PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

ESENSI PADMASANA DALAM PENDAKIAN SPIRITUAL

Pura sebagai tempat yang disucikan bagi umat Hindu mempunyai arti yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupannya, terutama untuk umat Hindu di Bali. Ini terbukti dengan banyaknya jenis pura sesuai dengan fungsi dan karakterisasinya  seperti : Pura Kahyangan Jagat, Pura Subak, Pura Melanting, Pura Kawitan dan sebagainya. Dalam setiap Pura tersebut juga terdapat berbagai macam pelinggih sebagai perwujudan Hyang Widhi dalam berbagai aspek-Nya.

Diantara pelinggih-pelinggih tersebut, yang kini banyak dikenal oleh seluruh umat Hindu terutama di luar Bali adalah Padmasana. Pelinggih yang satu ini dianggap sebagai pelinggih yang utama untuk Pura-pura di luar Bali. Pelinggih yang terdiri atas bagian kaki (tepas), badan (batur) dan kepala (sari) ini diangap sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dalam segala manifestasiNya.

Dalam fungsi utamanya ini, Padmasana dilengkapi dengan Bedawang Nala, seekor kura-kura raksasa yang dibelit dengan dua atau seekor naga yang terletak di bagian tepasnya. Dan bagian belakangnya biasanya diisi gagak dan angsa. Pada bagian baturnya dilengkapi dengan gambar (pahatan) atau patung asura dan para dewa. Sedangkan pada bagian sarinya berbentuk singasana atau kusi yang dilengkapi dengan gambar Sang Hyang Acintya. Semua ornamen tersebut diambil dari cerita “Pemutaran Gunung Mandhara”. Jadi pembangunan padmasana ini juga diilhami oleh cerita tersebut.

Pada cerita tersebut terdapat sebuah makna yang sangat dalam jika dikaitkan dengan pemujaan kita kepada padmasana yang pada hakekatnya pemujaan ini dimaksudkan untuk menuju kesucian (padma) agar dapat mencapai singgasana Tuhan yang tidak terpikirkan itu (acintya). Dalam cerita itu pula kita dapat memetik buah makna dalam pendakian sprititual kita.

Sebagaimana diceritakan dalam Pustaka Agni Purana atau atau pustaka lainnya, ketika para dewa mengalami kekalahan dalam perang melawan daitya dan mendapatkan tekanan dari para daitya itu, maka atas petunjuk Dewa Brahma para dewa mengadakan perundingan dengan daitya untuk mendapatkan Tirta Amerta melalui pengadukan Samudra Manthana.

Sedangkan sebagai tonggak untuk mengaduk samudra tersebut digunakanlah Gunung Mandhara sebagai poros pengadukan samudra itu. Untuk itu gunung ini perlu diputar dan digunakanlah Naga Vasuki sebagai talinya. Para dewa memegang kepala naga dan para daitya memegang ekor naga.

Ketika gunung itu diputar, terjadilah goncangan alam yang menyebabkan dunia ini hampir tenggelam ke samudra. Untuk menyelamatkan dunia, maka Dewa Wisnu turun ke dunia dalam bentuk Kurma (kura-kura raksasa) untuk menyangga agar dunia tidak tenggelam ke dalam samudra.

Sebagai hasil yang pertama pada pengadukan itu, keluarlah racun yang sangat mematikan yang bernama Kalakuta yang bisa membahayakan keselamatan penghuni dunia termasuk para dewa dan daitya yang sedang memutar Gunung Mandhara itu. Mengetahui hal ini Dewa Siwa segera menelan racun itu yang menyebabkan lehernya menjadi biru sehingga Beliau dikenal sebagai Nilakantha.

Kemudian keluarlah Dewi Aruni atau Anggur (Sura) sebagai hasil yang kedua. Para daitya menolak Dewi Aruni karena itu, mereka dikenal sebagai Asura dan para dewa yang menerima Dewi Aruni dikenal sebagai golongan Sura.

Setelah itu disusul dengan keluarnya permata yang indah (Kaustubha), pohon Parijata yang kemudian untuk mengisi Kahyangan Indra, Sapi kapila, Kuda Uccaiasrawa, dan Gajah Airawata yang nantinya digunakan sebagai kendaraan Dewa Indra, lalu diikuti oleh para penari surga yang disebut Apsara (kerena keluar dari air). Selanjutnya keluarlah Dewi Laksmi yang kemudian dijadikan permaisuri oleh Dewa Wisnu dan akhirnya Dhanwatari (sumber Ayur Weda) yang membawa pot yang berisi Amerta.

Pada cerita selanjutnya terjadilah perdebatan tentang siapa yang akan membagikan Amerta itu dan yang lebih dahulu mendapatkannya. Kemudian setelah mengetahui hal ini, maka Dewa Wisnu menjelma menjadi wanita cantik yang membuat para asura mabuk oleh kecantikannya dan akhirnya wanita tersebutlah yang diminta untuk membagikan amerta itu.

Karena wanita itu adalah penjelmaan Wisnu, maka yang mendapat giliran pertama adalah para dewa. Setelah para dewa mendapatkannya amerta itu tidak jadi diberikan kepada asura yang menyebabkan pertengkaran antara para sura melawan asura. Namun karena para dewa sudah mendapatkan amerta yang membuatnya abadi, maka para asurapun akhirnya kalah.

Akan tetapi seorang raksasa mengetahui rencana Dewa Wisnu sebelum pembagian amerta tersebut. Kemudian raksasa yang bernama Rahu tersebut menyamar sebagai Dewa Candra yang menyebabkan ia mendapatkan bagian amerta tersebut. Namun Dewa Surya dan Candra yang mengetahui hal tersebut segera melaporkannya kepada Dewa Wisnu. Sebelum amerta tersebut sampai ditubuh Rahu, Dewa Wisnu memotong leher Rahu dengan Cakra Sudarsana-Nya sehingga hanya kepala Rahulah yang abadi karena telah mendapat amerta itu.

Kemudian Rahu ingin membalas dendam pada Dewa Surya dan Candra yang telah melaporkannya pada Dewa Wisnu dan ia mulai berdoa pada-Nya. Kemudian Dewa Wisnu memberikan anugrah kepada Rahu bahwa pada hari-hari tertentu ia diperbolehkan memakan Dewa Surya dan  Candra (ingat terjadinya Gerhana Bulan dan Matahari).

Dari cerita tersebut, dapat kita ambil suatu makna bahwa untuk mendapatkan amerta (keabadian) yang dalam hal ini kita ibaratkan sebagai tujuan tertinggi (The Supreme Goal) yaitu Moksa, maka kita harus melalui kerja keras yang tidak pantang menyerah. Melalui proses pendakian seperti ini maka kita akan mencapai Moksa itu sendiri.

Dalam hal ini, kadang kala kita harus berani untuk menelan pil pahit atau bahkan racun sekalipun sebagai mana yang dilakukan Dewa Siwa ketika menelan Racun Kalakuta yang keluar dalam pengadukan tersebut. Begitu juga dalam proses pendakian spiritual, banyak ujian yang harus kita hadapi, kadang kala berupa penderitaan lahir seperti lapar, haus dan sakit dan sebagainya atau mungkin juga penderitaan seperti cemoohan, hinaan, fitnah dan lain-lain yang kesemuannya itu harus kita telan sebagai obat dari sakit yang nantinya lebih menyakitkan lagi.

Ketika kita mendapatkan penderitaan atau kesulitan yang maha berat tersebut kita harus tetap tenang dan bisa menyeimbangkannya kalau kita ingin berhasil dalam proses pendakian kita. Namun kadang kala orang mudah putus asa karena kesulitan tersebut, yang kemudian mencari kemudahan yang sebenarnya menyesatkan.

Setelah melewati penderitaan itu, biasanya kita akan dihadapkan pada suatu kenikmatan dunia (bhoga) yang kalau kita tenggelam di dalamnya, maka kita akan hancur. Namun kita juga tidak harus menolaknya sebagaimana diceritakan ketika para daitya menolak Dewi Aruni, Kaustubha, Parijata dan seterusnya justru membawa mereka pada kegagalan dalam mendapatkan amerta.

Semua kesenangan dan kenikmatan itu harus kita terima sebagaimana kita menerima kesulitan dan penderitaan tadi, yaitu dengan kondisi yang tetap seimbang. Bhagavad Gita menganjurkan kepada kita untuk tetap seimbang dan tenang dalam kondisi suka ataupun duka.

Banyak pelaku spiritual yang berlagak anti pada kenikmatan dan kesenangan dengan berpura-pura sebagai yogi, akan tetapi malah “mengganggu” orang-orang lainnya yang menikmati kesenangan. Hal ini pun sebenarnya akan membawa kita pada penderitaan yang lebih berat lagi sebagaimana Raja Pandu ketika membunuh binatang yang sedang berkasih-kasihan yang mengakibatkan ia jatuh dalam penderitaan.

Namun demikian, kita juga tidak boleh berhenti pada kesenangan-kesenangan yang bersifat sementara tersebut, karena pada hakekatnya kesenangan duniawi (Jagadhita) tersebut adalah batu loncatan untuk mencapai kebahagiaan abadi (Moksa). Akan tetapi bukan berarti pula kita harus berprinsip,”Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga”. Ini adalah suatu hal yang mustahil dalam proses pendakian spiritual. Justru kesenangan tersebut adalah ujian yang maha hebat sebagaimana narkotik yang menyenangkan sekaligus mematikan. Hal tersebut sudah ditunjukkan dalam Bhagavad Gita VI. 7 yang menyatakan : जितात्मनः प्रशान्तस्य परमात्मा समाहितः । शीतोष्ण सुख दुःखेषु तथा मानापमानयोः ॥ (Orang yang dapat menguasai jiwanya, yang mencapai ketenangan Paramatman, akan tetap seimbang terhadap panas dan dingin, terhadap suka dan duka, terhadap pujian dan cacian)

Dari makna yang dapat kita ambil dalam pemujaan pada padmasana yang merupakan refleksi dari cerita pencarian amerta tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa untuk menuju kesucian guna mendapatkan kebahagiaan yang abadi ini, maka kita harus dapat melewati hukum rwa bhineda yang sudah diciptakan oleh-Nya. Tanpa itu, mustahil kita dapat mencapai kebahagiaan tersebut.

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (artikel ini pernah dimuat di Warta Hindu Dharma)

2 Comments

Add a Comment
  1. Om Svastyastu, terima kasih pencerahannya utk menambah wawasan dalam pembelajaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: