PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MELAJAH BELOG

Sewaktu saya masih tinggal di griya Kayumas Kaja, Denpasar, Ida Pandita Mpu Nabe Reka Dharmika Sandhiyasa, yang sudah saya anggap sebagai orang tua dan sekaligus guru saya sering kali beliau berpesan agar kita bisa melajah belog atau belajar ‘bodoh’. Melalui kata-kata itu, beliau berpesan agar kita bisa menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong. Kesombongan hanya akan berbuah kehancuran baik diri kita sendiri.

Belajar ‘bodoh’ bahkan lebih sulit daripada belajar ‘pinter’. Untuk pinter, banyak jalan yang bisa ditempuh oleh orang saat ini. Lebih-lebih dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, tidak sulit orang untuk mendapatkan segala pengetahuan yang diinginkannya. Tidak jarang pula mereka hanya sekedar copy paste kemudian mengaku-ngaku bahwa itu adalah hasil karyanya. Tetapi untuk belajar ‘bodoh’ bahkan orang harus diam ketika ditanya bahwa sesuatu karya yang besar adalah benar-benar hasil karyanya. Seperti para Pujangga zaman dahulu yang cenderung tidak ingin menuliskan namanya dalam karya-karya besarnya. Bahkan hingga saat ini sang pujangga itu pun hanya dikenal dengan samarannya.

Senada dengan hal tersebut sebuah tembang Ginada yang dikutip dari Geguritan Basur menyebutkan: êda ngadèn awak bisa, dêpang anaké ngadanin, gêginané buka nyampat, anak sai tumbuh luu, ilang luu buké katah, yadin ririh liu ênu paplajahan. Kurang lebih terjemahannya adalah sebagai berikut: jangan merasa diri pandai, biarlah orang lain menilai, hidup itu ibarat menyapu, sampah akan ada selalu, walau sampah sudah habis, debu masih beribu-ribu, meski sudah pandai, banyak hal belum kita ketahui.

Tembang Ginada tersebut mengingatkan kita bahwa sepandai apa pun kita tetap masih ada yang belum kita tahu. Oleh karenanya kita tidak boleh merasa paling pandai dan sok tahu. Sebanyak apapun amal kebajikan yang sudah kita perbuat, dosa dan kesalahan akan tetap ada dalam diri kita. Maka dari itu jangan merasa paling baik dan sok suci.

Tapi sayangnya kata-kata bijak dari leluhur itu pada saat ini sering kali diabaikan. Bahkan cenderung dianggap sebagai hal yang menghambat perkembangan dan kemajuan. Lebih-lebih pada zaman sekarang yang hampir setiap insannya haus akan prestasi dan prestige yang dalam Teorinya Maslow dianggap sebagai kebutuhan hidup manusia.

Memang tidak ada yang mengelak bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri (selanjutnya disingkat AD), tetapi jika setelah kita bisa mendapatkan kebutuhan itu kemudian kita lupa diri maka AD itu akan menjadi tahapan awal kita bunuh diri. Inilah yang sudah dialami oleh sebagian besar manusia di dunia ini. Hasrat yang besar akan AD itu telah menjadikan mereka terlena. Euforia yang terlalu berlebihan itu membuat mereka seperti semut yang pada akhirnya mati tenggelam dalam lautan gula.

Kenyataan yang bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita adalah semakin banyaknya anak-anak yang pinter dan kemudian minteri orang tuanya, banyak orang yang sudah lupa dengan leluhurnya dan orang-orang yang berjasa kepadanya ibarat kacang yang sudah melupakan kulitnya. Namun si kacang tidak sadar bahwa setelah ia meninggalkan kulitnya akhirnya ia akan habis dimakan dan hancur.

Dalam layar kaca kita juga sering disuguhi tontonan orang-orang yang suka ‘adu kepinteran’ dan cenderung mencari tempat yang benar meski kadang kala harus menempatkan kebenaran itu tidak pada tempatnya. Lebih disayangkan lagi, banyak orang saat ini yang hanya mengaku-ngaku pintar meski ia belum yakin bahwa ia pintar. Kadang untuk itu ia juga harus bisa memainkan peran seperti para pemain sinetron yang sedang berakting, untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa dia memang benar-benar pintar. Ironisnya banyak orang yang bergelut dalam dunia agama atau spiritual justru ikut-ikutan menjadi sok pintar.

Kesombongan seolah menjadi keharusan bagi manusia di zaman sekarang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan (AD). Bahkan di kalangan cendekiawan pun kesombongan itu pun bisa terlihat dari banyaknya orang yang mengaku-ngaku sebagai orang pandai dan sok tahu segala hal. Kepiawaiannya menyalahkan orang menjadi senjata andalan untuk menjatuhkannya. Padahal ketika dia sendiri menggantikan posisi orang tersebut hasilnya sama saja atau bahkan bisa lebih buruk.

Setali tiga uang, pendidikan di Indonesia saat ini pun masih berorientasi untuk mencetak orang-orang pinter bukan orang yang ngerti. Mereka hanya diajarkan untuk pandai bicara dan ahli berteori tetapi kurang prakteknya. Dalam masyarakat Jawa sering disebut dengan sebuah idom yang populer dengan ‘jarkoni’, bisa ujar ora bisa nglakoni (bisa ngomong tapi tidak bisa melaksanakannya).

Singkatnya jika kita memiliki kepandaian seperti apapun sebaiknya kita tidak perlu menggembar-gemborkannya kepada orang lain. Di atas langit masih ada langit, itulah pepatah yang mesti menjadi pegangan bagi kita untuk selalu mawas diri dan tidak takabur. Orang yang baik tidak akan pernah mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari pada yang lain. Seperti disebutkan dalam Canakya Nitisastra XIV.17 berikut: “षुसिद्धमौषधं धर्मं गृहच्छिद्रं च मौथुनम् । कुभुक्तं कुश्रुतं चैव मतिमान्न प्रकाशयेत् ॥ (orang bijak biasanya tidak akan menggembar-gemborkan hal-hal berikut ini; obat racikannya yang manjur, kebaikannya yang telah dilakukan, konflik dalam rumah tangganya, urusan seksualnya, makanan kurang enak yang disajikan untuknya, berita miring yang ia dengar, persembahan yang ia lakukan dan juga kecerdasan yang ia miliki).

Berpijak pada sloka tersebut, maka dapat juga dikatakan bahwa mereka yang sering menggembar-gemborkan soal kemampuan dan kepandaiannya sesungguhnya mereka belum benar-benar mampu dan pandai. Seperti pepatah bahasa Indonesia yang mengatakan tong kosong nyaring bunyinya, atau dalam peribahasa Jawa dikatakan kakehan gludhug kurang udan.

Sebagaimana telah disinggung di atas, kita bisa belajar dari para pujangga pada zaman dahulu. Meski mereka telah menghasilkan karya-karya besar tetapi mereka tidak pernah menuliskan namanya dengan tinta emasnya. Justru mereka sering menggunakan nama samaran dengan mengandung arti ‘menunjukkan kekurangan tertentu’. Misalnya Prapanca, penulis Negarakertagama (Desawarnana) adalah nama yang menunjukkan pada lima cacat yang dimilikinya, bingung, sedih, menderita, tersesat, dan sombong; Tanakung pengarang Wrttasancaya dan Siwaratrikalpa adalah nama yang berarti tidak tahu akan keindahan; dan masih banyak lagi lainnya.

Mereka tidak ingin menunjukkan nama aslinya pada maha karyanya tersebut. Bahkan tak jarang mereka merendahkan dirinya dalam karya-karyanya tersebut. Hal ini seperti yang ditulis oleh Mpu Tanakung dalam Kakawin Nirartha Prakreta I.3 berikut: ngwang pwatyanta wihohitapan alêwês tuccha kanistèng sarat, ndan duran wruha marna-marna sastrarthawidyagama, anghing duhkita kéwalamrati sumök lwir andhakarang asut, tan wruh panglwanganing laranupama hétung kwangikêt lambanga (hamba adalah orang yang bodoh, nista dan dinistakan oleh masyarakat; sungguh jauh kemungkinannya hamba dapat merasakan hakikat sastra maupun pengetahuan suci; namun hamba tidak dapat menahan tekanan kedudukan yang bagaikan diselimuti gelap gulita; hamba tidak mengetahui jalan meredakan derita, itulah sebabnya hamba mengikat karya sastra ini).

Menyimak uraian tersebut, maka kita harus bisa belajar dari para pujangga besar sebagaimana disebutkan di atas. Pelajaran yang bisa kita petik dari mereka adalah bagaimana kita bisa belajar ‘belog’ dengan menjadi orang yang rendah hati dan tidak sombong.

Sebagai penutup berikut ini saya sajikan sebuah tembang mijil yang pernah diajarkan oleh guru saya sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Dêdalané guna lawan sakti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wêkasané, tumungkula yèn dipundukani, bapang dèn simpangi, ana catur mungkur. Kurang lebih terjemahannya adalah sebagai berikut: Inilah jalan bagi mereka yang memiliki kepandaian dan kuasa, harus rendah hati atau selalu merendah, berani mengalah akan berbuah keluhuran, menundukkanlah jika terkena marah, tidak perlu meladeni orang yang sedang marah, diamlah jika tertimpa fitnah atau celaan.


Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Raditya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: