PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

PENDIDIKAN SEKS DALAM TEMBANG SLUKU-SLUKU BATHOK

Jawa sebagai pulau dengan warisan budaya yang adi luhung ternyata menyimpan berbagai misteri kehidupan yang hingga kini masih banyak yang belum tersingkap secara pasti. Walaupun sudah banyak kajian tentang budaya Jawa namun tidak sedikit dari kajian-kajian itu yang bersifat masih samar-samar dan kadang kala juga terkesan mengada-ada.

Sebagai contoh adalah kajian-kajian terhadap tembang dolanan Jawa yang pada jaman dahulu dicipta atau digarap untuk dapat dimainkan atau dinikmati oleh anak. Padahal dalam tembang tersebut terkandung pesan-pesan moral baik yang biasanya disajikan secara tersirat. Karena ada pengkaburan kajian makna tersebut maka pesan moral yang terkandung di dalamnya juga menjadi kabur (semu).

Konon menurut kajian-kajian yang sudah ada tembang dolanan tersebut diciptakan oleh para wali dan sering bahasanya dalam tembang-tembang dolanan tersebut “dimirib-miribkan” dengan bahasa Arab. Padahal itu semua hanya mengada-ada dan hampir tidak ada miribnya sama sekali. Mengingat induk bahasa Jawa bukanlah bahasa Arab melainkan bahasa Jawa Kuno yang kosakatanya lebih banyak diambilkan dari bahasa Sanskerta.

Salah satu tembang dolanan yang akan penulis kaji dalam tulisan ini adalah tembang dolanan yang berjudul “Sluku-sluku Bathok”. Pada jaman dahulu tembang ini sangat familiar di kalangan anak-anak di Jawa. Namun kini tembang dolanan ini seolah-olah lenyap ditelan Sang Kala. Adapun teks tembang yang berjudul Sluku-sluku Bathok tersebut adalah sebagai berikut: “Sluku-sluku bathok, bathoké éla-élo, si rama mênyang solo, lèh-olèhé payung motha, mak jênthit lolo lobah, wong mati ora obah, yèn obah medèni bocah, yèn urip golèka dhuwit”.

Kata-kata dalam tembang ini pun banyak dikait-kaitkan dengan bahasa Arab. Kalimat sluku-sluku bathok, bathoké éla-élo disebutkan berasal bahasa Arab ghuslughuslu bathnaka, bathnaka la ilaha illallah (mandikanlah batinmu, gunakan batinmu untuk berdzikir kepada Allah). Kata solo disebutkan berasal dari kata sholat. Kemudian kalimat lèh-olèhé payung motha disebutkan berasal dari bahasa Arab lailaha illalah hayyun mauta (dzikirlah pada Allah mumpung masih hidup). Padahal kenyataannya baik secara etimologis maupun fonologis kata-kata dalam tembang Sluku-sluku Bathok tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan para wali dan bahasa Arab sebagaimana disebutkan di atas. Mereka hanya memanfaatkan tembang dolanan tersebut untuk kepentingan dakwah walaupun dalam prosesnya mereka telah melakukan kebohongan publik dengan cara “prostitusi ilmiah”.

Menurut penulis, kajian semacam itu cenderung pada othak-athik gathuk kang ora mathuk (mengotak-atik tanpa otak sehingga salah atau tidak tepat). Bagi orang yang tidak mempunyai “otak Jawa” barang kali akan manut-manut saja dengan kajian tersebut.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya tembang Sluku-sluku Bathok mempunyai makna yang tersirat (sasmita). Makna ini terkait dengan ajaran tentang pendidikan seks dari para leluhur Jawa. Dalam tradisi kesusastraan Jawa, para leluhur Jawa sejak jaman Hindu memang sering menggunakan kata-kata yang tersirat untuk mengungkapkan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Begitu juga pada tembang Sluku-sluku Bathok tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai makna tersiratnya, berikut penjelasan kata per kata dari tembang tersebut.

Sluku berasal dari kata Jawa Kuno asluk (sêluk) yang berarti menonjol atau tersembul (ini adalah gambaran dari phallus/alat kelamin pria). Bathok adalah tempurung kelapa yang biasanya disigar (dibelah) dua untuk mainan anak-anak atau untuk tempat mencetak gula merah. Bathok ini merupakan simbol vagina (alat kelamin wanita). Bathoké (simbol kewanitaan tersebut) éla-élo (ikut atau menurut saja pada si rama. Kata rama adalah panggilan untuk ayah atau orang yang sudah beristri/berputra. Kata solo atau biasa ditulis sala berasal dari kata Sanskerta sālā yang berarti “rumah / kamar yang besar”. Si rama mênyang solo berarti si pria pergi atau memasuki kamar yang diikuti oleh si wanita tadi. Lèh-olèhé dari kata olèh yang berarti boleh. Payung adalah penutupnya, motha biasanya berupa kain seperti layar atau tenda (di Jawa dikenal juga kain penutup yang biasanya disebut sebagai slambu atau penutup ranjang tempat tidur). Mak jênthit adalah sikap tubuh yang mana bagian pantat agak diangkat atau di tarik agak ke belakang. Kata lolo identik dengan kata Sanskrit lolya yang berarti keadaan tidak tetap (bergerak) namun asyik penuh perasaan. Kata lobah artinya penuh kegairahan. Kata wong mati ora obah berarti orang mati tidak bergerak. Yèn obah mêdèni bocah dapat diartikan jika bergerak bisa menakutkan / me-rupa-kan (mewadani) atau menghasilkan anak. Yèn urip golèka dhuwit artinya jika hidup carilah uang.

Jika kata-kata tersebut dirangkaikan secara terminologis maka maksud dari tembang Sluku-sluku Bathok tersebut adalah sebagai berikut. Adalah pria (unsur purusa) dan wanita (unsur pradhana). Si wanita ikut dan menurut saja pada si pria yang masuk ke kamar. Dengan ditutupi kain yang mengelilingi ranjang, (maaf) pantat mereka terus digoyangkan, dengan asyik dan penuh perasaan. Hingga akhirnya (keduanya) akan lemas dan tak berdaya bagaikan orang mati yang tak bergerak. Dengan gerakan-gerakan itu pula mereka bisa menjadikan atau menyebabkan lahirnya anak. Dan agar anak tersebut bisa hidup, maka kewajiban bagi mereka untuk mencari dhuwit (uang) untuk menghidupinya.

Dengan demikian tembang dolanan tersebut bisa ditafsirkan sebagai sebuah pendidikan seks di kalangan masyarakat Jawa. Dan anak-anak perlu diberikan pendidikan semacam ini dari orang tuanya. Karena pada akhirnya ketika sudah berumah tangga nantinya mereka akan mengalaminya. Dan pendidikan seks yang baik dari orang tuanya sejak dini lebih baik daripada si anak nantinya akan “mendapat pendidikan seks” dari orang lain yang tidak bertanggung jawab. Namun demikian sangat disayangkan karena masih banyak orang tua yang belum berpikir ke arah itu.

Dahulu memang seks masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dan sangat wadi (rahasia). Sehingga mereka meramu pendidikan seks tersebut berupa sasmita (simbol-simbol dan kiasan-kiasan) dalam bentuk tembang dolanan yang kemudian banyak ditembangkan oleh anak-anak mereka. Tujuannya tentu agar anak nantinya dapat memahami bagaimana ketika mereka nantinya akan hidup berumah tangga.

Jika dikaji lebih lanjut tembang dolanan Sluku-sluku Bathok tersebut tidak hanya membahas masalah bagaimana kedua insan yang sedang bercinta akan menggapai kenikmatan bersama melalui hubungan seksual. Tetapi lebih dari itu ada beberapa pesan moral yang harus dipahami oleh mereka sebelum mereka melakukan hubungan seksual tersebut.

Pertama, mereka harus sudah melalui prosesi perkawinan (wiwaha homa) yang berarti pula bahwa mereka siap memasuki masa grhastha. Hal ini ditunjukkan dengan kata si rama dalam tembang tersebut. Di Jawa kata ini identik dengan orang yang sudah berumah tangga. Jadi mereka tidak bisa melakukan hubungan seksual tersebut tanpa ikatan perkawinan.

Kedua, mereka harus melakukan hubungan seksual tersebut secara tertutup (lèh-olèhé payung motha) karena hakikatnya hubungan tersebut adalah penyatuan antara purusa dan pradana (lingga – yoni). Selain itu hubungan tersebut masih bersifat wadi (rahasia). Jadi tidak dibenarkan hubungan seksual tersebut dilakukan di tempat yang terbuka, apalagi sampai direkam dan dipertontonkan melalui media elektronik dan “dikonsumsi” banyak orang sebagaimana yang sering diberitakan di media massa mengenai kasus-kasus pornografi dan pornoaksi yang marak belakangan ini.

Ketiga, setelah mengapai puncak kenikmatan rasa tersebut, harus diingat bahwa mereka juga harus melanjutkan trah (keturunan) yang baik (suputra) sebagai wujud bakti kepada leluhurnya. Hal ini harus mereka lakukan dengan cara nggulawênthah (memberi nafkah dan mendidik) anak-anak yang lahir dari hasil hubungan mereka berdua. Dalam masyarakat Jawa disebutkan dengan ungkapan “wani nganakaké kudu wani ngènèkaké (berani beranak harus berani pula untuk beri nafkah anak tersebut)”.

Dengan demikian, berdasarkan pengkajian secara etimologis dan terminologis terhadap tembang Sluku-sluku Bathok tersebut, tidak terdapat unsur-unsur bahasa Arab atau ajaran para Wali di dalamnya. Makna yang tersirat dari tembang dolanan tersebut terkait dengan pendidikan seks ala leluhur Jawa sebagaimana sudah dikenal sejak lahirnya manusia Jawa yang pertama hingga bisa berkembang seperti sekarang ini.

 


Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Artikel ini pernah dimuat di Media Hindu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: