PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MENABUR CINTA MEMBAUR BANGSA DALAM BINGKAI PANCASILA

Pendahuluan

Indonesia adalah sebuah Negara dengan masyarakat majemuk. Kemajemukan ini ditandai oleh adanya suku-suku bangsa yang masing-masing mempunyai cara-cara hidup atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat suku bangsanya sendiri-sendiri sehingga mencerminkan adanya perbedaan dan pemisahan antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa lainnya, tetapi secara bersama-sama hidup dalam satu wadah masyarakat Indonesia dan berada di bawah naungan sistem nasional dengan kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Suparlan,1989:4).

Dalam menjalankan kehidupan bersama, berbagai etnik yang berbeda latar belakang kebudayaan tersebut akan terlibat dalam suatu hubungan timbal balik yang disebut interaksi sosial yang pada gilirannya akan berkembang kepada interalasi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat mutlak bagi terjadinya aktifitas sosial. Dalam aktifitas sosial akan terjadi hubungan sosial timbal balik (social interrelationship) yang dinamik antara orang dengan orang, orang dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.

Soekanto (1990:66), menyatakan perubahan dan perkembangan masyarakat yang mewujudkan segi dinamiknya, disebabkan karena warganya mengalami hubungan satu dengan lainnya, baik dalam bentuk perseorangan maupun kelompok sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terjadi proses sosial yaitu cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang perorang dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut.

Dalam hubungan sosial berbagai komunitas yang berbeda latar belakang kebudayaan tersebut, akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu baik yang bersifat positif maupun negatif. Interaksi sosial yang positif akan timbul manakala pertemuan berbagai etnik dalam masyarakat majemuk tersebut  mampu menciptakan suasana hubungan sosial yang harmonis. Interaksi sosial yang bersifat negatif muncul manakala dalam melakukan hubungan sosial yang tidak harmonis karena adanya perbedaan sikap dalam kehidupan bersama.

Di negara Indonesia yang masyarakatnya penuh dengan kemajemukan (plural) ini juga memungkinkan terjadinya interaksi sosial yang bersifat positif maupun negatif. Interaksi yang positif ini dapat dilihat dari adanya kerja sama yang baik antar umat beragma dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa interaksi itu juga telah menumbuhkan bibit-bibit konflik horizontal yang mengarah pada isu-isu SARA (Suku Adat Ras dan Antar Golongan). Konflik-konflik horizontal tersebut timbul tenggelam dalam gelombang kehidupan demokrasi di Indonesia. Lebih-lebih jika konflik tersebut ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebut saja beberapa kasus yang terjadi di berbagai daerah di tanah air beberapa tahun belakangan telah mewarnai konflik-konflik SARA di Indonesia seperti kasus kekerasan di Lampung, kasus Ahmadiyah di Jawa Barat, kasus Ahmadiyah di Sampang Madura, kasus kekerasan di Poso, kasus kekerasan di Lombok, perang antar suku di Papua, aksi-aksi terorisme yang masif dan masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan yang bermuatan SARA dan ditunggangi kepentingan politis tertentu.

Oleh karena itu, perlu ada sebuah kebersamaan yang dibangun atas dasar cinta dengan cara membaur bangsa. Inilah yang menjadi fokus dalam makalah ini.

SRINTHIL Ancaman NKRI

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seperti slogan yang saat ini ramai dikumandangkan di seluruh Indonesia, ‘NKRI Harga Mati’. Slogan ini sudah dicetuskan oleh Pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti di Klaten, almarhum KH Moeslim Rifa’i Imampuro, atau akrab disapa Mbah Liem, pada sekitar tahun 1990. Dalam berbagai kesempatan di kegiatan pondok, pertemuan kiai maupun acara-acara umum, dia meneriakkan ‘NKRI Harga Mati’. Mbah Liem sebenarnya sudah paham betul bahwa ancaman terhadap NKRI ini sudah terjadi sejak lama. Kini setelah ISIS merajalela, teror merebak di mana-mana kita baru menyadari bahwa NKRI kita sedang terancam.

Dulu waktu masih ada penataran P4, kita selalu diingatkan akan bahaya HTAG (Halangan, Tantangan, Ancaman, dan Gangguan) terhadap NKRI.  HTAG ini kalau boleh dikonstruksikan kembali sudah menjelma menjadi benih-benih SRINTHIL yang menjadi ancaman bagi NKRI. Kata SRINTHIL ini tidak lain adalah singkatan dari Sparatisme-Radikalisme-Intoleransi-Narkoba-Terorisme-Hoax-Infiltrasi-Liberalisme. Srinthil juga kata dalam bahasa Jawa yang berarti kotoran kambing. Namanya saja kotoran, ya harus dibersihkan. Begitu juga dengan SRINTHIL yang menjadi ancaman NKRI, maka seluruh komponen bangsa yang memang benar-benar cinta pada NKRI ini harus bahu membahu untuk membasminya. Berikut ini SRINTHIL yang harus dibasmi dari bumi NKRI:

  • Sparatisme adalah gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Gerakan ini sudah dimulai sejak masa awal kemerdekaan hingga sekarang. DI/TII, PKI, GAM, OPM, RMS, HTI, dll adalah contoh organisasi yang menjadi ancaman bagi NKRI. Jika mereka dibiarkan, maka taruhannya adalah kehancuran NKRI.
  • Radikalisme adalah paham-paham radikal baik itu dalam kepercayaan, agama, atau ajaran-ajaran tertentu. Paham radikal saat ini sudah masuk dalam mimbar-mimbar umum yang ada di masyarakat. Jika ini terus dibiarkan ini juga akan mengancam keutuhan NKRI.
  • Intoleransi adalah tindakan yang tidak toleransi kepada orang, kelompok, atau umat lain. Tindakan intoleran ini sering disertai dengan perilaku anarkis. Intoleransi ini adalah produk dari radikalisme.
  • Narkoba adalah Narkotika dan Obat-obatan terlarang. Peredaran Narkoba di Indonesia sudah dalam tingkatan membahayakan. Korbannya bukan hanya orang-orang dewasa tetapi juga anak-anak. Semua sepakat bahwa Narkoba akan menghancurkan bangsa.
  • Terorisme adalah ancaman yang sangat genting bagi seluruh dunia saat ini. Teroris saat ini tidak hanya mengancam umat yang berbeda agama dengannya, tetapi juga yang seagama dengan dia. Karena beda paham, mereka tetap menganggap musuh. Ideologi terorisme yang berkembang di sudut-sudut kampus dan kampung dengan kampanye oleh para kampret ini menjadi bahaya laten bagi NKRI (Nainggolan,2018:116).
  • Hoax adalah berita bohong atau yang bermuatan fitnah. Di era digital seperti saat ini, hoax menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ingat bahwa hoax yang terus menerus didengungkan akan dianggap menjadi sebuah kebenaran (Miswanto,2017:24).
  • Infiltrasi adalah penyusupan dari paham-paham asing yang ingin menguasai NKRI. Infiltrasi baik secara ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan ini tentu akan membahayakan keutuhan NKRI.
  • Liberalisme adalah paham kebebasan yang bertentangan dengan demokrasi pancasila. Kita adalah negara yang menghormati kebebasan, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Artinya jangan sampai kebebasan tersebut melanggar kebebasan orang/umat lain.

Untuk menghadapi ‘srinthil’ tersebut maka kita harus memperkuat 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI). Semangat Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di sini menjadi hal yang penting untuk terus di-siar-kan ke seluruh negeri.

Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika

NKRI dan Pancasila itu sudah final, inilah yang saat ini banyak disampaikan oleh para guru bangsa dan tokoh agama di Indonesia. Para pimpinan agama di negeri ini baik dari MUI, PGI, KWI, PHDI, Walubi, dan Matakin pun sudah membuat seruan bahwa NKRI dan Pancasila adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Untuk itu semangat pluralisme perlu dipupuk dan dikembangkan di lingkungan masyarakat. Para tokoh agama memiliki peran penting untuk merajut kebhinekaan di Indonesia. Mengingat sebagian besar konflik di Indonesia bermula dari masalah ‘agama’.

Jika merunut pada konsep agama sebenarnya baik yang tersirat maupun semua agama sudah mengajarkan kepada kita untuk menghargai perbedaan. Berikut ini beberapa konsep tentang pentingnya kebhinekaan dalam agama-agama yang disahkan di Indonesia:

  • Islam

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat, 49:13)

وَاِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَهَا وَتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ‏

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, hendaklah kamu condong ke situ dan percayakan dirimu kepada Allah. Sesungguhnya Dia mendengar dan mengetahui” (Qs. Al Anfaal, 8:61)

اِرْحَمْ مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Kasihilah makhluk di bumi, nanti engkau dikasihi yang di langit. (HR. Thabrani)

  • Nasrani (Katolik/Kristen)

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi Kamu” (Yohanes 15:11-12).

“Adapun segala bangsa itu merupakan satu masyarakat dan asalnya pun satu juga, karena Tuhan menjadikan seluruh bangsa manusia untuk menghuni seluruh bumi” (Kisah Rasul-rasul 17:26)

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Matius 5:39-42).

  • Hindu

समानी व आकुतिः समाना हृदयानि वः । समानमस्तु वो मणो यथा वः सुसहासति ॥

 “Milikilah perhatian yang  sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan” (Rgveda X.191.4)

येन देवा न वियन्ति च विद्विषते मिथः । तत्कृण्मो ब्रह्म वो गृहे संज्ञान पुरुणेभ्यः ॥

 “Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu” (Atharwa Weda III.30.4).

यतु सर्वाणि भूतन्यात्मन्नेवानुपश्यति । सर्वभूतेषु चात्मनां ततो न वि चिकित्सति ॥

 “Seseorang yang melihat Dia berada pada setiap mahluk dan kemudian melihat semua mahluk ada pada-Nya, ia tidak akan membenci yang lain” (Yajurveda XL.6)

ये यथा मां प्रपद्यन्ते तांस्तथ्ऐव भजाम्यहं । मम वर्त्मानुवर्तन्ते मनुष्यः पार्थ सर्वसः ॥

 “Jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, wahai Partha. Karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semua adalah jalan-Ku” (Bhagawad Gītā IV.11).

  • Budha

पतिसन्थरवुतस्स अचरकुसलो सिय । ततोपमोज्जबहुलो दुक्खस्सन्तम् करिस्सति ॥

Hendaknya ramah dan lemah lembut kepada siapa saja dalam perilaku dan perbuatannya. Kemudian dengan mengembangkan kebahagiaan ia akan bebas dari segala penderitaan (Dhammapada XXV.17)

अविरुद्धम्विरुद्धेसु अत्तदण्डेसु निब्बुतम् ॥ सदनेसु अनन्दनम्तमहम्ब्रुमि ब्रह्मनम् ॥

Orang yang tidak mempunyai permusuhan hidup diantara orang yang saling bermusuhan, dan selalu lemah lembut diantara orang kasar dan yang telah bebas diantara mereka, maka sesungguhnya dialah seorang Brahmana (Dhammapada XXVI.24)

  • Konghucu

子 曰:君 子 和 而 不 同 ,小人 同 而 不 和 。

Nabi bersabda, “orang baik bisa rukun meski tidak bisa sama, sedang orang jahat bisa sama meski tidak bisa rukun” (Lun Yu XIII.23)

孔 子 曰 :益 者 三 友,損 ( 损)  者 三 友。友 直,友 諒  (谅) ,友 多 聞 (闻) ,益 矣 。 友 便 辟 ,友  善 柔,友 便 佞 ,損  ( 损)  矣 。(Lun Yu XVI.4)

Nabi Kong Zi – Khong Cu bersabda, “Ada tiga macam sahabat yang membawa faedah dan ada tiga macam sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang lurus, yang jujur dan yang berpengetahuan luas, akan membawa faedah. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal baik dan hanya pandai memutar lidah, akan membawa celaka.”

Nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman sebagaimana disebutkan dalam kitab suci dari berbagai agama di Indonesia tersebut mestinya harus diaplikasikan untuk menguatkan Pancasila dan merajut benang-benang Bhineka Tunggal Ika. Jika nilai-nilai Pancasila juga menjadi nilai luhur agama-agama tersebut, maka kita tidak perlu mengganti Pancasila dengan dasar lainnya. Maka sungguh (meminjam istilah Bang Haji Rhoma Irama)  “terlalu” bagi mereka yang masih ingin mengganti Pancasila.

Pancasila ada di Indonesia bukan untuk merusak keyakinan atau kepercayaan suatu agama. Manusia Pancasila tetap bisa beragama dan bahkan bisa lebih ‘agamis’. Lima nilai dasar Pancasila menuntun kita untuk menjadi: religius yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa; manusiawi karena dipenuhi rasa kemanusiaan yang adil dan beradab; patriotik yang menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa; demokratis karena mengedepankan permusyawaratan untuk mufakat; serta sosialis yang mampu mewujudkan keadilan sosial bagi semua.

NKRI akan tetap ada jika Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika tetap terjaga. Untuk mewujudkannya maka tidak ada cara yang paling ampuh selain menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini sebagaimana makna tembang Maskumambang yang tersusun dari suku kata yang membentuk Pancasila di bawah ini:

Tembang Maskumambang PAN-CA-SI-LA

PAN uninga jêjêr jêjêging nagari  | CArita ing kuna  |  SIji kang dadi wigati | LAnggêng yen wus bisa nunggal.

Terjemahan:

Ketahuilah bahwa asal tegaknya sebuah negara sebagaimana diceritakan dalam sejarah. Satu hal yang terpenting dan mendasar. (Negara) Akan berjaya dan kuat selamanya jika kita bisa bersatu.

Bersatu Membaur Bangsa

Pembauran sebagaimana disebutkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain mempunyai arti yang sama dengan percampuran dan pencampuran yang dilakukan dengan meniadakan sifat-sifat ekslusif kelompok etnik di dalam masyarakat dalam usaha mencapai kesatuan bangsa (Tim Penyusun,2005:115). Dengan demikian dinding-dinding pemisah seharusnya semakin diminimalisasi. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa hak-hak individu ataupun kelompok masyarakat ditiadakan. Artinya, bahwa perbedaan Suku Agama Ras dan Antar-golongan dalam masyarakat tidak menjadi pemicu perpecahan atau disintegrasi, apalagi hal tersebut telah disepakati dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kita juga harus mampu mengatakan dan memanifestasikan kehidupan bahwa memang kita berbeda.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, terminologi tentang pembauran sering dikaitkan dengan kata asimilasi dan integrasi. Kata pembauran dalam hal ini mempunyai konteks yang lebih luas daripada assimilasi, karena membaur tidak mengandung konotasi “menghilangkan ciri-ciri etnis”. Membaur bisa berarti mengasosiasi dirinya dengan masyarakat luas dan “mengawinkan” dirinya dengan masyarakat luas.

Yang penting dalam menginterpretasi definisi ini adalah adanya pengertian bahwa pertama, berlangsungnya proses membaur itu harus bersifat wajar, natural-tanpa paksaan. Yang kedua, dan yang tidak kalah pentingnya, definisi membaur itu tidak mutlak berarti pembauran biologis. “Perkawinan” yang dianjurkan adalah “perkawinan” sosial, perkawinan antara golongan minoritas dengan golongan mayoritas untuk membangun “Rumah Tangga Indonesia” yang harmonis. Perkawinan yang harmonis tidak bisa didasarkan atas hilangnya identitas dari salah satu partner perkawinan. Jika para mempelai sebelum melangsungkan perkawinan secara biologis diawali dengan ‘rasa cinta’ maka dalam perkawinan sosiologis pun, masyarakat harus mampu menabur dan menebar cinta antar sesama.

Menabur Cinta Menebar Irama

Dasar pembauran bangsa tersebut setidaknya akan terwujud jika sudah ada rasa “cinta” di dalamya. Jika cinta tersebut adalah untuk sang pacar, maka dalam pembauran bangsa pun perlu ada strategi ‘pacar’ untuk mampu mengaplikasikan cinta antar sesama. Kata ‘pacar’ yang dimaksud adalah singkatan dari (Miswanto,2013:41):

  • Perkenalan, artinya antar umat beragama atau sesama anak bangsa kita harus saling mengenal. Pengenalan terhadap ajaran agama lain bukan berarti harus memeluk agamanya. Begitu juga ketika kita mengenal suku adat lain tidak serta merta menjadikan kita menjadi bagian dari adat tersebut. Ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.
  • Akrab, artinya jika kita sudah saling mengenal maka sudah pasti kita akan menjadi sahabat yang akrab. Keakraban ini bisa dibangun dengan cara menjali tali simakrama/silaturahmi antar umat beragama. Dengan simakrama/silaturahmi yang baik, maka hubungan akan terjaga dengan baik pula.
  • Cinta, artinya membangun rasa cinta kasih universal atas dasar kemanusiaan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, atau pun golongan. Love is blind (cinta itu buta), demikian kata para pujangga.
  • Akad, adalah janji yang harus ditepati. Akad yang dimaksud adalah janji untuk membangun toleransi, saling menghormati, dan saling menghargai. Janji yang juga pernah diucapkan pada saat Sumpah Pemuda 1928, mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia, bertumpah darah satu tanah air Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia. Akad ini jangan sampai tercederai dengan fitnah keji yang bisa merusak semua keberagaman yang ada, singkatnya ‘jangan ada hoax di antara kita’.
  • Rukun, artinya puncak dari semuanya adalah rukun dan bersatu. Keempat formula sebagaimana disebutkan di atas akan bermuara pada satu kata yakni rukun (bersatu).

Sebagaimana seorang pacar sejati yang ingin menjaga keharmonisan dengan pasangannya, maka dengan pendekatan P-A-C-A-R ini akan terjalin suatu hubungan yang harmonis dalam suatu bangsa dilandasi oleh toleransi dan saling menghargai satu sama lain. Jika pembauran bangsa dengan pendekatan P-A-C-A-R ini bisa terwujud maka nantinya seluruh jalinan kasih dawai cinta antar sesama itu akan mampu menghasilkan IRAMA yang merdu dan membuat semua orang menjadi bahagia. IRAMA yang dimaksud adalah “Indahnya RAsa kebersaMAan” dalam berbagai macam perbedaan, apapun itu namanya.

Hal inilah yang mestinya selalu dipegang teguh oleh bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam tulisan “Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua)” dalam Burung Garuda yang menjadi Lambang Negara, itulah dasar negara kita, Pancasila. Dengan jiwa dan semangat Pancasila yang benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan nyata ini maka seharusnya bangsa Indonesia terbebas dari berbagai macam konflik dan kasus kekerasan yang mengatasnamakan SARA.

Penutup

Bangsa dan Negara Indonesia sudah ada sebelum kita ada. Oleh karenanya mari kita bersama-sama menjaganya agar tetap ada sampai kita tiada. Maka dari itulah, kita perlu membangun semangat Pancasila dengan menabur benih-benih Cinta melalui “P-A-C-A-R (Perkenalan-Akrab-Cinta-Akad-Rukun)” untuk membaur sebuah bangsa yang senantiasa hidup dengan IRAMA (Indahnya RAsa KebersaMAan).

 

Daftar Bacaan:

Maswinara, I Wayan. 2008. Úrìmad Bhagawad Gìtà (dalam Bahasa Sanskåta, Inggris dan Indonesia). Surabaya:Paramita.

Miswanto. 2013. “Bersama CINTA untuk Satu Indonesia”. Media Hindu Edisi 110 April 2013. hal. 40-41.

_______. 2017. Rekonstruksi Makna Hoax Kalimasada dalam Pewayangan Jawa. Malang: Trimurti.

_______. 2005. “Menelusuri Jejak Konflik Antar Agama”. Majalah Raditya Nomor 93 April 2005. Denpasar: Pustaka Raditya.

_______. 2012. “Tutur Tantular”. Media Hindu Nomor 94 Januari 2012. Jakarta: Media Hindu.

Musa Asy’arie. 2002. Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Yogyakarta:LESFI.

Nainggolan, Poltak Partologi. 2018. Ancaman ISIS di Indonesia. Jakarta: Obor.

Pendit, Nyoman S. 1993. Percik-percik Pemikiran Swami Vivekananda Cendekiawan Hindu Abad Ke-19. Jakarta:Yayasan Dharma Nusantara-FCHI.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembauran Kebangsaan.

Soekanto,Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas, Edisi Baru. Jakarta:Rajawali Press

Suparlan, Parsudi. 1989. Interaksi Antar Etnik di Beberapa Propinsi di Indonesia. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan  Depdikbud.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.

Tim Penyusun. 2012. Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jakarta: Setjen MPR RI

Visvananda, Svami. 1938. “Unity of Religions”, dalam The Religions of the World. editor Sri Ramakrishna. Calcuta:Centenary Parliament of Religions.

Sumber Teks Kitab Suci:

http://dhammapada.org/

http://www.alquran-indonesia.com

http://www.confucius.org/

http://www.sacred-texts.com/

https://www.bible.com/id/

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa

(Makalah ini Disampaikan pada Seminar Wawasan Kebangsaan “Merawat Kemajemukan dalam Bingkai NKRI” yang diselenggarakan oleh The Hindu Center of Blitar pada tanggal 20 Juni 2018 di Gedung Perpustakaan Makam Bung Karno, Kota Blitar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: