PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

KASTA: BOLA LIAR YANG SENGAJA DIUMBAR

Sebenarnya terkait dengan masalah kasta atau pembagian masyarakat ini sudah pernah dikupas secara tuntas oleh Bapak Ketut Wiana dan Bapak Raka Santeri dalam sebuah buku “Kasta, Kesalahpahaman Berabad-Abad” (1993). Buku ini diberi pengantar oleh I Putu Setia (kini Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda). Dalam buku tersebut sudah dijelaskan secara detail bahwa dalam Hindu tidak mengenal kasta. Dalam Weda tidak ada disebutkan tentang kasta, yang ada adalah catur warna.

Meski demikian masih banyak buku-buku umum hingga buku pelajaran terbitan pemerintah maupun swasta yang menyebutkan dalam Hindu ada “ajaran tentang kasta.” Selain itu masih sering terdengar penceramah-penceramah non-Hindu yang menyebut bahwa dalam Hindu ada penggolongan masyarakat yang mereka sebut sebagai kasta. Informasi tentang kasta yang disampaikannya pun cenderung menyudutkan dan mendiskreditkan ajaran Hindu. Singkatnya Hindu sering kali menjadi bulan-bulanan para misionaris yang ingin mempengaruhi umat Hindu untuk bergeming dari sraddhanya.

Tak hanya berhenti sampai di situ. Pengetahuan tentang kasta tersebut diperparah lagi dengan penyebutan golongan parya yang nyata-nyata tidak ada lam sistem catur warna dalam Hindu. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang penerbitannya diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan (Kemdikbud) baik versi cetak (offline) maupun versi online, malah disebutkan ada kasta tambahan yang yang disebut paria. Dalam KBBI ini ditulis bahwa paria adalah golongan rakyat yang dihina-hina dalam masyarakat Hindu”.

Adapun kutipan dalam KBBI (Tim Penyusun, 2005:512-513) tersebut adalah sebagai berikut:

kasta/kas·ta/ n golongan (tingkat atau derajat) manusia dalam masyarakat beragama Hindu;

— brahmana golongan pendeta dalam masyarakat Hindu;
— kesatria golongan bangsawan dan prajurit dalam masyarakat Hindu;
— paria golongan rakyat jembel (yang hina-dina) dalam masyarakat Hindu;
— sudra golongan rakyat biasa dalam masyarakat Hindu;
— waisya golongan pedagang, petani, dan tukang dalam masyarakat Hindu

(https://www.kbbi.web.id/kasta)

Ini tentu presenden buruk bagi ajaran Hindu. Karena jika orang yang tidak pernah mengenal Hindu akan menilai bahwa dalam Hindu dibenarkan untuk menghina suatu kaum yang dianggap rendah. Padahal dalam Weda banyak mantra/sloka yang mengajarkan kita untuk selalu menghormati orang atau mahkluk lain. Dalam Yajur Weda XL.6 disebutkan:

यस्तु सर्वाणि भूतन्यात्मन्नेव अनुपश्यति ।  सर्वभूतेषु चात्मनां ततो न वि चिकित्सति ॥

yastu sarwani bhutany atmannewa anupasyati, sarwabhutesu catmanam tato na wi cikitsati.

Terjemahan:

Seseorang yang melihat Dia berada pada setiap mahluk dan kemudian melihat semua mahluk ada pada-Nya, ia tidak akan membenci yang lain.

Jangankan kepada sesama manusia, kepada anjing pun umat Hindu dianjurkan untuk bisa menghargai. Bahkan dalam bab Swargarohana Parwa (bagian dari Mahabharata), diceritakan bahwa anjing pun bisa masuk sorga. Dan Dewa Dharma sendiri rela ‘menjelma’ menjadi seekor anjing. Selain itu banyak personifikasi Dewa yang diwujudkan dalam wujud binatang. Bagaimana mungkin agama yang bisa menghargai binatang layaknya Dewa, kemudian menjadikan sesamanya sebagai orang ‘parya (kaum yang hina)”. Jelas sangat tidak mungkin jika Weda mengajarkan untuk menghina sesama manusia atau makhluk lainnya.

Lebih jauh ajaran tat twam asi dalam Hindu menganjurkan umatnya untuk saling mencintai seluruh alam semesta. Karena dalam Upanisad dikatakan bahwa sesungguhnya semua yang ada di alam ini adalah bagian dari Brahman, Tuhan yang Maha Kuasa (सर्व खल्विदं ब्रह्मन् sarwa khalu idam brahman). Dalam Maha Upanisad 6.72 bahkan disebutkan semacam ini:

अयं बन्धुरयं नेति गनना लघुछेतसां । उदारछरितानां तु वसुधैव​ कुतुम्बकं ॥

ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam

Terjemahan:

Pemikiran bahwa hanya dialah saudaraku, selain dia bukan saudaraku,  adalah pemikiran dari orang yang berpikiran sempit. Bagi mereka yang berwawasan luas, atau orang mulia, mereka mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga besar.

Ironisnya istilah kasta sendiri tidak ditemukan dalam kosakata bahasa Sanskerta (bahasa Weda). Kalau dicari dalam Kamus Sanskerta, kata कस्त (kasta) artinya ‘membuka, melongo’. Sungguh pengertian yang jauh dari pemahaman kasta sebagaimana disebutkan di atas.

Kasta sebagaimana dimaksudkan di atas berasal dari bahasa Spanyol dan Portugis ‘casta’ yang artinya ‘pembagian masyarakat’. Kita tahu bahwa mereka adalah bangsa penjajah. Dan kebiasaan bangsa penjajah adalah memecah belah bangsa atau negara yang akan dijajahnya. Salah satu cara yang paling efektif untuk menciptakan perpecahan adalah dengan cara membuat kesenjangan baik itu secara ekonomi, pendidikan, bahkan stratifikasi sosial. Dengan kasta ini maka, bangsa penjajah melakukan taktik “devide et impera”.  Hampir semua bangsa di belahan bumi Timur ini pernah merasakan jajahan dari orang-orang Barat (Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, dll).

India merupakan negara tempat di mana tempat Weda (kitab suci Hindu) diturunkan. Peradaban Weda pun diyakini bermula dari lembah sungai Sindhu. Secara umum orang-orang Barat mengidentikan Hindu dengan India. Negara India sendiri merupakan salah satu jajahan Inggris yang sudah merasakan bagaimana pahitnya penjajahan bangsa Barat. Oleh para penjajah, India diciptakan menjadi bangsa yang berkasta-kasta. Mungkin karena inilah kemudian dunia menganggap bahwa Hindu mengenal kasta.

Secara tegas dalam literatur atau sastra dan susastra Hindu tidak ada penyebutan kasta sebagaimana dijelaskan di atas. Sumber-sumber dalam sastra dan susastra Weda hanya menyebutkan istilah catur warna. Namun demikian penjelasan catur warna sebagaimana disebut dalam Weda jauh berbeda dengan penjelasan pada KBBI di atas.

Dalam Bhagawad Gita IV.13 disebutkan:

चातुर्वर्ण्यं मया षृस्ष्टं गुण कर्म विभागशः । तस्य कर्तारमपि मां विद्यकर्तारमव्ययाम् ॥

cātur warṇyaḿ mayā sṛṣṭaḿ guṇa karma wibhāgaśaḥ, tasya kartāram api māḿ viddhyakartāram avyayām.

Terjemahan:

Menurut tiga sifat sifat atau kualitas (guna) dan pekerjaan (karma) yang ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian masyarakat manusia (catur warna) tercipta oleh-Ku. Walaupun Akulah yang menciptakan sistem ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa Aku tetap sebagai yang tidak berbuat, karena Aku tidak dapat diubah.

Dari sloka di atas dapat diketahui bahwa catur warna tercipta bukan karena keturunan, tetapi guna (kualitas) dan karma (pekerjaan) seseorang. Orang bisa disebut brahmana jika memang dia memiliki kualitas kebijaksanaan yang lebih daripada manusia lain dan karma (pekerjaannya) berhubungan dengan ilmu pengetahuan rohani. Jika seseorang memiliki kualitas yang baik di bidang olah keprajuritan, keterampilan kepemimpinan, dan pekerjaannya berkaitan dengan bagaimana melindungi masyarakatnya maka dia disebut ksatria. Jika seseorang memiliki kualitas dan keterampilan dalam menjalankan roda perekonomian dan bekerja di bidang usaha atau perdagangan maka dia disebut sebagai waisya. Dan jika seseorang memiliki kualitas dalam pelayanan dan bekerja untuk membantu ketiga golongan di atas maka dia disebut sebagai sudra.

Namun yang perlu diingat adalah bahwa sloka di atas tidak mengajarkan bahwa anak seorang brahmana secara otomatis menjadi brahmana, seorang ksatriya secara otomatis menurunkan ksatriya, anak waisya otomatis akan menjadi waisya, dan anak seorang sudra akan tetap menjadi sudra. Itulah perbedaan yang mendasar antara warna dan casta sebagaimana disebutkan di atas.

Kasta cenderung ingin mempertahankan status quo-nya, karena kasta ditentukan berdasarkan keturunannya. Dari mana dia lahir disitulah ditentukan kastanya. Orang yang menjadi raja atau sultan haruslah keturunan raja atau sultan itu sendiri. Misalnya saja di Keraton Jogja, siapa pun yang tidak punya trah sultan tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi raja. Inilah konsep kasta yang sesungguhnya. Negara-negara di dunia yang berbentuk kerajaan, masih menerapkan “sistem kasta” semacam ini.

Konsep kasta tersebut justru berbanding terbalik dengan konsep warna dalam Hindu. Catur warna dalam Hindu memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bisa menjadi bagian dari catur warna tersebut sesuai dengan guna (kualitas) dan karma (perbuatan). Hal ini selaras dengan pengertian warna yang dalam bahasa Sanskerta berasal dari akar kata वृ yang artinya “memilih, berubah” (Monier-William,1889:1007). Artinya seseorang bebas memilih dia mau (berubah) menjadi brahmana, ksatriya, waisya, atau pun sudra. Tentu syarat dan ketentuan berlaku.

Jika mereka rajin menuntut ilmu, memiliki niat dan minat yang tinggi untuk belajar Weda, mau berusaha sekeras mungkin untuk melaksanakan lelaku sebagaimana diajarkan Weda, maka meskipun dia seorang anak sudra dia bisa menjadi seorang brahmana. Demikian pula seorang anak brahmana yang tidak mau belajar dan berusaha lebih giat, maka dia pun bisa menjadi sudra.

Menyimak uraian di atas, maka semestinya apa yang ditulis pada KBBI tersebut di atas harus direvisi. Kemdikbud sebagai pihak yang menerbitkan KBBI ini mestinya harus ikut bertanggung jawab terhadap isi dari kamus ini. Jika ada istilah yang menyangkut ajaran agama atau suatu keyakinan mestinya harus kroscek terlebih dahulu kepada ahli agama/keyakinan yang bersangkutan.

Penjelasan pada KBBI tersebut bisa dimanfaatkan oleh siapa saja untuk menyudutkan dan mendiskreditkan agama Hindu. Jika ini digunakan oleh para misionaris dan akademisi yang (maaf) “kurang ajar (baca: kurang terpelajar)”, maka dari penjelasan ini mereka bisa menafsirkan bahwa Hindu adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk menghina sesama manusia.  Dengan mengamati fenomena yang terjadi selama ini, saya khawatir bahwa masalah kasta ini sengaja dibiarkan ibarat bola liar yang memang diumbar agar bisa dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan (goal) tertentu oleh mereka yang ingin menjadikan Hindu sebagai sasaran tembaknya.

Untuk itu pemerintah harus hadir dalam hal ini, untuk ikut meluruskan permasalahan kasta yang telah disalahgunakan tersebut. Jika pemerintah membiarkan ‘bola liar’ tersebut menggelinding di sekolah-sekolah, maka kredibilitas pemerintah sebagai pengayom seluruh lapisan masyarakat patut dipertanyakan.

 

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Duta Dharma, Penulis Buku-buku Hindu dan Budaya Jawa)

Updated: 12 Mei 2018 — 14:25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

©Pandunusa 2018
%d blogger menyukai ini: