PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MEMBANGUN KARAKTER GENERASI DI ZAMAN KALI

Pendahuluan

Di penghujung abad ke-20, dunia menghadapi krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan. Untuk pertama kalinya manusia dihadapkan pada ancaman kepunahan rasa manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini (Capra,2004:3).

Krisis yang digambarkan oleh Fritjof Capra ini merupak refkeksi kegelisahan dan kecemasan manusia atas kemanusiaannya karena manusia merasa telah dijajah oleh pengetahuannya sendiri. Manusia merasa terhimpit dalam menghadapi berbagai perubahan zaman yang tanpa pernah disadari telah membawa mereka ke dalam beraneka ragam tindakan yang mengarah pada gejala “kehilangan karakter”. Kenyataan inilah yang dialami oleh sebagian besar manusia di zaman Kali yang sedang mengalami “kegalauan”. Hal ini dapat dilihat pada perilaku manusia di era sekarang yang cenderung lebih mengutamakan “sanghyang jinah” daripada “sanghyang aji”.

Kekhawatiran itu sebenarnya sudah pernah diungkapkan oleh Pujangga Jawa, Ki Rongowarsito dalam Serat Kalatidha 1 dengan sebuah tembang Sinom yang berbunyi:

Mangkya darajating praja | kawuryan wus sunyaruri | rurah pangrëhing ukara | karana tanpa palupi | atilar śīlāstuti |  sujana sarjana kélu | kaluluh kala tiḍa | tiḍem tanḍaning dumadi | ardayéngrat déné karoban rubéda ||

Terjemahan :

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusak, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

Ungkapan perasaan dari Ki Ronggowarsito tersebut senada dengan gambaran krisis global yang melanda negeri ini sebagaimana telah disinggung di atas. Hal ini disebabkan karena sudah banyak orang yang meninggalkan petuah-petuah lama akibat terbawa arus Kala Tidha.

Generasi muda Hindu sebagai bagian dari subjek dan objek peradaban itu juga terkena imbas dari krisis global tersebut. Terlebih sebagai manusia yang masih labil, penuh dengan gejolak jiwa dan ego emosional mereka dihadapkan masalah yang cukup rumit. Realitas sosial yang menunjukkan adanya degradasi moral di kalangan generasi muda seperti pada beberapa kasus kenakalan remaja, misalnya : penggunaan narkoba, seks bebas dan sebagainya (Segara,2002:8).

Fenomena tersebut pada dasarnya diakibatkan oleh pengaruh budaya Barat yang masuk ke Indonesia secara bebas dan telah “lulus sensor”. Akibat “cinta terlarang” antara peradaban Barat dan Timur di Indonesia itulah yang kemudian menghasilkan “anak haram” berupa masalah-masalah sosial budaya yang bermuara pada degradasi moral di kalangan generasi muda.

Permasalahan itu dengan sendirinya juga menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Hindu untuk dapat mempertahankan susila sebagai prinsip hidup mereka di tengah arus global. Bagi masyarakat Jawa prinsip susila tersebut merupakan hal yang harus dijadikan sebagai pegangan dalam kehidupan. Hal ini sebagaimana terungkap dalam sebuah ajaran leluhur Jawa yang dikenal sebagai Pañca Krëti di mana orang Jawa harus bertindak sesuai dengan trapsila, ukara, sastra, susila, dan karya (Herusatoto,2001:82).

Pentingnya Karakter di Zaman Kali

Sebuah adagium klasik menyatakan “If the wealth is lost, nothing is lost. If the health is lost, something is lost. But if the character is lost, everything is lost”. Pepatah klasik ini mengisyaratkan kepada kita betapa pentingnya karakter dalam kehidupan ini. Sampai-sampai karakter mempunyai nilai yang “lebih tinggi di atas” kesejahteraan (wealth) dan kesehatan (health). Orang akan kehilangan segala-galanya jika ia sudah “kehilangan karakter” dalam dirinya.

Hal itu pula yang kini sedang ramai dibicarakan dalam berbagai aspek kehidupan di negeri ini. Lebih-lebih dalam dunia pendidikan yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk membangun karakter (character buliding) tersebut. Banyak keluhan yang ditujukan kepada dunia pendidikan kita karena tidak mampu membentuk manusia yang berkarakter. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kasus terkait etika, moralitas, sopan santun atau perilaku dari kalangan terdidik yang tidak mencerminkan nilai karakter pendidikan itu sendiri.

Pentingnya karakter dalam membangun generasi yang baik sebenarnya telah ditunjukkan dalam Weda. Salah satunya adalah dalam Canakya Niti Sastra VIII.15:

गुणो भूषयते रूपं शीलं भूषयते कुलम् । सिद्धिर्भूषयते विद्यां भोगो भूषयते धनम् ॥

Terjemahan:

Pengetahuan adalah hiasan dari wajah yang rupawan. Susila adalah hiasan dari keturuan yang baik. Prestasi adalah hiasan dari ilmu pengetahuan. Kepuasan adalah hiasan dari kekayaan.

Dari sloka di atas dapat diketahui bahwa suśīla merupakan hiasan dari setiap generasi. Jika seseorang tidak mampu menjadikan generasi berikutnya menjadi generasi dengan suśīla yang baik, maka sesungguhnya orang tersebut telah gagal dalam proses regenerasi  keturunannya. Dalam hal ini pendidikan karakter memiliki peranan yang sangat penting untuk membangun generasi bangsa.

Pendidikan di Indonesia ditengarai hanya menghasilkan robot-robot yang mampu menaklukkan dunia tetapi tidak mampu menaklukkan dirinya sendiri. Mereka adalah generasi masa kini yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi minim dalam implementasi nilai-nilai moral dan etika universal. Oleh karena itu jangan heran jika saat ini banyak para kaum terpelajar yang menjadi kurang ajar, kaum intelektual melakukan tindakan kriminal, para sarjana yang durjana, anak yang durhaka kepada emak-bapak, murid yang berani pada sang mursid dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam kondisi yang demikian, kiranya cukup relevan untuk diungkapkan kembali “paradigma lama” tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai. Warisan nilai-nilai budaya masa lalu itu tidak sedikit yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter. Substansi-materi pendidikan karakter tidak lain adalah nilai-nilai moral, baik yang bersifat universal maupun lokal kultural, baik moral, kesusilaan maupun kesopanan.

Memang, paradigma pendidikan di masa lalu bukanlah pendidikan untuk perubahan sebagaimana pendidikan dalam paradigma modern, bahkan sebaliknya, yakni pendidikan untuk pewarisan dan pelestarian nilai-nilai. Durkheim (dalam Bourdieu,2000:198), seorang ahli sosiologi moralitas menyebutnya sebagai the conservation of a culture inherited from the past. Meski paradigma pendidikan semacam ini dianggap kuno atau konservatif, namun sangat relevan untuk solusi perbaikan moralitas bangsa sebagaimana yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan ini.

Membangun Karakter Generasi Tiada Henti

Menurut Canakya ada tiga macam kebiasaan baik yang harus terus berlanjut sepanjang masa. Ketiga macam kebiasaan baik tersebut adalah beramal, belajar dan bertapa. Pendapat Canakya ini diungkapkannya dalam Canakya Niti Sastra XVI.19 berikut:

जन्म जन्म यदभ्यस्तं दानमध्ययनं तपः । तेन्ऐवाभ्यास योगेन देही चाभ्यस्यते पुनः ॥

Terjemahan:

Kebiasaan baik seperti beramal, belajar dan bertapa harus dibiasakan secara terus menerus oleh setiap manusia. Kebiasaan baik itu pula yang diajarkan melalui yoga baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan yang telah lalu.

Menurut Canakya dalam sloka di atas salah satu kebiasaan baik yang harus selalu dilaksanakan adalah belajar (swadhyaya). Setiap manusia di dunia ini memiliki kewajiban untuk belajar. Dalam hal ini, belajar tidak mengenal usia. Siapapun bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Knapper dan Cropley (2000:7) menyebutnya dengan istilah lifelong learning (belajar sepanjang hayat) atau lifelong education (pendidikan sepanjang hayat).

Untuk membangun karakter generasi Hindu di zaman yang ‘serba keblinger’ ini tentu harus dilakukan secara intensif dan terus menerus. Membentuk karakter generasi haruslah tiada henti dan dilakukan dengan sepenuh hati. Dengan lifelong learning atau lifelong education tersebut maka generasi yang berkarakter bisa terwujud.

Saat ini anak-anak didik kita hanya diberikan pembelajaran pada saat di sekolah saja. Setelah berada di luar sekolah atau pasca lulus dari sekolah anak-anak sering ‘terlantar’.  Keluarga dan masyarakat cenderung acuh terhadap pendidikan anak. Ironisnya orang tua sering kali ‘pasrah bongkokan’ kepada para guru di sekolah. Padahal keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama bagi anak untuk menempuh pendidikannya secara informal. Dalam masyarakat Jawa pendidikan dalam keluarga ini dikenal sebagai anggulawënṭah.

Bagi masyarakat Jawa di masa lampau, pewarisan dan pelestarian nilai-nilai tersebut bisa diwujudkan melalui pembudayaan karakter yang berbasiskan budaya lokal. Beragam cara pembudayaan dilakukan oleh leluhur Jawa kala itu, mulai dari: kegiatan bermain, tëtëmbangan, sastra hingga kegiatan sosial kemasyarakatan yang penuh dengan nuansa kearifan lokal. Dari beragam kegiatan tersebut, yang hingga kini masih diwarisi sebagai upaya untuk membangun karakter generasi muda pada zaman dahulu adalah kegiatan tëtëmbangan (seni budaya). Melalui kegiatan seni budaya tersebut, anak-anak di Jawa dikenalkan nilai-nilai moral, etika, susila, kesopanan dan nilai-nilai luhur lainnya. Kemudian mereka mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya sebagai sebuah pakulinan (kebiasaan).

Untuk membentuk pakulinan atau kebiasaan yang baik, maka seseorang harus memulainya dari yang dalam yakni pikiran dan niatnya; kemudian keluar melalui perkataan; dan dari perkataan diaplikasikan dalam bentuk tindakan; dari tindakan yang dibiasakan inilah yang akan tumbuh menjadi sebuah karakter; dari karakter inilah nasib seseorang akan ditentukan.  Hal ini sebagaimana disebutkan dalam adagium berikut:

Be careful of your thoughts, for your thoughts become your words. Be careful of your words, for your words become your deeds. Be careful of your deeds, for your deeds become your habits. Be careful of your habits, for your habits become your character. Be careful of your character, for your thoughts become your destiny (Reigeluth,2013:594).

 

Dengan demikian hal yang mendasari dari karakter seseorang sesungguhnya adalah pikirannya sendiri. Karakter itu akan terbentuk sesuai dengan mindset yang terpatri dalam pikirannya. Oleh karena itu penting bagi setiap orang tua atau guru untuk membentuk mindset yang baik terhadap anak-anak yang akan meneruskan generasinya. Hal ini juga diamanatkan dalam Sarasamuscaya 80 di bawah ini:

Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawṛtti ta ya  ring śubhāśubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahṛtanya sakareng

Terjemahannya:

Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya seluruh indria, ialah yang menggerakkan perbuatan baik ataupun buruk itu, karena pikiranlah yang segera patut diusahakan pengekangan/pengendaliannya.

Formula ASI untuk Selamatkan Generasi di Zaman Kali

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa kegiatan seni budaya tersebut yang banyak dilakukan oleh masyarakat tradisional di masa lalu diyakini mampu membentuk karakter yang baik pada anak-anak mereka. Dengan seni budaya itu anak-anak dikenalkan nilai-nilai religius, kebenaran, moral, kesopanan, susila, etika, estetika dan masih banyak lagi lainnya. Paradigma ini selaras dengan apa yang diungkap oleh Mangkunegara IV dalam Sërat Wedhatama I.1 melalui tembang Pangkur berikut:

mingkar mingkuring angkara | akarana karenan mardi siwi | sinawung resmining kidung | sinuba sinukarta | mrih kretarta pakartining ngélmu luhung | kang tumrap néng tanah Jawa | agama ageming aji ||

Terjemahan:

Menghindarkan diri dari angkara, bila akan mendidik putra, dikemas dalam keindahan syair (tëmbang), dihias agar tampak indah, agar tujuan ilmu luhur ini tercapai. Kenyataannya di tanah Jawa, agama menjadi panutan raja.

Tembang di atas mengamanatkan kepada kita bahwa untuk mendidik anak-anak bangsa ini (mardi siwi) diperlukan upaya yang bebas dari hawa nafsu dan angkara murka (mingkar mingkuring angkara). Kita harus menghindari kekerasan baik fisik maupun non fisik seperti melalui kata-kata kasar atau pun yang penghinaan. Akan lebih baik lagi jika dilakukan atau dikemas dalam bentuk seni budaya, seperti tetembangan dan sebagainya (sinawung resmining kidung). Selanjutnya kita juga harus bisa menghargai anak-anak dengan cara yang patut (sinuba-suba). Dengan cara seperti itu maka anak-anak akan tumbuh secara baik dan cemerlang (subha). Sehingga nantinya ia tidak hanya bisa menguasai ilmu pengetahuan yang luhur tetapi juga mampu mengamalkannya secara bijak (wikan wicaksana). Selanjutnya untuk menyempurnakan ilmu pengetahuan itu, maka diperlukanlah agama yang menjadi pondasi dari pengetahuan itu sendiri (agama ageming aji).

Pendalaman terhadap ajaran-ajaran agama seharusnya tidak dilakukan secara terpisah dengan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Agama yang tidak mengenal seni budaya dan ilmu akan menjadi kering dan merana. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “dengan agama hidup menjadi lebih terarah, dengan ilmu pengetahuan hidup menjadi lebih mudah dan dengan seni hidup menjadi lebih indah”. Untuk itulah maka sudah seharusnya manusia memiliki keseimbangan dalam pemahaman agama, ilmu pengetahuan dan seni.

Agama, seni dan ilmu pengetahuan atau disingkat ASI ini diperlukan untuk menjadikan anak-anak bangsa menjadi anak-anak yang cerdas dan berbudaya. Mereka yang terlahir dari rahim lembaga pendidikan harus mendapatkan pendidikan ASI yang baik dari para gurunya. Sebaliknya guru pun juga harus memberikan ASI tersebut dengan kasih sayang sebagaimana seorang ibu yang menyusui anaknya dengan penuh cinta. Dengan kandungan gizi-gizi kebudayaan dalam ASI itulah maka anak-anak didik tersebut dapat tumbuh menjadi manusia yang utuh baik intelektual maupun mental spiritualnya.

Formula ASI tersebut harus diintegrasikan dalam setiap kegiatan dan proses pendidikan bagi para generasi kita. Agama adalah unsur yang mampu menyelaraskan moral dan spiritualnya. Ilmu pengetahuan adalah unsur yang diyakini dapat meningkatkan kecerdasan intelektual dan daya pikirnya. Sementara seni adalah unsur yang mampu menghaluskan rasa dan emosional anak.

Dalam ajaran Hindu ketiga unsur ini terafiliasi dalam konsep satyam, śīwam dan sundaram. Titib (2009) dalam sebuah artikel di Majalah Raditya mengatakan bahwa bahwa satyam, śīwam, dan sundaram ini sebagai azas kehidupan. Satyam adalah azas dan konsep tentang kebenaran. Unsur satyam ini cenderung mengarahkan manusia untuk memiliki pengetahuan (widya). Dengan pengetahuan itu, maka manusia akan dapat memahami kebenaran. Śīwam adalah azas dan konsep tentang kebajikan dan kepatutan. Azas ini juga menjadi dasar yang utama dari semua agama di mana setiap agama harus mengajarkan kebajikan kepada umatnya. Dengan demikian azas śīwam ini harus dicapai dengan perilaku-perilaku yang mencerminkan nilai-nilai religius (agama). Sundaram adalah azas dan konsep tentang keindahan dan keharmonisan. Azas ini tentu erat kaitannya dengan seni. Dengan seni manusia akan mewujudkan sundara atau keindahan dan keharmonisan dunia.

Melihat berbagai fenomena degradasi moral yang terjadi belakangan ini, maka diperlukan urgensitas upaya-upaya untuk membangun karakter yang berbudaya melalui pemberian ASI yang baik. Jika sudah terlambat atau terlanjur rusak maka akan sangat sulit untuk membangun generasi berbudaya sebagaimana yang dikatakan oleh Paku Buwono IV melalui tëmbang Gambuh dalam Serat Wulang Reh III.1 yang berbunyi:

sekar gambuh ping catur | kang cinatur polah kang kalantur | tanpa tutur katula-tula katali | kadaluwarsa katutuh kapatuh pan dadi awon ||

Terjemahan:

tembang Gambuh yang ke empat, yang dibicarakan perbuatan yang menyimpang, tanpa nasehat terjerat sengsara, jika terlambat menuturinya akan jadi kebiasaan yang buruk).

 

Upaya-upaya nyata yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan membudayakan kembali kearifan-kearifan lokal yang bisa dilakukan oleh anak-anak seperti: membiasakan bahasa Jawa dengan unggah-ungguhing basa yang baik setiap harinya, menggalakkan kembali lagu-lagu atau tëmbang dolanan, membuka kembali kran untuk permainan tradisional bagi anak-anak dan masih banyak lagi lainnya. Dan yang terpenting pemerintah dan masyarakat harus mengapresiasi upaya-upaya tersebut dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi perkembangan seni budaya yang ada di masyarakat. Dengan begitu vibrasi-vibrasi positif yang digetarkan dari seni budaya lokal tersebut, maka para generasi kita akan menjadi generasi yang berbudaya dan tentunya juga berkarakter.

Penutup

Menyimak uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya untuk membangun karakter generasi di Zaman Kali memerlukan peran serta dari semua pihak baik dari sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga institusi pendidikan ini harus saling bergandengan tangan dalam proses pendidikan tersebut. Selanjutnya upaya untuk mendidik generasi tersebut harus dilakukan secara terus menerus (lifelong education) seiring dengan roda zaman yang selalu berputar tiada henti. Dengan materi yang terintegrasi dalam formula ASI (agama, seni dan ilmu pengetahuan) maka generasi tersebut akan bisa dididik menjadi generasi yang sarjana-sujana, sadhu-budi, tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, tetapi juga emosional dan spiritual yang baik pula.

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 2000. Reproduction: In Education, Society and Culture. London: Sage Publication Ltd.

Capra, Fritjof. 2004. Titik Balik Peradaban. Jakarta:Djambatan.

Herusatoto, Budiono. 2001. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta:Hanindita.

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sārasamuçcaya dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Surabaya:Paramita.

Kadjeng, I Nyoman, dkk. 1997. Sārasamuçcaya dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Surabaya:Paramita

Knapper, Christopher, and Arthur J. Cropley. 2000. Lifelong Learning in Higher Education. London: Psychology Press.

Mangkunegara IV. tt. Sërat Wédhatama. Koleksi Pribadi Romonadha.

Paku Buwono IV. tt. Sërat Wulang Réh. Koleksi Pribadi Romonadha.

Ranggawarsita. tt. Sërat Kalatidha. Koleksi Pribadi Romonadha

Reigeluth, Charles M., ed. 2013. Instructional-Design Theories and Models: A New Paradigm of Instructional Theory. Vol. 2. Newyork:Routledge.

Segara, Nyoman Yoga. 2002. “Problematika Keagamaan Generasi Muda”. Warta Hindu Dharma No.427 September 2002. Denpasar:PHDI Pusat.

Titib, I Made. 2009. “Sinkronisasi Tattwa, Susila dan Upacara dalam Pelaksanaan Yajna”. Raditya Nomor 143 Bulan Juni 2009.

 

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Tulisan ini pernah disampaikan pada acara Dharma Tula dalam rangka Pengabdian Kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh STAH Shantika Dharma Malang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: