PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

BEGAWAN ZAMAN EDAN

Ketika saya menulis sebuah berita features yang berjudul “Kegandrungan Menjadi Pandita di Kota Gandrung” di MH beberapa tahun lalu, banyak umat Hindu di Jawa Timur yang memberikan komentar langsung kepada saya. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Tetapi itulah gambaran yang sebenarnya terjadi bahkan hingga saat ini.

Salah satu hal yang banyak dikomentari pada tulisan tersebut adalah mengenai adanya gejala pergeseran kepentingan dalam hal menjadikan seorang umat Hindu menjadi pemangku/pandita. Jika dahulu kepentingannya hanyalah pelayanan, pengabdian dan swadharma, maka saat ini ada kepentingan (maaf) ‘bisnis’ yang dimainkan di dalamnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat seorang pemangku/pandita muput upacara maka mereka akan menerima sesari yang merupakan kewajiban dari manggalaning yajna untuk menghaturkan daksina kepada sang sadhaka. Hal ini sudah menjadi hukum acara agama Hindu yang telah ditulis dalam sastra dan susastra Weda.

Bisa jadi saat ini banyak orang yang berniat menjadi pandita karena ada iming-iming ‘penghasilan tambahan’ sebagaimana disebutkan di atas. Belum lagi kedudukan yang mulia di mata umat bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin dihormati dan didudukkan sebagai seorang sulinggih. Karena dengan itu maka banyak umat yang akan datang kepadanya untuk melukat, mencari siraman rohani dan sebagainya.

Semakin banyak umat yang sowan (datang), semakin banyak gawan (oleh-oleh atau haturan). Kita sendiri juga tahu bahwa dalam adat ketimuran, jika kita sowan pada sesepuh maka paling tidak ada sesuatu yang perlu dibawa. Oleh karena itu ada yang memplesetkan kata begawan (pandita) dalam bahasa Jawa sebagai “kêbêk gawane (banyak haturannya)”

Fenomena adanya sisipan kepentingan bisnis dalam dunia kepanditaan kita itu pun juga terlihat pada masalah ‘tarif’ upacara  dan upakara. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di zaman modern seperti sekarang ini umat ingin yang praktis dan cenderung ‘terima beresnya’ saja. Ada beberapa oknum yang kemudian memanfaatkan situasi ini untuk memasang tarif muput dan upakaranya.

Jelas sekali bahwa akar permasalahannya adalah adanya pengaruh sang hyang rupiah (baca: uang). Hal ini selaras dengan petikan Kakawin Niti Sastra IV.7 yang menyebutkan:   “singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana, tan waktan guna sura pandita widagdha pada mangayap ing daneswara (sesungguhnya, bila Jaman Kali datang pada akhir Yuga, hanya kekayaan yang dihargai. Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa para pemberani, pendeta, cerdik cendekia akan mengabdi kepada orang kaya)”. Jika lebih dominan kepentingan bisnis dalam hal ini, maka bagaimana mungkin seorang pemangku/pandita bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk umat.

Bagi umat Hindu keberadaan pandita atau pemangku amatlah penting, karena kepada merekalah umat Hindu akan memohon bimbingan secara spiritual. Dalam Agastyaparwa 391 disebutkan: “ikang kadiksan mwang upadésa sang yogiswara ya rakwa wênang lumêpasakên ikang manusa (orang yang telah didiksa dan diarahkan oleh seorang Yogiswara, harusnya dapat melepaskan belenggu umat manusia). Di samping itu tugas berat yang menanti mereka adalah sebagaimana disebutkan dalam Kekawin Bhomantaka III.26: “dharma-dharmaning ri sang pinandita maharddhika pinaka patirthaning sarat (dalam hal dharma atau kewajiban seorang pandita yang sempurna merupakan tempat memohon air kehidupan, sebagai penyucian guna mendapatkan kebahagiaan umat manusia)”.

Jika pandita yang dipilih, diangkat, dan didiksa tidak memiliki kesiapan secara material dan spiritual maka mustahil ia akan bisa fokus pada tugas-tugasnya sebagaimana disebutkan di atas. Bekal pengetahuannya terhadap sastra dan susastra Weda pun juga harus mumpuni.   Pada zaman dahulu tidak sembarang orang bisa menjadi pandita. Dia harus memahami dan mempraktekkan sastra. Sang begawan haruslah menjadi sang atêkên ring sastra (orang yang bertongkatkan sastra atau menjadikan Weda sebagai pedomannya). Bukannya men menjadikan uang atau kekayaan sebagai pegangan hidupnya (sang atêkên ring dhana). Oleh karenanya pandita di zaman dahulu selalu menjadikan sastra (pengetahuan) sebagai wastra (perhiasan) dalam hidupnya.

Selain itu pada zaman dahulu seorang sisya yang ingin atau akan disiapkan menjadi pandita harus diasramakan dan hidup bersama gurunya. Sisya yang menjadi cantrik (santri) dari guru atau nabenya itu akan belajar mengenai tattwa, susila, acara, sastra dan segala hal yang perlu disiapkan untuk menjadi pandita. Pecantrian (pesantrian, kini dikenal dengan istilah pesantren) dilakukan sampai sang guru menyatakan sisya tersebut lulus dari pondok gurunya.

Setelah menjadi pandita maka dia pun berkewajiban mengembangkan ajaran-ajaran dari gurunya melalui asrama yang didirikannya. Kemudian di sanalah umat atau para sisyanya akan mendapatkan pencerahan secara spiritual oleh sang patirthaning sarat. Untuk itu ia pun dibatasi oleh aturan-aturan dalam bertingkah laku yang disebut sebagai sêsananing kawikon. Aturan-aturan tersebut bertujuan agar sang begawan bisa menjadi suri teladan bagi umat dan lebih fokus dalam menjalankan laku spiritualnya sebagai pemangku umat.

Namun demikian sêsananing kawikon itu oleh para begawan di zaman edan ini sudah banyak diabaikan. Banyak perilaku menyimpang dari sêsana yang dilakukan oleh para pemangku/pandita kita, misalnya berbisnis, debat kusir bahkan dengan walaka, berselingkuh, dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian kita melihat ada pemangku/pandita yang dilaporkan ke pihak berwajib, atau pandita yang melaporkan orang lain ke polisi. Dan ironisnya, ujung-ujungnya semua bermuara pada masalah uang dan kekuasaan. Singkatnya pengaruh zaman edan ini benar-benar membuat semuanya termasuk para pandita kita menjadi geje (gak jelas).

Mungkin ada benarnya kritikan yang pernah ditulis oleh Ki Ranggawarsita dalam Serat Jaka Lodhang terhadap para alim ulama (baca: rohaniwan). Dalam petikan serat tersebut Ki Pujangga menulis: “wong alim-alim pulasan, njaba putih njêro kuning, ngulama mangsah maksiat, madat madon minum main (banyak orang mengaku alim atau rohaniwan tetapi penuh kepalsuan, luarnya ‘putih’ dalemnya ‘kuning’, banyak rohaniwan gemar maksiat, suka mabuk, main perempuan, dan berjudi).

Senada dengan hal tersebut Canakya yang agung dalam Niti Sastranya (II.9) pun mengingatkan kepada kita: “ शैले शैले च माणिक्यं मौक्तिकं न गजे गजे ।  साधवो न हि सर्वत्र चन्दनं न वने वने ॥ (batu-batu berharga tidak dijumpai dalam setiap bukit, mutiara tidak terdapat pada setiap kepala gajah, pohon cendana tidak tumbuh disetiap hutan dan tidak di setiap tempat kita jumpai orang suci).

Kendatipun demikian sebagai umat Hindu kita tidak boleh sampai hilang kepercayaan kepada para pandita kita. Pun kita tidak berhak untuk mencaci dan menghina mereka jika kita tidak ingin jatuh ke dalam jurang kesengsaraan sebagaimana disebutkan dalam Kakawin Niti Sastra II.13, “haywa maninda ring dwija daridra dumadak atêmu”.

Menyimak ulasan di atas maka sudah seharusnya para pandita kita bisa lebih arif dan bijaksana dalam bersikap. Mereka juga harus senantiasa memegang teguh pada sesananing kawikon yang menjadi sumpahnya.

Selanjutnya PHDI dan pihak terkait juga harus memikirkan masalah ini secara bijak. Sistem yang baik dalam hal tata kepanditaan yang baik harus dibangun, aturan tentang kepanditaan harus diperjelas/dipertegas, dan jaminan kesejahteraan mereka juga perlu dipikirkan. Dan bagi mereka yang ingin menjadi pandita juga harus melalui seleksi yang ketat agar pandita kita benar-benar orang yang terpilih. Dengan begitu istilah pandita kita nantinya adalah orang-orang yang benar-benar luhur, mulia, dan memiliki sifat-sifat ketuhanan sebagaimana arti kata Sanskerta bhagawan yang merupakan prototype dari kata bêgawan itu sendiri.

 


Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa (tulisan ini pernah dimuat di Media Hindu)

2 Comments

Add a Comment
  1. Dwijo Sumarto

    Mantab lanjutkan Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: