PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

JADAH UNTUK PEGAWAI TELKOM

(Malang@Warta-Pandunusa) Jadah adalah kue tradisional yang bahan baku utamanya adalah beras ketan. Dalam masyarakat Jawa, jadah biasanya digunakan untuk suguhan pada saat hajatan. Selain itu jadah kadang juga dijadikan sebagai sarana untuk upacara adat Jawa. Lalu, jadah untuk telkom? Apa hubungannya antara jadah dengan telkom? Nampaknya tidak ada hubungannya kan?

Ya memang benar , jadah sebagaimana dimaksudkan dalam tulisan ini bukanlah jadah biasa. Namun jadah di sini adalah jadah yang luar biasa. Karena jadah untuk telkom di sini bukanlah kue tradisional sebagaimana yang disebutkan di atas. Jadah dalam tulisan ini adalah singkatan dari “Jaga Agamamu Damailah Arah Hidupmu”. Itulah materi pembinaan yang disampaikan oleh Wakil Sekjen PP Pandu Nusa, Miswanto kepada pegawai Telkom yang beragama Hindu saat Pembekalan Pegawai Purnatugas oleh Telkom di Hotel Savana, Malang, 3 April 2018 lalu.

Dalam acara tersebut Miswanto yang juga sebagai Sekretaris Badan Penyiaran Hindu (BPH) Provinsi Jawa Timur ini mengingatkan agar sebagai umat Hindu kita senantiasa menjaga agama kita dengan baik. Hal ini disampaikannya mengingat banyak pengusaha/pegawai/karyawan Hindu yang notabene mapan secara pendidikan dan perekonomian, namun justru malah kadang ikut arus dan meninggalkan dharma yang selama ini diyakininya. Oleh karenanya mapan secara ekonomi dan pendidikan bukanlah jaminan bahwa seseorang akan bisa mempertahankan agamnya. Yang terpenting adalah mapan sraddha dan bhaktinya.

Sang Duta Dharma yang sudah berkeliling di pelosok nusantara ini juga mengutip sebuah sloka dalam Manawa Dharmasastr VIII.15 yang bunyinya: धर्म एव हन्तो हन्ति धर्मो रक्षति रक्षितः । तस्मद्धर्मो न हन्तव्यो मा नो धर्मो हन्तो ऽवधित् ॥ (Dharma yang dilanggar akan menghancurkan pelakunya. Dharma yang dipelihara akan menjaga pemeliharanya. Oleh karenanya jangan sampai dharma dilanggar, melanggar dharma akan menghancurkan kita sendiri). Ayah dua ini ini juga menekankan pentingnya memahami sloka ini agar dalam mengaruhi kehidupan ini kita bisa mencapai kebahagiaan sebagaimana diamanatkan dalam Sarasamuscaya 14 yang mengatakan bahwa “dharma adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan, ibarat perahu bagi para saudagar untuk mengarungi lautan”. Bagi umat Hindu dharma adalah sarana untuk mengarungi lautan samsara di dkehidupan yang fana ini.

Untuk menjaga dharma dengan baik, Ketua MGMP Pendidikan Agama Hindu Provinsi Jawa Timur ini menjelaskan bahwa selain sraddha dan bhakti, kita harus bisa menjaga perilaku kita akan tetap berada di jalur susila. Susila adalah perbuatan yang selalu mengupayakan untuk kebaikan (sila ngaraning mangraksaracara rahayu). Demikian sebagaimana dinyatakan dalam Wrhaspatti Tattwa. Selama kita bisa menjaga perbuatan kita maka kita juga bisa menjaga dharma kita. Karena sesungguhnya dalam susastra Weda disebutkan bahwa hanya dengan perbuatan (baik) kita bisa menjaga dharma kita (वृत्तेन रक्षते धर्मो).

Kadang ketika masa-masa dimana manusia sudah mulai berkurang penghasilannya atau sudah memasuki masa pensiuan, dia bisa saja frustasi atau stress. Lebih-lebih mereka yang masih memiliki tanggungan, tentu akan lebih sulit lagi. Dalam kondisi yang sulit, bisa saja orang lain dengan mudah mempengaruhinya, termasuk keyakinannya. Untuk itu menurut penceramah yang dikenal sebagai Romonadha ini perlu ada manajemen stress menghadapi masa-masa seperti itu. Dalam pada itu menurut penulis buku-buku Hindu dan Budaya Jawa ini seseorang harus memiliki tiga hal yaitu guna, kaya, dan purun sebagaimana yang diajarkan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Tripama.

Guna adalah pengetahuan dan skill atau kemampuan. Mereka yang pensiuan harus bersiap menjadi seorang yang mandiri. Dia harus memiliki skill yang baik agar bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Seperti pada saat pembekalan, tersebut peserta juga dibekali dengan pengetahuan tentang enterpreneurship. Kaya adalah kerja nyata. Jika kita tidak melaksanakannya mustahil kita bisa mendapatkan hasil dari pekerjaan kita.  Purun adalah kemauan dan keberanian yang bebas dari rasa gengsi. Biasanya orang dengan jabatan tinggi setelah pensiun memiliki gengsi yang tinggi. Gengsi ini akan menjadi hambatan semua orang untuk bisa “bertahan” baik secara ekonomi maupun sosial. Ingat lho setinggi apapun jabatan kita, itu semua hanya titipan. Tolong digarisbawahi ya “titipan”.

Dengan gaya yang cukup santai dan penuh selingan humor nara sumber jebolan IHDN dan UNHI Denpasar ini mengajak peserta untuk tetap stay cute dalam gelombang Dharma yang diyakininya. Di akhir penampilannya, Wakil Sekretaris PHDI Provinsi Jawa Timur ini menganalogikan umat seperti jadah yang memiliki sifat lengket. Jika kita sebagai umat Hindu bisa menjadi JADAH (Jaga Agamamu Damailah Arah Hidupmu), maka Hyang Widdhi pun bisa “lengket” seperti terkena jadah beneran dan akan memberkati hidup kita sepanjang masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: