvatī, disebut pula nama sungai Dṛṣadvatī (kini mengalir di sebelah Timur kota Thanesar) yang merupakan batas sebelah Barat wilayah yang bernama Brāhmāvarta yang menurut Manavadharmaśāstra II.21., adalah wilayah di sebelah Selatan pegunungan Hīmālaya, di sebelah Utara pegunungan Vindhya, di sebelah Timur adalah sungai Sarasvatī yang kemudian menyatu dengan sungai Yamunā dan sungai Yamunāpun akhirnya menyatu denga sungai Gaṅgā,tempatnya kini di kota suci Prayaga (Allahabad). Sungai Sarasvatī diyakini sebagai sungai yang sangat suci pada jaman Veda Kuno. Di dalam kitab-kitab Sūtra seperti Kātyāyana Śrautasūtra XII.3.20., XXIV.6.22.,Lātyāyana Śrautasūtra X.15.1., X.18.13., X.19.4, Aśvalāyana Śrautasūtra XII.6.2.33.,Śāṅkhāyana Śrautasūtra XIII.29. menyebutkan tepi sungai Sarasvatī diyakini sangat penting dan suci sebagai tempat berlangsungnya upacara Yajña.

Dalam berbagai mantra Ṛgveda dan juga mantra-mantra dalam berbagai kitab Saýhitā yang belakang menyebutkan nama sungai yang lain, yaitu Sindhū (Indus) namun yang paling dianggap suci adalah sungai Sarasvatī yang disebut juga ‘nadītama’ (Ṛgveda VI.61.2, 8., VII.96.2) dan juga menyebutkan sungai ini lebar dan di sepanjang tepi sungai itu banyak raja-raja bermukim termasuk juga lima jenis penduduk asli (Pañcajana). Pendapat ini didukung oleh banyak sarjana terkenal termasuk juga Zimmer (Macdonell & Keith,II.435).

Lessen dan Max Muller menyatakan pendiriannya bahwa sungai Sarasvatī dalam Veda kuna itu adalah sungai Sarsunī dewasa ini yang tempatnya di sebelah Barat Thanesar yang sudah lenyap ditenggelamkan oleh gurun pasir yang dapat ditelusuri melalui salah satu pertemuan dengan sungai Sindhū. di dalam Yajuveda, Vājasaneyi Sāýhitā XXXIV.11 dinyatakan bahwa 5 sungai mengalir dan menyatu dengan sungai Sarasvatī, namun tidak dijelaskan apakah lima sungai itu adalah 5 aliran sungai di Punjab (Ibid : 43).

Sarasvatī diyakini sebagai dewi sungai di samping juga sebagai dewi penguasa atmosfir, seperti pula halnya Sarasvat, yang juga diyakini sebagai dewa sungai. Sarasvat adalah bentuk masculinum dari Sarasvatī yang faungsinya sama, yakni sebagai dewi atmosfir yang menurunkan hujan, dilain pihak diyakini sebagai sungai yang mengalir di dataran.

Sarasvatī sebagai dewi Vāk

Sarasvatī diidentikan sebagai dewi Vāk secara tegas dinyatakan pada susastra Veda yang kemudian, tetapi para sarjana berkeyakinan bahwa pada Ṛgveda sudah menemukan abhiseka ini. Dr. Raghunath Airi dalam bukunya Concept of Sarasvatī in Vedic Literature, menyatakan bahwa ia tidak menemukan identifikasi Sarasvatī dengan dewi Vāk dalam Ṛgveda. Menurut penelitiannya dewi Vākir di dalam Ṛgveda berbeda jelas dengan Sarasvatī. Dua perwujudan dewi Vāk di dalam Ṛgveda, yaitu: Pertama, Vāk adalah ucapan yang berasal dari para mahāṛṣi agung ketika menyelenggarakan Yajña. Dalam bentuk mantram hal itu dinyatakan oleh Bṛhaspati. Di sini Vāk berarti hukum suci (holy order). Dewi Vāk adalah suara yang muncul dari awal penciptaan. Kedua, Vāk adalah suara angkasa, berkaitan dengan dewa Indra dan Marut. Vāk disebut sebagai ratu dari para dewa, yang menganugrahkan kegembiraan bagi para pemujanya dengan mencurahkan hujan untuk kemakmuran mereka. Vāk adalah suara angkasa dan petir. Suara Sorga adalah asal atau sumber dari suara berbagai jenis binatang (1977:38).

Identifikasi Sarasvatī sebagai dewiVāk menurut hemat kami kiranya disebabkan fungsi Sarasvatī yang menyucikan penyembahnya sama halnya dengan angkasa atau suara angkasa yang akan menurunkan hujan dan turunnnya air hujan mencerahkan langit dan membersihkan serta menyuburtkan pepohonan dan bumi tempat umat manusia dan semua mahluk hidup dan berkembang biak.

Selanjutnya marilah kita tinjau beberapa abhisekanāma atau gelaran yang ditujukan kepada Sarasvatī, di antaranya sebagai berikut :

  1. सुयमा (RV.IX.8l.4) yang artinya (menurut Wilson) yang sangat cantik.
  2. शुभ्रा (RV.IV.42.12) yang berbusana putih( Israil Khan 1978 : 31)
  3. पावका (RV. I.3.10) yang artinya yang menyucikan penyembahnya.
  4. धीयवासु (RV.I.3.10), yang kaya di dalam kebaktian.
  5. चोदयत्री सूनृतानां (RV.I.3.11), yang mendorong untuk berbicara benar.
  6. चेतन्ती सुमतीनां (RV.I.3.11), yang memberi inspirasi untuk berpikiran luhur.
  7. अम्भितमा (RV II.41.16), ibu yang sangat baik.
  8. सिन्धूमाता (VII.36.60, ibu bagi segala air.
  9. वीरपत्नी (RV VI.49.7), istri pahlawan (Brahma/Prajapati).
  10. मरुत्वती (RV II.30.8), istri dari Indra.
  11. पावीरवी (RV VI.49.7., X.65.13), yang menyucikan.
  12. मरुत्सखा (RV VII.61.14), sahabat para Marut.
  13. चित्रयूः (RV.VI.49.7) yang mengaruniai anugrah kebahagiaan.

Di samping abhisekanāma tersebut di atas, Sarasvatī disebut memiliki berbagai fungsi atau peranan, antara lain :

  1. Saravatī penganugrah kekayaan (RV. I.164.49).
  2. Sarasvatī penganugrah kegembiraan (RV. I.13.9., V.5.8).
  3. Sarasvati penganugrah keturunan (RV. VI.6l.1).
  4. Sarasvati penganugrah makanan (RV. II.41.18.,VI.61.3).

Demikian antara lain sepintas penggambaran Sarasvati di dalam Veda khususnya kitab Ṛgveda Saýhitā, sedang dalam Saýhitā-Saýhitā berikutnya penggambaran Sarasvatī sebagai dewi kebijaksanaan seemakin jelas dan akan lebih jelas lagi di dalam kitab-kitab susastra Hindu seperti kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa.

Sarasvatī di dalam kitab-kitab Purāṇa

Seperti halnya di dalam kitab suci Veda, di dalam kitab-kitab Purāṇapun Sarasvatī dikenal sebagai nama ( devi ) sungai maupun sebagaewi kebijaksanaan dan yang terakhir ini lebih populer dan digambarkan secara rinci. Tentang asal-usul atau kelahiran dewi Sarasvatī digambarkan dalam kitab-kitab Purāṇa antara lain : Brahmavaivarta, Matsya, Padma, Vayu dan Brahmāṇḍa Purāṇa dari dengan versi yang beda-beda, yang pada prinsipnya ia adalah sakti dari dewa Brahmā dan muncul ketika dewa Brahma atau Prajapati mencipatakan alam semesta ini. Di dalam Brahmavaivarta Purāṇa dinyatakan bahwa Sarasvatī keluar dari mulut Paramātman (BvP.I.3.54-57). Di sini diidentifikasi Paramātman sebagai Brahman dan Sarasvatī sebagai Mūlaprakṛti atau Śakti Brahman. Kitab Brahmavaivarta Purāṇa menjelaskan terori terjadainya alam semesta sesuai dengan teori filsafat Sāṅkhya.

Menurut versi Matsya Purāṇa Sarasvatī muncul dari dewa Brahmā, pencipta alam semesta, dari mulut-Nya disabdakan mantra suci Veda dan śāstra (MP. III.2-4). setelah itu dari pikiran-Nya muncul sepuluh putra, yaitu : Marīci, Atri, Aṅgirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Praceta, Vasiṣṭha, Bhṛgu dan Nārada (MP.III.5-8). Dengan terciptanya semua itu Brahmā rupanya belum terpuaskan dan selanjutnya berkeinginan menciptakan lagi. Kemudian ia memanggil Sāvitrī dan selang beberapa lama muncul Sāvitrī dari separoh badan dewa Brahmā dalam wujud dewi. Wujud dewi ini disebut juga Sarasvatī, Śatarūpā, Gāyatrī dan Brahmāṇī (MP.III.30-32).

Di dalam Brahmaṇḍa Purāṇa dinyatakan bhawa Mahālakṣmī sebagai dewi tertinggi yang identik dengan Paramātman dari pada-Nya muncul tiga dewatā, yaitu : Brahmā, Viṣṇu dan Maheśa, selanjutnya dari padanya pula muncul Saravatī, Lakṣmī dan Ambikā (BdP. IV.405).

Di dalam kitab – kitab Purāṇa digambarkan pula perwujudan dewi Sarasvatī sebagai putri yang sangat cantik dengan warna kulit putih, bhuṣana (sari) dan hiasan yang dikenakanpun berwarna serba putih (Israil Khan, 1978 : 118) sedang dalam kitab-kitab yang belakangan terutama yang bersifat Tantrik warna dewi Sarasvatī kadang-kadang digambarkan agak kehitam-hitaman (śyāmā) barang kali digambarkan sebagai dewi yang berusia muda, atau berwarna kebiru-biruan (nīlasarasvatī) dan tangannya memegang bunga teratai berwarna biru.

Lebih jauh di dalam kitab-kitab Purana disebutkan kendaraan dewi Sarasvatī adalah angsa (haýsā). Di dalam Matsya Purāṇa disebut duduk diatas padma “kamalāsana” (MP CCLX.40) atau duduk di atas seekor angsa “haýsādhiruḍha”(Ibid. CCLXI.25). Di samping itu juga disebutkan juga burung merak sebagai kendaraan-Nya(Ibid 122).

Selanjutnya tentang pengarcaan dewi Sarasvatī secara rinci digambarkan dalam Agni Purāṇa XLIX di samping arca dewa Brahmā dan Sāvitrī. Uraian penggambaran arca ini mencakup perwajahan, sikap tangan, jumlah tangan, posisi duduk atau berdiri serta berbagai atribut yang dibawa oleh dewi Sarasvatī. Ketentuan tentang pengarcaan dewa-dewa atau dewi-dewi diatur dalam kitab-kitab Śilparatna dan Śilpśāstra.

Sarasvatī dalam kitab-kitab Itihāsa

Di dalam kitab-kitab Itihāsa penggambaran dewi Sarasvatī hampir sama dengan kitab-kitan Purāṇa. Di dalam Rāmāyaṇa Vāmīki, pada bagian Uttara Kāṇḍa disebutkan bahwa Kumbhakarna ketika memohon anugrah kepada dewa Brahmā, Sarasvatī menyelinap ke dalam lidah Kumbhakarṇa dan mengakibatkan salah ucap, yakni ia memohon tidur terus sepanjang tahun (X.45). Di dalam Mahābhārata, Sabhāparva VII.19 dinyatakan bahwa Sarasvatī memancarkan cahaya yang gemerlapan tiada hentinya di keraton dewa Indra. Di dalam Mahābhārata,Vanaparva CLXXXVI ,5-16 dijelaskan bahwa dewi Sarasvatī muncul dihadapan seorang mahāṛṣi bernama Tārkṣya dan memberi wejangan pada mahāṛṣi ini tentang hakekat dana punia utamanya dana punia berwujud lembu atau emas. Di dalam Mahābhārata, Karṇaparva disebutkan ketika Tripuradahana (terbakarnya kota Tripura), Sarasvatī menyediakan dirinya sebagai tempat melintas keretanya dewa Śiva (XXXIV.34) sedang di dalam Śāntiparva diuraikan pada suatu hari mahāṛṣi Yajñavakya merenungkan dewi Sarasvatī, tiba-tiba dewi ini muncul di hadapannya mengenakan perhiasan berupa huruf śvara dan vyañjana dan menyuarakan Oýkāra.

Sarasvatī dalam susastra Hindu di Indonesia

Tentang Sarasvatī di Indonesia telah dikaji oleh Dr. C. Hooykaas dalam bukunya Āgama Tīrtha, Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah, yaitu : Stuti, Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Sarasvatī di Bali dipuja dengan perantaraan stuti, stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan). Apabila seorang pamangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati, ia mengucapkan dua bait mantra berikut:

ॐ सरस्वती नमस्तुभ्यं वरदे काम रूपिनि । सिद्धिराम्भ करिस्यामि सिद्धिर्भन्तु मे सदा ॥

प्रनम्य सर्व देवंश्च परमात्मनमेव च । रूप सिद्धि प्रयुक्त य सरवस्ती नमाम्यहम् ॥

Sarasavatī 1-2.
(Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu sebagai dewi Sarasvatī,pemberi berkah, wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Semoga segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karunia-Mu. Setelah hamba memuja seluruh dewata dan juga dewata tertinggi/Paramātma/ Parama Śiva, kami memuja Sarasvatī, yang maha cantik yang mendorong keberhasilan).

Mantra stuti di atas menujukan betapa tinggi kedudukan dewi Sarasvatī dan hal ini ditujukkan juga oleh bagian akhir kakawin Sarasvatīpūjā berikut :

Saṅ Hyaṅ Sarasvatī sira ta paṅastutiṇku, kembaṅ niṅ sugandhānumkar jenu sādhanaṅku, dhyāna samādhi japa mantra paṅastutiṅku, do iṅ maṅarcana kiteka sih Dewatāṅku. Apan kiteka vekas iṅ maṅuṅsi paṅawruh, salwir nikaṅ guṇa kabeh mārga niṅ wruh, yadyan tekeṅ kahuwusan wekas iṅ paṅawruh, kasādhyan sadenyacintya yaya tika weruh. Apan kiteka wekas iṅ kāraṇāji Dewī, aṅhiṅ kita sih anurāga paweha Devī, apan supa(?)guṇawan paṅawakan iṅ Dewi, kite pamastu winuwus kita wastu Dewī. Apan wiśesa kita ratna siddha mulya, sarwa (I) strī ya ana guṇa sarwa mulya, yadyan tiṅkah anak akombala sarwa mulya, mūlyanta nemu kapva viśesa mulya.

Kakavin Sarasvatī,Kirtya 1875,p.26.

(Sang Hyang Sarasvatī yang hamba puja, sarana pemujaan hamba adalah bunga yang berbau harum, juga melalui Dhyāna, Japa dan pengucapan mantra yang hamba lakukan,hanya untuk menyembah dewi Sarasvatī. Hakekatnya, hanyalah Engkau sebagai akhir dari ilmu pengetahuan. Berbagai karakter semuanya adalah jalan menuju Engkau,walaupun  telah diuraikan dalam berbagai ilmu pengetahuan, sesungguhnya untuk menemukan hakekat yang tertinggi, hakekat ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Engkaulah asal dari segala ilmu pengetahuan, hanya Engkaulah yang menganugrahkan pengetahuan yang  memberikan kebahagiaan. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada. Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia. Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia. Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia. karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu).

Selanjutnya dalam tutur, kita temukan Tutur Aji Sarasvatī dan pada tutur sering menyebutkan tiga serangkai : Guru Rekha, Sarasvatī dan Kavīsvara dan tiga serangkai ini dapat juga kita temukan dalam Dharma Pawayangan yang ketiganya dihubungkan dengan : Idep, Bayu dan Sabda dan ketiganya ini disebut Sang Hyang Tiga Jñana (Ibid, 1964 : 26). Bahasa Tutur umumnya adalah Jawa Tengahan atau Bali, sedang kakawin selalu menggunakan media bahasa Jawa Kuno dan Stuti, Stava atau Stotra mepergunakan bahasa Sanskerta.

Di dalam kakawin, dewi Sarasvatī disebut juga dengan Vāgīśvarī atau Dhatṛdevī dan dipuja pada manggala sebuah kakawin, seperti halnya Wṛttasañcaya I.1. Selanjutnya dalam kakawin Arjunawijaya ( I.5 – 2.6 ) disebutkan ketika Kumbhakarṇa melakukan tapa, dewa Brahmā akan mengabulkan permohonanya, saat ia akan ditanya, para dewa mendorong Sarasvatī , dewi Tutu Kata untuk memasuki lidahnya sehingga berlawanan dengan kemauannya, ia mohon agar dapat hidup selama 1000 tahun lamanya (Zoetmulder, 1983 : 410). Episode ini kita jumpai juga dalam bentuk prosa Jawa Kuno, yakni Utara Kāṇḍa (18b/Ibid : 97).

Demikian antara lain tentang Sarasvatī dalam susastra Hindu di Indonesia yang sebenarnya penggambarannya tidak jauh berbeda dengan Sarasvati dalam susastra Hindu yang menggunakan bahasa Sanskerta sebagai media seperti telah diuraikan dalam kitab-kitab Purāṇa dan Itihāsa tersebut di atas.

Makna penggambaran dewi Sarasvatī dan relevansinya dewasa ini

Penggambaran atau perwujudan dewa-dewa (juga dewi-dewi serta mahluk kadewataan lainnya) tidaklah hasil renungan, pelukisan khyalan dari pikiran seorang yang bersifat duniawi, melainkan berdasarkan pengalaman spiritual para mahāṛṣi yang disebut Darśanam. Seorang mahāṛṣi ketika melakukan meditasi memuja keagungan-Nya mendapatkan visi atau penglihatan gaib tentang dewa-dewa atau mahluk sorga itu. Mengingat seorang mahāṛṣi adalah juga seorang seniman, maka apa yang diperolehnya itu digambarkannya untuk memudahkan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Perwujudan atau penggambaran dewa-dewa dengan aneka atribut atau laksananya tentunya mampunyai makna simbolis yang bisa kaji melalui pendekatan teologis maupun filosofis. Untuk itu penulis mencoba mengkaji makna simbolis penggambaran dewi Sarasvatī yang amat cantik itu, sebagai berikut :

  1. Tubuh dan bhuṣana putih bersih dan berkilauan

Di dalam Brahmavaivarta Purāṇa dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Triguṇa,yaitu Sattva-guṇātmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakṛti. Warna putih ini tidak hanya melambangkan Prakṛti “Suddha-sattvasvarūpa” saja, namun mengandung makna psikologis. Bila ilmu pengetahuan muncul dari sifat Sattvam, beralasanlah bila dewi Sarasvatī berwarna dan berbhuṣana
serba putih. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvaý-jñānam.

  1. Caturbhuja : memiliki 4 tangan, memegang vīna, pustaka, akṣamālā dan kumbhāja.

Di dalam Skanda Purāṇa (VII.33.22) dinyatakan keempat tangan itu adalah Śrutilakṣanā yang mengandung makna sebagai perwujudan Śruti yang terdiri dari Caturveda  Saýhitā. Dengan gelaran sebagai “vīnapustakadhāriṇī” (BvP.II.1.35, II.2.55) menunjukkan bahwa masing-masing tangan itu memegang vīna (sejenis gitar), pustaka (kitab suci dan sastra)sedang di dalam Agni Purāṇa( L.16) dinyatakan di samping memegang vīna dan pustaka, juga memegang akṣamālā (tasbih) dan kumbhāja (bunga teratai).

Berdasarkan atas sumber-sumber kitab Purāṇa dan analisa para mahāṛṣi, atribut yang  dipegang oleh tangan dewi Sarasvatī masing-masing melambangkan : Vīna (di tangan kanan depan) melambangkan Ṛta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nada / melodi (nada-brahman) berupa Om. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. Akṣamālā ( di tangan kanan belakang ) melambangkan konsentrasi  atau meditasi dan lembaran-lembaran lontar(pustaka)melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusia tidak memiliki arti. Kainnya yang putih menunjukkan bahwa ilmu itu selalu putih, mengingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala, 1989 : 38).

  1. Vahana Sarasvatī digambarkan duduk di atas bunga teratai dengan kendaraan angsa atau merak. Bunga teratai. Angsa adalah sejenis unggas (burung) yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Monier Williams Monier menyatakan bahwa vahana (kendaraan) Brahmā digambarkan sebagai angsa yyang berarti jiwa yang agung (Supreme Soul) atau jiwa universal (Brahman) dan menurut Sāyana dalam menerjemahkan mantra Ṛgveda IV.40.5 menjelaskan kata haýsa dari han yang artinya : pergi, yaitu yang pergi menuju ke “keabadian”, beralasan pula kata ini berasal dariAhaý sa, aku adalah Dia /Brahman (Israil Khan, 1978 : 123).

Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam  dengan biji-bijian dari kebenaran ilmu pengetahuan,seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Kendaraan yang lain adalah seekor burung merak yang melambangkan egosime yang ditekan oleh kebijaksanaan (Shakuntala, 1989 : 38).

Demikian antara lain makna yang terkandung dalam simbol Sarasvatī yang akan semakin jelas dalam seni arca (iconography) sedang di Bali penggunaan gambar dewi Sarasvatī mulai nampak dijadikan media pemujaaan oleh kalangan siswa dan mahasiswa, di lain pihak, umat Hindu umumnya menjadikan lontar dan kitab suci sebagai media pemujaan di samping upakara atau sesajen.

Penutup

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Sarasvatī di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Dalam perkembangan selanjutnya, Sarasvatī adalah dewi Ucap, dewi yang memberikan inspirasi dan akhirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan.

Perwujudan dewi Sarasvatī sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Mahaesa adalah sumber ilmu pengetahuan, sumber wahyu Tuhan Yang Mahaesa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain, menunjukan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam.

Demikian semoga Sang Hyang Sarasvatī senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi, kejernihan pikiran serta kerahayuan yang di dambakan oleh setiap orang.

DAFTAR PUSTAKA

Hooykaas, C., 1964, Āgama Tīrtha, Five studies in Hindu Balinese Religion, N.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, Amsterdam.

Kakawin Sarasvatī : Manuskrip, Koleksi Gedung Kirtya No, 1875.

Khan, Israil, Mohammad, 1978, Sarasvatī in Sanskrit Literature, Crescent Publishing House, Ghaziabad, India.

Lakshman Sarup, 1984, The Nighantu and the Nirukta, Motilal Banarsidass, New Delhi.

Macdonell, A.A., 1981. Vedic Mythology, Motilal Banarsidass, New Delhi.

Macdonell,A.A.& Keith,A.B, 1982, Vedic index of Names and Subjects, Motilal Banarsidass, New Delhi.

Ragunath Airi, 1977, Concept of Sarasvatī, Munshiram Manoharlal, New Delhi.

Shakuntala, Jaganathan, 1989, Hinduism An Introduction, Vakil Veffers and Simon Ltd, Bombay.

Vettam Mani, 1989. The Puranic Encyclopaedia, Motilal Banarsidass, New Delhi.

Zoetmulder, P.J., 1983. Kalangwan, sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, jambatan, Jakarta.

 

Oleh: Drs. Marsaid, M.Pd.H. (Guru Agama Hindu SMAN 1 Tegaldlimo, Banyuwangi)

Updated: 20 May 2018 — 07:45

5 Comments

Add a Comment
  1. Right here is the right web site for anybody who hopes to understand this topic.
    You understand so much its almost tough to argue
    with you (not that I actually would want to…HaHa).
    You definitely put a new spin on a subject that has
    been discussed for decades. Excellent stuff, just great!

  2. Terimakasih atas Penjelasan dan Pencerahan nya tentang Dewi Sarasvati, Sungguh sangat berarti bagi saya untuk menambah wawasan dan ilmu Pengetahuan sehingga pada akhirnya menjadi tercerah kan, namun ada yang saya tanyakan dalam hal ini dimama saya bisa dapatkan Buku-Buku Purana seperti yang disebutkan dalam cerita di atas, mohon konfirmasi nya… Salam Rahayu

    1. Terima kasih bapak, semoga keberadaan Pandu Nusa bisa memberikan manfaat untuk umat. Jika bapak ingin mendapatkan buku-buku Purana versi terjemahan (sebagian besar diIndonesiakan dari terjemahan Bahasa Inggris) ada di Paramita. Namun jika ingin mendapatkan terjemahan dari Sanskertanya atau versi Sanskerta dan Indonesia sepengetahuan kami belum ada. Kami punya tim yang ahli Sanskerta dan punya koleksi Sastra dan Susatra Weda lengkap. Doakan saja semoga ada pihak yang mau membantu kami untuk penterjemahan kitab-kitab suci tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: