PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

TUMPEK LANDEP




 

 

 

TUMPEK LANDEP

Tumpek Landep esensinya adalah penajaman segala daya cipta yang dimiliki oleh manusia. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan:Kalinganya ring wwang, denya paśupati, landeping idep, samangkana ta laksanakna kang japamantra wisesa paśupati” Artinya:Pada hari Wuku Landep, Saniscara Kliwon (Sabtu Kliwon) adalah hari pemujaan dan yoganya Sanghyang Paśupati sebagai sarana untuk mempertajap pikiran, untuk itu kita perlu melaksanakan puja mantra kepada Sang Hyang Pasupati.

Jelas sekali bahwa pada Tumpek Landep tersebut yang perlu di-landep-kan adalah idepnya (daya ciptanya). Dan untuk itu maka seseorang harus menguncarkan puja MANTRA wisesa kepada Sang Hyang Pasupati. Dengan ‘MANTRA’ seseorang bisa mempertajam pikirannya. Karena esensi ‘MANTRA’ adalah ‘mano trana’ atau membebaskan ‘pikiran’ dari pengaruh-pengaruh maya (ilusi duniawi).
Dalam tradisi Hindu, MANTRA yang dibarengi dengan MATRA atau elemen berupa YANTRA, dan diperkuat dengan TANTRA akan menjadi kekuatan dan sekaligus sebagai senjata yang ampuh (ASTRA). Lihatlah bagaimana Drona, Arjuna, Bhisma, dan Karna tidak memerlukan busur untuk memanggil brahmASTRA, tetapi cukup dengan MANTRA.
MANTRA adalah formula magis yang dihasilkan dari SASTRA (kitab suci). Untuk memahami MANTRA maka seseorang harus mempelajari SASTRA. Dan SASTRA sendiri harus dipelajari dengan membiasakannya bahkan harus menjadikan SASTRA itu sebagai WASTRA (pakaian) kita sehari-hari. Dengan begitu orang akan mudah memahami pengetahuan (SASTRA) itu sendiri.

Dulu orang Jawa menggunakan sarana keris (dhuwung/curiga), untuk sarana upakara pada Tumpek Landep itu bukan tanpa maksud. KERIS dijarwadhosokan sebagai KEKERAN TUR ARIS, DHUWUNG sebagai UDHU KUWUNG, dan CURIGA sebagai PADAS CURI lan RAGA.
Secara filosofis, bahwa orang yang memiliki pengetahuan SASTRA yang baik akan menjadikan SASTRAnya tersebut sebagai KEKERAN (kekuatan) dan membuatnya bijaksana (ARIS). Setelah itu dia bisa UDHU (menyumbangkan) KUWUNG (cahaya pengetahuannya itu) untuk menghancurkan batu penghalang (PADAS CURI) dari RAGAnya untuk mencapai kelepasan. Dengan begitu maka seseorang bisa menyatu dengan sang Brahman yang dilambangkan dengan CURIGA MANJING WARANGKA, WARANGKA MANJING CURIGA.

Romonadha, Tumpek Landep (31-03-2018)

1 Comment

Add a Comment
  1. Matur nuwun pencerahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Pandunusa 2018 | धर्म्य पण्डुणुस २​०१८ ॥
%d bloggers like this: