PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

Nyadran Menurut Hindu

Hingga kini tradisi nyadran masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana ditulis dalam buku Bausastra Jawa (1939:75), secara umum masyarakat Jawa memahami nyadran sebagai “slamĕtan ing sasi Ruwah nylamĕti para lĕluwur (ritual pada bulan Ruwah/Syaban untuk menghorati para leluhur), slamĕtan ing papan kang kramat (ritual di tempat yang dianggap kramat/suci), atau ngirim kĕmbang ing kuburan (mengirim bunga ke makam). Singkatnya nyadran adalah ritual penghormatan kepada para leluhur atau sesuatu yang dikeramatkan di tempat-tempat dan waktu tertentu terutama pada saat bulan Ruwah menjelang Pasa (Ramadhan).

Jika masyarakat Jawa yang beragama Islam melaksanakan nyadran pada bulan Ruwah, maka masyarakat Hindu di Jawa pun melaksanakan nyadran ini menjelang hari-hari suci Hindu, terutama pada saat Galungan dan Kuningan. Beberapa wilayah di Tengger melaksanakan nyadran untuk mengakhiri perayaan Karo.

Sebagian besar masyarakat Jawa meyakini bahwa tradisi nyadran ini berasal dari tradisi Islam Jawa. Sementara umat Hindu Jawa hanya ikut-ikutan melaksanakan nyadran seperti yang dilaksanakan masyarakat Jawa pada umumnya. Pemahaman ini tentu tidak berdasar dan lemah konsep baik secara historis maupun etimologis.

Secara harfiah, kata nyadran dalam bahasa Jawa ini berasal dari kata dasar “sadran” yang mendapat atĕr-atĕr (awalan) “-ny” sehingga menjadi “nyadran”. Awalan tersebut berfungsi menunjukkan suatu perbuatan atau pekerjaan. Nyadran berarti melakukan pekerjaan sadran. J.F.C. Gericke dalam Javaansch-Nederduitsch Woordenboek (1847) menyebutkan bahwa nyadran adalah “acara membersihkan makam orang tua, membakar kemenyan serta melumuri kuburan dengan minyak wewangian dan doa bagi yang telah meninggal”.

Jika dikaji lebih jauh, kata sadran (sadra + n) sebagaimana disebutkan di atas berasal dari kata “sraddha”. Kata sadra di sini mengalami gejala perubahan bunyi menjadi sraddha, seperti halnya kata rontal menjadi lontar. Kata sraddha  ini adalah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti “keyakinan, penghormatan (kepada leluhur), kepercayaan atau kesetiaan” (Monnier-William,1889:1095).

Sraddha jelas merupakan ajaran Hindu yang telah berkembang sejak ribuan tahun silam. Bahkan dalam Sukla Yajurweda (Wajasaneyi Madhyandina Sakhiya) XIX.30 disebutkan:

व्रतेन दीक्षमप्नोति दिक्षयाप्नोति दक्षिणम् । दक्षिना श्रद्धमाप्नोति श्रद्धया सत्यमाप्यते ॥

Melalui brata kita memperoleh diksa (kesucian). Dalam diksa ini kita mendapatkan daksina (persembahan). Dengan daksina kita meraih sraddha. Dan dengan sraddha kita mencapai satya (kebenaran).

Pelaksanaan Sraddha di zaman Weda tersebut berlanjut hingga ke zaman-zaman berikutnya. Tradisi Weda tersebut kemudian berkembang menjadi suatu ritual yang ditujukan kepada para leluhur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharma Sastra 3.275 yang menyebutkan:

यद्द्यद्दादति विधिवत्सम्यक्श्रद्धासमन्वितः । तत्तत्पितृणं भवति परत्रानन्तं क्षयम् ॥

Apapun yang orang kerjakan dengan penuh kepercayaan setelah melakukan pemujaan untuk para leluhur (sraddha) menurut aturan yang ditetapkan, akan mencapai kepuasan dan kebagahiaan abadi di dunia ini dan alam lannya.

Seolah ingin meluruskan, Pigeaud (1960:170-171) dalam buku Java in the 14th Century Volume IV menyebut bahwa sadran atau nyadran merupakan lanjutan dari upacara sraddha yang menjadi bagian dari tradisi ritual Hindu di India. Dalam pesta Sraddha, kaum brahmana memimpin upacara dengan memercikan air suci, orang-orang mempersembahkan sesaji berupa makanan, buah-buahan, berbagai jenis bunga dan ornamen. Meski agak berbeda dengan ritual Sraddha di India, tradisi nyadran mempunyai kesamaan tujuan yaitu memuliakan para leluhur.

Tradisi Sraddha di India dapat dilihat dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana. Salah satunya adalah dalam Kitab Ramayana II.71.1 yang menyebutkan:

ततो दशाहे तिगते कृतशौचो नृपात्मजः । द्वादशे हनि संप्राप्ते श्रद्धकर्माण्याकारयत् ॥

Dengan penuh penuh ketulusan dan hati yang suci, Sang Putra Raja (Bharata) pun melaksanakan upacara Sraddha setelah dua belas hari mangkatnya Sang Raja Dasaratha.

Tradisi Sraddha sebagaimana yang diajarkan Weda dalam sejarah Hindu ini ternyata berlanjut dari zaman ke zaman dan menyebar hingga ke penjuru dunia. Jawa sebagai salah satu wilayah yang mendapat pengaruh peradaban Hindu, akhirnya menjadikan sraddha ini sebagai ritual untuk memuliakan para leluhur.

Pada masa kerajaan Hindu di Indonesia, upacara Sraddha ini menjadi upacara yang penting dalam tradisi kerajaan. Buktinya peristiwa mengenai upacara sraddha yang diperuntukkan bagi leluhur Majapahit pada abad 14 Masehi tercatat dalam kakawin Déśawarṇana (Kakawin Negarakertagama). Upacara Sraddha yang ditujukan kepada atman Sri Rajapatni, nenek Prabu Rajasanagara (Hayam Wuruk), digelar selama seminggu pada bulan Badrapada 1284 Saka (Agustus-September 1362 Masehi) di keraton Majapahit. Dalam acara itu persembahan sesaji beraneka warna dibagi-bagikan, doa-doa sakral dipanjatkan, juga diadakan pesta menari dan menyanyi yang semarak. Hal ini sebagaimana tercatat dalam petikan Kakawin Desawarnana 63.2:

ajña sri natha sang sri tribhuwana wijayottungadéwi…. sraddha Sri rajapatni wkasana gawayên/ sri naréndréng kadatwan, siddhaning karyya ring saka diwasa masirah warnna ring bhadramasa, sakwèh sri natha rakwawwata tadah irinĕn dé para wrddhamantri

Atas perintah Sang Rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, supaya pesta Sraddha kepada leluhur (atman) Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda. Di istana pada tahun saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada. Semua pembesar dan wrĕddha mantri  diharapkan memberikan sumbangan.

Tradisi sraddha ini terus berlanjut bahkan setelah Majapahit runtuh dan berganti dengan kekuasaan Islam. Kini meski namanya telah berubah menjadi nyadran, ritual ini tidak bisa lepas dari akar sejarahnya. Kenyataannya pada saat ritual nyadran, sebagian masyarakat Jawa masih melaksanakan gĕndurèn atau slamĕtan yang berupa pesta kenduri sebagaimana upacara sraddha yang dilaksanakan pada zaman Majapahit. Memang doa-doa yang dipanjatkan sudah menyesuaikan dengan agama yang dianut oleh pelaksana upacara, namun sebagian ujub-ujub yang dihaturkan pada saat gĕndurèn (terutama di desa-desa), masih kental dengan budaya Hindu. Simbolisasi pada sĕsaji atau sarana yang digunakan pada saat gĕndurèn pun juga masih menggunakan aturan upakara dalam Hindu.

Menurut ajaran Hindu, penghormatan kepada leluhur adalah kewajiban yang harus dituntaskan. Hutang kita kepada para leluhur (pitṛ ṛṇa) harus dibayar dengan kurban suci untuk para leluhur (pitra yajña). Bagi umat Hindu di Jawa, selain ritual nyadran sebagaimana disebutkan di atas, mereka juga melaksanakan pitra puja, memanjatkan mantra-mantra suci untuk para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal dunia. Dengan lantunan puja mantra tersebut diharapkan para leluhurnya akan segera mencapai alam swarga atau pun moksa.

Memang kurban suci untuk leluhur menjadi hal yang sangat penting dalam Hindu selain pemujaan kepada Sang Hyang Widdhi beserta para Dewa yang menjadi Manifestasi-Nya. Para leluhur harus dimuliakan layaknya para Dewa. Taittiriya Upanisad 1.11 mengatakan “मतृ देव भव पितृ देव भव​ ​ (leluhur atau orang tua baik ayah maupun ibu adalah Dewa bagi kita)”. Orang Jawa mengatakan “wong tuwa iku bapa kang katon (orang tua adalah Tuhan yang nyata)”. Tanpa ‘ijya’ dari orang tua atau leluhur, kita tidak akan mendapatkan tempat di swarga loka (moksa).

Dalam Mahabharata I.1.207 disebutkan:

यश्चेमं शृणुयान्नित्यमार्षं श्रद्धासमन्वितः । स दीर्घमायुः कीर्तिं च स्वर्गतिं चाप्नुयान्नरः ॥

Dengarkanlah, seperti yang disabdakan dalam Weda, bahwa orang yang selalu melaksanakan Sraddha, akan memperoleh umur panjang, kebagahiaan dan kesejahteraan, serta mendapatkan swarga loka.

Menyimak uraian di atas, maka tradisi nyadran perlu tetap dilestarikan di kalangan masyarakat Jawa. Karena memang sejatinya itu adalah tradisi Hindu sejak zaman Majapahit yang masih ada hingga zaman Islam berkuasa di Jawa. Hanya saja untuk waktu pelaksanaan nyadran  mungkin perlu disesuaikan. Selain menggunakan pétungan Jawa yang terkait pringatan upacara kematian, bisa menggunakan momen Kuningan. Selain asli penanggalan Jawa, menurut Sunarigama Kuningan sangat baik untuk pemujaan kepada para leluhur.

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Perkumpulan Acar Hindu Nusantara

(Tulisan ini juga dimuat di Media Hindu, Edisi 173, Juli 2018)

Updated: 6 July 2018 — 07:22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: