PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

KAWYASABHA: IDE PELESTARIAN SASTRA JAWA KUNA

Kawyasabha ini merupakan istilah yang merupakan penggabungan dari dua kata yaitu kata “kawya” dan “sabha”. Kata “kawya” dapat diartikan sebagai syair, atau sastra kawi itu sendiri. Bahasa Jawa Kuna disebut juga sebagai bahasa Kawi karena kebanyakan bahasa ini digunakan untuk menulis sastra-sasra Kuna. Kata “sabha” dapat diartikan sebagai “rapat atau pertemuan”. Istilah ini muncul dalam pemikiran saya, ketika Pak Ketut Sudira, seorang sesepuh umat Hindu dari Jawa Timur yang getol sekali melakukan upaya-upaya pelestarian bahasa Jawa Kuna di Jawa Timur, mengutarakan niatnya untuk membuat format utsawa dharma gita dengan teks Jawa Kuna.

Menurutnya Utsawa Dharma Gita (UDG) yang sudah dilakukan selama ini sudah bagus, tetapi akan lebih bagus lagi jika dalam UDG tersebut teks-teks sastra yang dilombakan tidak ditulis dengan menggunakan huruf Latin tetapi menggunakan aksara Jawa/Bali Kuna atau Dewanagari. Jika selama ini UDG hanya menilai keindahan suara saja, maka kedepan UDG harus bisa menilai kemampuan peserta dalam membaca ‘aksara-aksara Weda’ seperti layaknya Musabaqah Tilawatil Quran.

Akan tetapi sebelum menuju ke arah itu, yang harus dipersiapkan adalah sumber daya manusianya, baik juri dan calon pesertanya. Karena bisa saja juri dan peserta dalam UDG tersebut tidak tahu atau tidak bisa membaca teks mantra, sloka, atau pun palawakya yang menggunakan aksara Jawa/Bali Kuna atau Dewanagari.

Selain itu masalah pelik yang dihadapi oleh umat Hindu khususnya di Jawa adalah keberadaan aksara Jawa Kuna yang sudah mulai punah. Meskipun bahasa dan aksara Jawa diajarkan di sekolah dasar dan menengah serta dijadikan sebagai muatan lokal dalam kurikulum tidak serta merta menjadikan aksara Jawa Kuna lestari. Justru yang perlu dikhawatirkan adalah punahnya pakem penulisan aksara Jawa Kuna akibat kaburnya sistem penulisan aksara Jawa Baru.

Sebagai contoh, aksara Murdha yang dalam sistem penulisan aksara Jawa Baru, diperuntukkan menulis nama orang penting dan tempat/daerah yang besar. Dalam sistem penulisan aksara Jawa Baru aksara Murdha ini berfungi sebagai huruf kapital. Akan tetapi tidak semua aksara dalam carakan aksara Jawa memiliki bentuk murdha (kapital). Dari 20 buah aksara yang ada hanya 7 buah aksara yang memiliki bentuk murdha yaitu Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Ga, dan Ba. Padahal sesungguhnya, kelompok aksara murdha ini merupakan kelompok aksara cerebral, yang disebut juga murdhanya, di mana kelompok aksara ini dibunyikan atau dibaca dengan cara menggetarkan lidah (lingua) di dekat langit-langit keras (cerebrum atau murdha) ataupun dengan merapatkan lidah pada langit-langit keras. Murdha dalam sistem penulisan aksara Jawa Kuna ini tentu berbeda dengan Murdha dalam sistem penulisan aksara Jawa Baru yang dimaksudkan sebagai huruf kapital. Berikut ini tabel yang menunjukkan perubahan tersebut.

Bentuk Aksara Jawa Kuna Jawa Baru
Ṇa Na (Kapital)
Kha Ka (Kapital)
Tha Ta (Kapital)
Śa Sa (Kapital)
Pha Pa (Kapital)
Gha Ga (Kapital)
Bha Ba (Kapital)

Dengan adanya sistem penulisan aksara Murdha Jawa Baru tentu akan menghapuskan kelompok murdhanya dalam sistem penulisan aksara Jawa Kuna. Secara otomatis 7 buah aksara Jawa Kuna yang digunakan untuk aksara Murdha dalam sistem penulisan Jawa Baru tersebut mengalami perubahan fungsi dan kedudukan. Jika salah satu saja sistem aksara berubah kedudukan dan fungsinya, maka akan mempengaruhi sistem aksara yang lain. Dengan demikian, jika kita akan menulis teks-teks Jawa Kuna dengan menggunakan patokan penulisan Jawa Baru seperti sekarang, kemungkinan besar akan terjadi salah penulisan. Jika salah dalam penulisan kata-kata yang berbahasa Jawa Kuna atau Sanskerta, maka ada kecenderungan salah maknanya, misalnya kata “phala” ditulis dengan “pala” atau sebaliknya. Penulisan yang salah seperti ini akan mempengaruhi arti kata. Kata “phala” berarti “buah atau hasil”, sementara itu kata “pala” berarti “pengawal atau penjaga”.

Di samping itu dalam sistem penulisan aksara Jawa Baru saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa manca negara terutama bahasa Arab. Karena sistem penulisan aksara Jawa tidak memungkinkan untuk menulis kata-kata yang berasal dari Arab, maka dibuatlah aksara rekan atau aksara yang direkayasa. Aksara rekan ini berfungsi untuk menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing terutama kata-kata Arab seperti: khotib, fakir, dzikir, zakat dan lain-lain. Penulisan aksara rekan ini tentu menyalahi aturan penulisan dalam aksara Jawa Kuna, dimana setiap aksara rekan tersebut dibubuhi dengan cecak pangkat tiga. Padahal cecak sendiri berfungsi untuk menggantikan suara sengau ng.

Itu hanyalah salah satu dari masalah pelik yang ada dalam kesusastraan Jawa. Meskipun dalam serat-serat Jawa yang ada di museum Radya Pustaka masih menggunakan tatacara penulisan aksara Jawa Kuna, tetapi buku-buku pepak atau pedoman-pedoman penulisan aksara Jawa Baru yang disebarkan ke sekolah-sekolah sudah menggunakan sistem penulisan yang baru tersebut.

Berpijak pada permasalahan tersebut, maka sekiranya perlu digagas sebuah pertemuan atau konggres untuk membahas Bahasa dan Sastra Jawa Kuna. Konggres Bahasa dan Sastra Jawa Kuna atau yang dalam tulisan ini saya sebut sebagai kawyasabha ini perlu digalang dan segera diwujudkan. Selain untuk menyelamatkan keberadaan aksara Jawa Kuna, kawyasabha ini bisa digunakan sebagai wahana untuk mengkaji, menelaah, merumuskan dan menyusun kembali butiran mutiara aksara Jawa Kuna yang mungkin sudah banyak mengalami perubahan setelah ratusan tahun silam terkubur dalam lautan sejarah.

Dengan kawyasabha ini maka kita bisa menata kembali sistem penulisan aksara Jawa Kuna dan mengembalikannya ke ‘jalur yang benar’. Kita harus ingat bahwa aksara adalah lambang kehidupan (hurup iku hurip). Dan dalam kehidupan, kita harus menemukan cahaya melalui aksara (hurip iku hurup). Jika kehidupan kita telah dirusak dan cahaya kehidupan kita telah padam, maka kita pun akan tersesat dan mengalami kehancuran.

Agama Hindu mengajarkan kepada kita agar menjadi orang yang bertongkatkan sastra (sang ateken ring sastra). Artinya sastra adalah tiang dari agama itu sendiri. Agama tanpa sastra ibarat rumah tanpa penyangga. Sementara itu untuk memahami sastra secara mendalam maka pengetahuan tentang aksara mutlak diperlukan. Orang yang sudah memahami sastra agama dan menjadikan sastra tersebut sebagai hiasan tingkahlakunya (sastra minangka wastra) akan dikenal sebagai sang kawi wiku.

Sejalan dengan itu, maka parisada, bimas Hindu, perguruan tinggi agama Hindu atau lembaga keagamaan Hindu lainnya perlu memikirkan bagaimana tradisi keberaksaraan dalam kesusastraan Jawa Kuna tersebut bisa terus digulirkan baik secara formal, non formal maupun informal. Jika perlu kegiatan kawyasabha ini bisa dijadikan sebagai agenda rutin oleh PHDI atau Ditjen Bimas Hindu seperti halnya Mahasabha dan UDG Nasional. Jika alokasi anggaran untuk itu tidak memungkinkan kawyasabha ini bisa diselipkan pada saat Mahasabha atau UDG Nasional. Sehingga sisa waktu pasca kegiatan lomba-lomba dalam kegiatan UDG atau Mahasabha yang selama ini lebih banyak digunakan untuk jalan-jalan atau kumpul-kumpul bisa dialokasikan untuk kawyasabha.

Kawyasabha atau apalah namanya nanti kalau disetujui, adalah kegiatan rembug sastra Jawa Kuna penting untuk dilaksanakan untuk memantau sejauh mana pelestarian dan perkembangan kesusastraan Jawa Kuna di lingkungan umat Hindu. Kita harus ingat bahwa kesusastraan Jawa Kuna tidak bisa dipisahkan dari kesusastraan Hindu. Dan untuk menyelami lautan sejarah Hindu di Indonesia kita perlu mendalami kesusastraan Jawa Kuna.

Sebagai generasi penerus sejarah, maka sudah seharusnya kita melestarikan permata budaya yang bernama sastra Jawa Kuna tersebut. Untuk menghargai sebuah permata tidaklah dengan cara menaruhnya di dalam lemari kaca dan hanya menjadi pemandangan yang indah bagi para pengunjung museum. Tetapi permata itu harus dipakai sebagai sebuah hiasan dari pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Demikian juga sastra dan aksara Jawa Kuna, untuk menghargainya maka kita harus mengenakannya sebagai hiasan bahasa yang kita untaikan dalam nyanyian kita setiap harinya.

 

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (tulisan ini pernah dimuat di Media Hindu)

Updated: 5 June 2018 — 17:47

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: