PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

DHARMAWACANA: GALUNGAN, KEJAYAAN DHARMA DAN REKONSILIASI UMAT

ॐ स्वस्त्यस्तु ।

Para Pandita/Pinandita/Pemangku/Wasi/Basir yang telah disucikan,

Bapak/Ibu tokoh umat Hindu yang saya hormati,

Para umat sedharma yang berbahagia.

Pertama-tama marilah pada kesempatan yang baik ini kita menghaturkan puja dan puji kehadapan Ida Sanghyang Widdhi Wasa karena telah menganugerahkan segalanya kepada kita sehingga kita masih bisa merayakan Hari Suci Galungan yang jatuh setiap Buddha Kliwon Dunggulan sebagaimana kita rayakan pada hari ini.

Bapak/Ibu umat sedharma yang berbahagia pada kesempatan ini perkenankan saya membawakan dharma wacana dengan judul “Galungan, Kejayaan Dharma Dan Rekonsiliasi Umat”.

Hari raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu adalah hari kejayaan, hari kemenangan. Hari raya ini di India disebut Śrāddha Vijaya Daśami, yakni hari kemenangan yang dirayakan selama 10 hari. Di India Timur disebut juga dengan nama Navarātri atau Durgā Pūjā. Navarātri adalah perayaan yang berlangsung selama 9 hari dan pada hari ke 10 diakhiri dengan Durgā Pūjā.

Durgā Pūjā merupakan hari pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai seorang ibu yang cantik, mengendarai seekor singa, bertangan 8 dan masing-masing tangannya membawa berbagai senjata pemberian para dewata yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun.

Hari raya Śrāddha Vijaya Daśami (umumnya dirayakan di seantero India, dikaitkan dengan kemenangan Sri Rāma melawan Ravana), sedang Durgā Pūjā dikaitkan dengan kemenangan dewi Durgā menghadapi raksasa yang bernama Raktavijaya yang berwujud seekor kerbau (mahiṣa aśura) yang sangat sakti. Raksasa ini hanya bisa ditumpas oleh dewi Durgā, rupanya dewi ini kewalahan menghadapinya.

Mengatasi situasi itu maka berdatanganlah para dewa Aṣṭadikpālaka dari 8 penjuru memberikan bantuan berupa berbagai senjata. Saat itu dari tubuh dewi Durgā muncul 6 tangan (di samping 2 tangan-Nya yang asli) memegang senjata para dewa tersebut. Kemudian raksasa tersebut berhasil dibunuh oleh dewi Durgā, karena itu dewi dikenal pula dengan nama Mahiṣa-aśura-mardini (yang membunuh raksasa dalam wujud seekor kerbau). Pemujaan kepada dewi Durgā ini sangat populer di India sejak masa yang silam hingga kini. Rupanya di Indonesia pemujaan kepada dewi Durgā juga sangat populer, terutama bila kita melihat peninggalan purbakala berupa banyaknya arca-arca Durgā-mahiṣa-aśura-mardini di beberapa tempat di Jawa Tengah, Jawa-Timur dan Bali.

Di Bali pemujaan kepada dewi Durgā rupanya menjadi tonggak perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran pada saat Mahendradattā yang dikenal juga dengan nama Gunapriyā Dharmapatnī, permaisuri raja agung Dharma Udayana Varmadeva meninggal dunia dan setelah upacara Ngaben dan Nyekah selanjutnya disthanakan dalam upacara Devapitrapratiṣṭha (ngaliggihang dewa hyang) di Burwan, Kutri, Gianyar, diarcakan dalam wujud Durgā-mahiṣa-aśura-mardini.

Di dalam beberapa prasasti peninggalan raja Dharma Udayana Varmadeva (yang meninggal belakangan dari permaisurinya) disebutkan “añucyaken pitra, angaturaken tarpana dewī“. Upacara “añucyaken pitra” mengandung makna yang sama atau dekat dengan upacara Śrāddha, yaitu mempersembahkan sesajen (dan penyucian) kepada para leluhur pada hari raya Galungan, sedang “angaturaken tarpana dewī” adalah upacara persembahan kepada dewi Durgā dengan ciri khas persembahan berupa daging babi. Sejak saat itu, kiranya perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran dirayakan di Bali, sedang informasi lainnya dapat ditemukan dalam lontar “Pañji Amalat Raśmi”, yang juga menceritrakan perayaan Galungan dan Kuningan tersebut.

Apakah saat atau bulan pada hari raya Galungan dan Kuningan bersamaan dengan berlangsungnya hari raya Śrāddha Vijaya Daśami? Untuk dimaklumi bahwa sistem kalender yang digunakan oleh umat Hindu di India dan Bali berbeda. Di India dalam sistem kalendernya tidak menggunakan perhitungan Wuku (tahun yang datangnya setiap 210 hari sekali), tetapi menggunakan tahun surya (solar sistem) yang datangnya 12 bulan sekali. Hari raya Śrāddha Vijaya Daśami pada umumnya jatuh pada bulan September-Oktober (Vettam Mani, 1989: 853). Kenapa perayaan Galungan dan Kuningan tidak jatuh bersamaan seperti halnya di India.

Hal ini dapat dijelaskan, bahwa sebelum agama Hindu masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia asli telah memiliki sistem kalender yang dikalangan orientalis disebut Bali-Javano-calender yang kita kenal dengan tahun Wuku. Rupanya atas dasar untuk segera memperibumikan ajaran agama Hindu, maka leluhur bangsa Indonesia yang seegara memeluk agama Hindu, memasukkannya dalam sistem Kalender tersebut, dimulai dengan hari pemujaan Sarasvati yang jatih pada hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari pertama dari Wuku pertama, pemujaan kepada dewi Śrī dan Lakṣmī hari kedua dan ketiga Wuku pertama dan hari pemujaan kepada Guru (Pamaeṣṭi Guru/Guru Tertinggi) pada hari ke-4 Wuku pertama, selanjutnya hari Galungan dijatuhkan sebulan kemudian (35 hari) setelah pemujaan terhadap Parameṣṭi Guru, yang dimulai dengan Tumpek Wariga (Śangkarapūjā), 30 hari kemudian adalah Pamacekan Agung dan berakhir 30 hari setelah Pamacekan Agung, yakni waktu hari Buda Kliwon Pahang (Pegatwakan). Dengan demikian sejak persiapan sampai hari terakhir setelah Kuningan berlangsung selama 60 hari.

Hari raya Galungan dan Kuningan menurut lontar Uśana Bali dikaitkan dengan mitos kemenangan dewa Indra melawan Mayadanava dengan kemenangan di pihak dewa Indra. Ada dugaan bahwa dewa Indra dimaksud adalah Indra (Chandra) Bhaya Varmadeva yang dipercaya membangun tempat suci patīrthan Tīrtha Empul, Tampaksiring, Gianyar.

Makna hari raya Galungan dan Kuningan dinyatakan sebagai kemenangan Dharma (kebajikan) melawan Adharma (kebathilan/kejahatan), pertempuran antara sifat-sifat jahat dengan sifat-sifat baik, dengan kemenangan pada sifat-sifat yang baik. Mitos raksasa menggambarkan sifat Aśurisampat yang merupakan salah satu dari kecenderungan yang terdapat pada diri manusia, di samping Daivisampat, yakni sifat-sifat yang baik sebagai perwujudan ajaran Dharma. Pergulatan yang dapat dianalogikan dengan perang Bhāratayuddha selalu berlangsung pada diri setiap umat manusia. Seseorang yang senantiasa berjalan dijalan Dharma, berpegang kepada ajaran Dharma, akan mendapat perlindungan dari Dharma. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Manavadharmaśāstra VIII.15:

धर्म एव हन्तो हन्ति धर्मो रक्षति रक्षितः ।  तस्माद्धर्मो न हन्तव्यो मा नो धर्मो हन्तो ऽवधीत् ॥

Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya, Dharma yang dipelihara akan memeliharanya,oleh karena itu Dharma jangan dilanggar, melanggar Dharma akan menghancurkan diri sendiri.

Lebih jauh pengertian tentang Dharma dinyatakan dalam Mahābhārata pada Śāntiparva 109.10 sebagai berikut:

प्रभवार्थाय भूतानां धर्मप्रावनं कृतं । यः स्यात्प्रभव संयुक्तः स धर्मः इतु निश्चयः ॥

Segala kegiatan demi kesejahtraan dan kebahagiaan semua mahluk, semuanya itu disebut dharma. Tiada disangsikan lagi apapun yang bertalian dengan kesejahtraan untuk sesama, itulah Dharma.

Berdasarkan kutipan tersebut, maka Dharma mengandung pengertian yang sangat luas, yakni segala aspek kehidupan, utamanya kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bahkan pergaulan antar sesama umat manusia. Selanjutnya tentang penjabaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari, dinyatakan dalam Vhaspati Tattwa 26, meliputi: Śīla (bertingkah laku yang baik), Yajña (melakukan korban suci dan mengembangkan kasih sayang), Tapa (pengendalian diri), Dāna (memberikan bantuan materi, pendidikan dan moralitas), Pravrjya (tekun menambah pengetahuan), Dikṣā (menyucikan diri) dan Yoga (senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa).

Dari uraian tersebut di atas, jelas bagi kita istilah atau kata Dharma mengandung pengertian dan penjabarannya sangat kompleks. Galungan dan Kuningan disebut sebagai hari kemenangan Dharma, maka pada hakekatnya adalah hari untuk menegakkan moralitas dan integritas umat manusia. Dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang secara berulang-ulang, mengingatkan umat Hindu betapa pentingnya umat manusia untuk senantiasa berjalan di jalan Dharma yang akan memberikan jaminan hidup dan kehidupan guna mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan yang sejati.

Agama Hindu sebagai agama yang pertama dipeluk oleh bangsa di kepulauan Nusantara, mengantarkan bangsa ini memasuki alam sejarah serta memberikan rona dan mewarnai sosio-budaya bangsa Indonesia. Bukti-bukti peninggalan kejayaan Hindu di masa yang silam meresapi budaya bangsa dan hal ini dapat kita lihat tidak saja dalam karya monumental seperti candi Siva Prambanan dan candi-candi yang bersifat Hinduistik di pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, juga dalam bidang seni sastra. Hal yang sungguh mengagumkan adalah usaha dari para pemimpin (raja) di Jawa Tengah dan Timur di masa lalu mengambil pengaruh sosial-budaya yang baik dari luar dan disesuaikan dengan keperibadian bangsa.

Dalam hal ini dapat diketengahkan usaha membahasajawakan karya-karya maharsi Vālmīki dan Vyāsa pada masa kejayaan Sanjaya Wangsa di Jawa Tengah (majawakenvālmīkimata, membahasajawakan buah pikiran/karya sastra maharsi Vālmīki) dalam bentuk karya sastra Jawa Kuno berupa kakawin Rāmāyana yang aslinya berbahasa Sanskerta.

Demikian pula karya-karya maharsi Vyāsa (di Jawa disebut Bhagawan Abhiyasa) pada masa pemerintahan raja Dharmavamsa Teguh Ananta Wikramottunggadeva) di Jawa Timur berupa kakawin Mahābhārata yang juga berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno (mangjawakenvyāsamata, mambahasajawakan karya maharsi Vyāsa). Karya-karya sastra itu, kini tersimpan dan masih dilestarikan di Bali (dibaca dan diterjemahkan berulang-ulang dalam Pasantian). Demikian pula sasanti Bhineka Tunggal yang sumbernya adalah Sutasoma karya sastra dari jaman kejayaan Nusantara, Majapahit.

Peninggalan lainnya adalah berupa seni tari yang kini masih tersebar di seluruh Indonesia seperti tari Dewi Sri di Aceh, Jawa Barat (disebut juga Ni Pohaci), Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Hal yang sangat penting adalah ajaran agama Hindu telah pula mewarnai sikap hidup masyarakat di masa lalu hingga kini (walaupun mereka tidak lagi menganut agama Hindu) namun mereka memiliki kesadaran terhadap kebenaran yang mutlak.

Di dalam ajaran agama Hindu memang dibenarkan kepada umatnya untuk memilih jalan yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan untuk mengamalkan ajaran tersebut. Namun demikian mereka tidak boleh terlepas dari rambu-rambu nilai dasar seperti ajaran Tat tvam asi, yang memandang orang lain sebagai diri sendiri, perlunya membina keseimbangan dan keharmonisan dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta dan semua mahluk serta sesama manusia dan bahkan dengan mahluk hidup rendahan lainnya dan alam sekitarnya. Inilah kiranya yang memberi landasan terwujudnya keharmonisan dan kerukunan hidup beragama bagi bangsa Indonesia sejak jaman dahulu.

Kita kembali patut mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, karena di samping kemerdekaan bangsa sebagai karunia-Nya, adalah juga kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara, dan pandangan hidup bangsa. Sejarah bangsa-bangsa di dunia telah membuktikan, bahwa negara yang tidak memiliki dasar negara, dan pandangan hidup yang kuat, bangsa itu terombang-ambing, tercabik-cabik oleh bangsanya sendiri atau bangsa lain. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena bangsa tersebut tidak memiliki pendirian yang kokoh, mudah hanyut kepada tawaran ideologi yang sesungguhnya tidak sesuai dengan keperibadian bangsanya.

Adalah suatu kenyataan yang harus diterima bahwa umat Hindu merupakan masyarakat yang pluralistis baik dari etnis, bahasa maupun budaya. Hal ini tentunya haru kita terima dengan ikhlas sebagaimana bunyi motto “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang diambilkan dari kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular. Kesadaran akan ajaran Tantularisme atau Tutur Tantular inilah yang harus kita berikan kepada anak cucu kita sebagai nasehat untuk dijadikan sebagai tradisi atau yang disebut Tutur Tinular.

Perbedaan dalam kahidupan beragama merupakan suatu hal yang wajar. Tetapi jikalau perbedaan itu menimbulkan perpecahan maka itu akan menjadi suatu masalah yang besar. Apa yang beda tidak perlu disama-samakan dan apa yang sudah sama tidak perlu dibeda-bedakan. Dharma sebagai kebenaran bisa dipraktkekan dengan segala macam cara. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Bhagawad Gita IV.11 yang menyebutkan:

ये यथा मां प्रपद्यन्ते तांस्तथैव भजाम्यहं । मम वर्त्मानुवर्तन्ते मनुष्याः पार्थ सर्वशः ॥

Cara/jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama aku memenuhi keinginannya, Wahai Partha. Karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semua dalah jalan-Ku.

Sloka Bhagawad Gita tadi menginspirasikan kepada kita untuk saling menghargai dan saling menghormati. Sang Hyang Widdhi Wasa tidak pernah membeda-bedakan umat-Nya kenapa kita mesti membeda-bedakan antara kita dengan yang lain.

Bapak Ibu umat Sedharma yang berbahagia, melalui momentum Hari Suci Galungan ini mari kita bersama-sama menyadari diri untuk dapat membangun keharmonisan baik sesama umat Hindu maupun antar umat beragama. Dasar untuk itu menurut orang Jawa adalah nata rasa, among rasa, mijil tresna, agawe karya. Dengan dasar ini maka kita akan bisa membangun umat Hindu menjadi umat yang S3: Santi (damai), Sukham (selalu bahagia) dan tentunya Sakti (kuat). Semoga kita bisa mewujudkannya.

Sebelum saya akhiri, bila mana ada kata-kata saya yang kurang berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya “Selamat Merayakan Hari Suci Galungan” semoga Hyang Widdhi Wasa senantiasa memberikan pencerahan dan lindungan untuk kita semua.

ॐ शान्तिः । शान्तिः । शान्तिः ॥

 

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (Duta Dharma dan Wakil Sekretaris PHDI Provinsi Jawa Timur)

2 Comments

Add a Comment
  1. Mantab, terima kasih Pak, bisa utk referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: