PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

MANUSIA MALU

Manusia dan malu adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Malu itu ada pada setiap manusia dan manusia itu harus punya malu. Dalam Islam disebutkan bahwa malu itu sebagian dari iman.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).]

Rasa malu yang dimiliki oleh manusia saat ini sudah semakin luntur. Banyak wanita yang mirip pria, sementara ada pria yang tingkahnya seperti wanita. Di sisi lain banyak halhal yang semestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum, kini seolah sudah menjadi tontonan yang lulus sensor. Misalnya cara berpakaian, cara bertutur kata, termasuk gaya berpacaran yang kebablasan.
Salah satu penyebab adanya beragam fenomena tersebut adalah hilangnya rasa malu, sehingga menjadi penting kita semua untuk menghadirkan rasa malu. Supaya rasa malu itu tetap terjaga, ibarat pakaian yang menyelimuti dan menghangatkan tubuh kita maka cara yang efektif adalah memahami keutamaan rasa malu.
Malu itu bahasa Arabnya adalah alhaya’u, dan kata alhaya’u ini seakar kata dengan alhayatu, sehingga beberapa ulama mengatakan, “ketika seorang mempunyai hati yang hidup maka disitulah ia memiliki kekuatan rasa malu, menampakkan bahwa dirinya memiliki rasa malu. Sementara sedikitnya rasa malu menunjukkan matinya hati dan matinya hidup. Dan setiap kali hati seorang itu hidup, maka bersama itu pula rasa malunya semakin menguat.”
Dalam Hindu ada ungkapan yang menyebutkan menyebutkan: जनः नजते भवत् (esensi dari manusia itu ada pada rasa malunya). Pada prinsipnya ungkapan ini merupakan nasehat untuk setiap manusia agar memiliki malu kepada Tuhannya terutama dalam kesendiriannya. Kita merasakan ketika sendiri, peluang untuk melanggar itu lebih besar ketimbang bersama orang lain, meskipun anak kecil yang melihatnya.
Oleh karena itu rasa malu minimal kepada Tuhan itu diharapkan dapat menjadi penghalang seseorang untuk berbuat asusila atau pun tindakan keji lainnya. Ingatlah bahwa Tuhan mengetahui dan melihat semua ucapan dan tindakan kita, bahkan ketika ucapan dan tindakan kita itu masih ada dalam niat kita.
Kata जन (jana) adalah kata Sanskerta yang berarti “manusia”. Kata “jana” berasal dari suku kata yakni suku kata ja yang mendahului suku kata na. Jika suku kata na mendahului ja, maka akan menjadi kata Sanskerta नज (naja) yang artinya “malu”. Dengan demikian, jana (manusia) akan sempurna jika dilengkapi dengan naja (rasa malu).
Rasa malu yang dimiliki oleh manusia saat ini sudah semakin luntur. Banyak wanita yang mirip pria, sementara ada pria yang tingkahnya seperti wanita. Di sisi lain banyak hal-hal yang semestinya tidak pantas diperlihatkan di muka umum, kini seolah sudah menjadi tontonan yang lulus sensor. Misalnya cara berpakaian, cara bertutur kata, termasuk gaya berpacaran yang kebablasan.
Salah satu penyebab adanya beragam fenomena tersebut adalah pudarnya atau bahkan hilangnya rasa malu dalam diri manusia saat ini. Urat malu yang sudah putus ini akan menyebabkan manusia melakukan tindakan-tindakan bodoh dan tidak peduli atas harkat dan martabatnya. Ironisnya di zaman sekarang justru banyak kalangan yang konon disebut “cendekiawan dan terhormat” justru melakukan tindakan-tindakan bodoh, memalukan, dan tidak terhormat. Sangat disayangkan sesungguhnya jika mereka yang seharusnya diposisikan “terhormat” harus “mempermalukan diri” dan dipermalukan karena tindakannya sendiri.
Oleh karena itu di sinilah pentingnya menghadirkan rasa malu dari dalam diri kita sebagai manusia. Supaya rasa malu itu bisa menjaga harkat dan martabat kita sebagai manusia, ibarat pakaian yang menutupi dan menjaga kehormatan “kemaluan” kita. Jika “kemaluan” kita terbuka atau terlihat maka kita sedang dalam proses menuju atau menuju “malu” (ke malu-an).
Malu itu milik semua manusia tanpa pandang bulu, bilik, balak, dan baloknya. Sepanjang manusia itu bisa memahami dan menggunakan “rasa” kemanusiaanya maka malunya akan tumbuh dengan sendirinya. Sebagaimana telah disinggung dimuka pada pemaknaan kata jana dan naja.
Dalam iman Kristen kata ‘malu’ paling banyak disebutkan dalam 20 kata Ibrani dan Yunani yg berbeda-beda dan disebutkan dalam Alkitab. Dua arti utama dapat dibedakan: menerangkan keadaan hati dan menerangkan keadaan badani. Keadaan hati dapat dibagi menjadi tiga golongan besar. Pertama, seseorang menjadi atau mungkin sasaran utama kekejian, pokok olok-olok atau penghinaan. Kedua, seseorang merasa malu atau segan. Ketiga, seseorang merasa diliputi penghormatan atau kedahsyatan. Keadaan badani meliputi sesuatu berkaitan dengan keadaan telanjang, atau kata-kata itu dipakai sebagai kata pelembut untuk alat kelamin.
Contoh dalam Perjanjian Lama (PL), ialah Ezr 9:6; dan dalam Perjanjian Baru (PB) terdapat amanat rasul Paulus di 1 Tim 2:9, dimana ‘aidos’ (biasanya diterjemahkan dengan ‘malu’) dipandang sebagai sesuatu yang ‘baik, sopan’. Dalam Ezr 9:6 dipakai akar kata Ibrani biasa ‘bosy’, yg muncul kebih 90 kali dalam PL dengan pangkal ‘Qal’ saja; 1 Tim 2:9 adalah ‘ay’ satu-satunya dalam PB dengan kata ‘aidos’.
Dalam ajaran Kristen disebutkan bahwa malu bisa menjadi tindakan preventif yang positif dari kasih karunia Allah (Yeh 43:10). Artinya kita harus berbahagia jika kita masih punya “kemaluan” (baca: rasa malu). Karena rasa malu itulah yang akan menunjukkan kita pada karunia Allah.
Rasa malu itu sebuah sifat, sebuah karakter yang muncul bukan hanya sebuah perkataan. Pada prinsipnya ungkapan di atas merupakan nasehat untuk setiap manusia agar memiliki malu kepada Tuhannya terutama dalam kesendiriannya. Kita merasakan ketika sendiri, peluang untuk melanggar itu lebih besar ketimbang bersama orang lain, meskipun anak kecil yang melihatnya. Oleh karena itu rasa malu itu diharapkan dapat menjadi penghalang seseorang untuk berbuat asusila atau pun tindakan keji lainnya.
Untuk menumbuhkan rasa malu tersebut, maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, merasa dilihat oleh Tuhan Yang Maha Melihat segalanya. Kedua menumbuhkan sensitifitas keimanan dan kepedulian. Ketiga, menyibukkan diri kita dengan sesuatu yang baik. Keempat, sering-seringlah mengingat kematian, bahwa jasad kita akan menjadi bangkai, cepat ataupun lambat kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Orang Jawa mengatakan “luwih becik wirang, tinimbang kena waring”, artinya “lebih baik malu (wirang), daripada kita kena jaring (waring) atau tertangkap dan dipermalukan di depan banyak orang”.

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa

1 Comment

Add a Comment
  1. Lanjutkan, sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: