PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MENYINGKAP TABIR DI BALIK LIR-ILIR



Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir |  Tak ijo royoroyo, dak sêngguh temantén anyar | Cah angon cah angon, pénékna blimbing kuwi | lunyu-lunyu ya pénékên kanggo masuh dodotira | Dodotira dodotira kumitir bêdhah ing pinggir | dondomana jrumatana kanggo séba mêngko sore | Mumpung padhang rembulané | mumpung jêmbar kalangané, ya suraka, surak hiya ||

Hingga kini tembang Lir-Ilir tersebut di atas masih menyimpan seribu misteri. Baik mulai dari pengarangnya, waktu atau masa penyusunannya, tempat berkembangnya atau disusunnya hingga makna yang terkandung dalam tembang tersebut. Banyak yang mengira tembang ini dikarang oleh Sunan Kalijaga. Sehingga makna yang tersirat dari tembang tersebut sering kali dikaitkan dengan ajaran-ajaran dalam syariat Islam bagi pemeluknya untuk menjalankan kewajiban Sholat Lima Waktunya. Di mana dalam tembang Lir-Ilir tersebut dilambangkan dengan buah Belimbing yang mempunyai lima sisi.

Namun sesungguhnya tembang-tembang tradisional Jawa seperti Lir-ilir ini telah ada sejak masa pra-Islam. Hal ini didasarkan pada beberapa kata dalam tembang tersebut yang menunjukkan pada adat dan budaya yang sudah ada sebelum masa pra-Islam. Baru setelah kedatangan para Wali Songo tembang ini digunakan untuk dakwah keagamaan Islam di tanah Jawa. Untuk lebih jelasnya maka berikut ini akan diungkap tabir makna yang ada di balik tembang Lir Ilir tersebut.

Lir ilir lir ilir tanduré wus sumilir (lir = kelihatan, bagaikan; ilir = mengalir; tanduré = tanamannya; wus = akhirnya; sudah; sumilir = membawa). Baris pertama pada tembang ini dapat diterjemahkan “tampak mengalir seperti mengambang, tanaman/perbuatan kita sudah mulai membawa (menuai) hasil”. Ini merupakan isyarat bahwa setiap manusia akan memetik buah dari karmanya (karmaphala) sebagaimana peribahasa Jawa yang menyatakan ‘ngundhuh wohing pakarti’.

Tak ijo royoroyo tak sêngguh temantén anyar (tak = pernyataan ingkar yang umum, seperti kata ‘tan’ bahasa Jawa Kuno; ijo = hijau;  royoroyo = muda dan subur; sêngguh = mengira, menyangka;  temantén = pengantin; anyar = baru). Baris kedua tembang ini dapat diterjemahkan “sudah tidak hijau lagi, jangan lagi dikira seperti pengantin baru”. Maknanya adalah agar dalam kehidupan ini kita tidak memburu kesenangan semata seperti layaknya para pengantin baru.

Cah angoncah angonnékkna blimbing kuwi (cah = merupakan bentuk plutan dari bocah yang berarti ‘anak kecil’; angon = menggembalakan ternak;nék = naik, menggapai; blimbing = buah belimbing; kuwi = itu). Baris ketiga dari tembang ini dapat diartikan ‘wahai anak-anak penggembala, gapailah / raihlah buah belimbing itu’. Buah dalam bahasa Sanskerta disebut sebagai phala yang juga dapat diartikan sebagai ‘hasil’. Belimbing merupakan buah yang mempunyai 5 sisi samping dan 2 sisi atas bawah. Kelima sisi ini melambangkan lima bentuk  atau panca dalam bahasa Sanskerta. Dua sisi atas bawah itu merupakan lambang dari panca karmendriya dan panca buddhindriya yang tercermin dalam segala perbuatan (karma) manusia. Maksud dari bait tembang ini adalah bahwa sebagai manusia kita harus bisa menjadi penggembala yang bertugas mengendalikan panca karmendriya dan panca buddhindriya agar nantinya kita bisa memetik hasil baik dari semua karma kita.

Lunyu-lunyu ya pénékên kanggo masuh dodotira (lunyu = licin; ya pénékên = ya raihlah;  kanggo = untuk; masuh = membersihkan; dodot = kain panjang penutup badan bagian bawah atau baju; ira = kamu). Baris keempat dari tembang ini dapat diartikan ‘walaupun licin tetapi raihlah untuk menyucikan pakaianmu’. Kata pakaian di sini merupakan kiasan untuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Ada pepatah di Jawa mengatakan ‘ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana, ajining awak saka tumindak (nilai diri manusia ditentukan oleh perkataan, nilai badan ditentukan oleh pakaian, nilai badan/diri ditentukan oleh tindakan atau perbuatannya)’.

Hal ini selaras dengan apa yang diamanatkan dalam Pustaka Suci Sarasamuscaya 163 yang menyebutkan “ulah rahayu hetu nikang wwang kinawruhan kasujanmanya, yadyapin hilanga kta ng kawwangan, yan susila ikang wwang, ndan kinawruhan muwah kawwangan ika (Tingkah laku yang baik sesungguhnya merupakan sebab orang dikenal berkelahiran mulia. Biarpun silsilah keturunannya sudah tidak ada lagi, asalkan orang itu berkelakuan susila, akan diketahui pula akan asal keturunan orang itu)”.

Dodotira dodotira kumitir bêdhah ing pinggir (dodot = pakaian; ira = kamu; kumitir = goyang kesana kemari; bêdhah = sobek atau rusak; ing = di;  pinggir = pinggir). Baris kelima dari tembang ini dapat diterjemahkan “perbuatanmu yang masih belum terkendali (goyang kesana-kemari/kumitir) sehingga rusak pinggirnya”. Maksud dari baris kelima tembang ini adalah sebuah peringatan kepada seluruh umat manusia bahwa masih banyak perbuatan-perbuatan manusia yang menyimpang dari ajaran dharma (agama). Manusia mudah terbawa arus zaman sehingga kadang kala ia akan terseret jauh ke dalam jurang-jurang kehancuran. Jika dodot (pakaian) yang bêdhah ing pinggir (sobek pinggirnya) tersebut dibiarkan begitu saja maka lama kelamaan pakaian tersebut tidak akan rusak. Begitu juga dengan perilaku manusia, jika kesalahan sedikit dibiarkan tanpa ada instropeksi dan evaluasi diri yang dilanjutkan dengan ‘program remidi’ maka kehancurannya sudah di depan mata.

Maka dari itu, pada baris keenam disebutkan ‘dondomana jrumatana kanggo séba mêngko soré’ (dondomana = jahitlah; jrumatana = jêr rumatana yang artinya ‘peliharalah jika sudah baik atau ajêr’; kanggo = untuk; séba = menghadap; mêngko = nanti; sore = sore). Baris ini dapat diterjemahkan ‘oleh karena itu jahitlah (perbaikilah) dan peliharalah jika semua (perilaku) sudah baik untuk menghadap nanti sore’. Dahulu pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu para punggawa kerajaan dan rakyat yang ingin menghadap (marak seba) sang raja biasanya mereka memakai kain dodot. Kain ini juga dijadikan sebagai kain kebesaran raja-raja di masa lampau.

Mumpung padhang rembulané mumpung jêmbar kalangané (mumpung = selagi; padhang= terang benderang; rembulané = bulannnya; jêmbar = lebar atau luas; kalangané = tempat dan sempat). Baris ketujuh dari tembang ini dapat diterjemahkan ‘mumpung rembulannya terang (saat purnama), mumpung kesempatan masih terbuka lebar’. Maksud dari tembang ini adalah selagi masih ada kesempatan dan tempat apalagi waktu malam yang terang benderang oleh sinar sang rembulan (purnama).

Ya suraka, surak hiya (ya = ya; suraka = bersoraklah; surak = sorak; hiya = iya, sunguh-sungguh, benar-benar, nyata-nyata). Baris kedelapan atau baris terakhir ini dapat diterjemahkan “lalu bersoraklah, dengan sorak yang sungguh-sungguh nyata”. Sorak ‘iya’ yang dimaksud pada baris terakhir tembang ini seperti mengarah pada suara aksara suci ‘I’ dan ‘YA’ dalam khasanah tattwa Hindu. I (ING) dan YA (YANG) dalam pengider-ider ala Hindu (Dewata Nawasanga) melambangkan Siwa yang berada di Tengah.

Dan sorak ‘iya’ ini juga dikaitkan dengan waktu Purnama yang disebutkan pada bait sebelumnya. Sebagaimana diketahui bahwa Purnama merupakan hari payogan Bhatara Siwa Raditya yang juga dilambangkan dengan aksara suci I-YA. Dengan demikian surak ‘iya’ yang dimaksud dalam tembang ini merupakan sebuah sorak (seruan atau pujian) untuk Dewa Siwa.

Dalam Lontar Jnana Siddhanta disebutkan bahwa dengan pengucapan wijaksara Panca Brahma (SA-BA-TA-A-I), Pancaksara (NA-MA-SI-WA-YA) dan Triaksara (A-U-M) merupakan salah satu bagian upaya untuk menghadirkan Bhatara Siwa dalam diri (Siwikarana). Boleh jadi surak ‘iya’ dalam tembang ini merupakan salah satu bentuk dari Siwikarana yang dahulu biasa dilakukan oleh para sisya kerohanian.

Dengan demikian tembang Ilir-ilir ini sebenarnya bukan sekedar tembang dolanan biasa . Akan tetapi menyimpan tabir yang perlu untuk dipikir, guna mengukir jiwa raga agar tidak menjadi kikir, sehingga bisa selamat sampai zaman akhir.

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Tulisan ini pernah dimuat di Media Hindu)

Updated: 9 May 2018 — 16:56

2 Comments

Add a Comment
  1. anilasa yang luar biasa, saluttt

    1. Matur nuwun, mohon masukan bila ada yang kurang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: