PANDUNUSA

Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara

AJARAN KETUHANAN MENURUT ORANG JAWA

Abstrak

Ajaran ketuhanan dalam perspektif orang Jawa merupakan hasil dari olah cipta, rasa dan karsa manusia Jawa melalui perenungan yang mendalam.  Ajaran ini banyak berkembang dalam sistem kebatinan Jawa atau paham Kêjawèn. Pada intinya orang Jawa meyakini bahwa Tuhan itu abadi, tiada terpikirkan, ada di mana-mana, dan juga ada di dalam hati setiap insan. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah Gusti, Sang Hyang, atau pun Pangèran. Untuk bisa menyatu dengannya atau manunggaling kawula Gusti maka manusia harus melalui proses kesadaran Ingsun-Suksma Sêjati-Suksma Kawêkas.

Kata kunci: ajaran ketuhanan, orang Jawa.

Abstract

Divinity teaching in Javanese perspective is the product of creation on idea, taste and Javanese determination by deep contemplation. This teaching evolves widely in Javanese mysticism systems or kejawen ideologies. Basically, Javanese people believe that God is eternal, transcendent, existence everywhere, and also in the heart of every human being. The Javanese have called Him as Gusti, Sang Hyang, or Pangèran. To be able to unite with Him or manunggaling kawula Gusti, man must through the process of consciousness Ingsun-Suksma Sêjati-Suksma Kawêkas.

Keywords: divinity teachings, Javanese people.

Pendahuluan

Filsafat ketuhanan adalah masalah yang menjadi perbincangan bahkan perdebatan para filsuf sejak dahulu kala. Pengetahuan ketuhanan ini memang selalu menarik untuk diperbincangkan, bahkan dari masa ke masa selalu saja ada yang baru dan menarik untuk dikaji dan diperdebatkan.

Pengetahuan tentang ketuhanan ini berkembang sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Pemahaman tentang ketuhanan yang sering dikaitkan dengan masalah religi ini sedikit banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan (religi, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, ekonomi, dan teknologi) di mana paham ketuhanan itu tumbuh dan berkembang. Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat yang menyebutkan bahwa keseluruhan dari unsur budaya tersebut mempunyai keterkaitan dan saling mampengaruhi antara satu dengan yang lainnya.[1]

Jawa adalah salah satu pulau yang pernah menjadi pusat kebudayaan dunia di masa silam juga banyak memberikan pemikiran-pemikiran mengenai pengetahuan ketuhanan. Sejak zaman Jawa Kuna hingga Renaisans Jawa sudah banyak dihasilkan konsep pemikiran mengenai filsafat ketuhanan kendati tidak persis sama seperti yang ada pada filsafat Barat. Karena memang adanya perbedaan orientasi sebagaimana disebutkan oleh Ciptoprawiro, di mana filsafat Barat dengan kecenderungan cinta kebijaksanaannya (phillo sophia) sementara filsafat Jawa dengan orientasi mencari kesempurnaan (ngudi kasampurnaan).[2]

Senada dengan rumusan Ciptoprawiro, Endraswara juga menyatakan dengan tegas bahwa manifestasi filsafat Jawa dapat dilihat dari olah pikir dan asah budi orang Jawa yang senantiasa ingin mêmayu hayuning bawana.[3] Dalam hal ini, perenungan oleh orang Jawa tersebut telah melahirkan sebuah paham bagi orang Jawa. Manakala paham ini ditinggalkan, maka seolah-olah ada yang kurang lengkap dalam hidup orang Jawa sehingga mereka belum bisa dikatakan “sempurna”.

Begitu juga dengan filsafat ketuhanan yang dianut oleh orang Jawa pada dasarnya merupakan manifestasi dari hasil olah cipta, rasa, dan karsa melalui perenungan-perenungan yang mendalam. Dan filsafat ketuhanan yang pahami oleh masyarakat Jawa ini sangat bergantung pada ajaran atau kawruh yang diyakininya, kemampuan penalarannya, dan beberapa unsur kebudayaan lainnya yang pada akhirnya nanti akan disenyawakan dengan kehalusan rasa sebagai orang Jawa. Untuk itu makalah mengenai pengetahuan ketuhanan dalam perspektif orang Jawa ini pun didasarkan pada pemikiran dan perenungan yang berasal dari pemahaman dan pengalaman penulis sebagai orang Jawa.

Filsafat Ketuhanan, Sikretisme dan Mozaikisme Budaya Jawa

Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Bagi orang yang menganut agama-agama samawi (terutama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya.[4] Lebih jauh apa yang disebut sebagai filsafat ketuhanan sebenarnya adalah usaha manusia untuk memahami Tuhan dengan melihat dan merefleksikan realitas hidup dalam dirinya sendiri.[5] Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.[6]

Dalam usaha tersebut biasanya manusia akan melakukan banyak perenungan-perenungan yang mendalam atau dengan sendirinya mereka akan berfilsafat tentang Tuhan. Bagi masyarakat Jawa perenungan-perenungan tersebut dilakukan melalui olah pikir dan asah budi. Ini berarti, filsafat ketuhanan orang Jawa tidak bisa lepas dari masalah kebudayaan atau peradaban Jawa itu sendiri. Hal ini sebagaimana pernyataan Schall, “philosophy has some very valuable, indeed essential contribution to make before there can be any adequate knowledge of what is meant by culture”.[7]

Pemahaman tentang ketuhanan pada masyarakat Jawa tersebut nampaknya juga menjadi bagian dari kebudayaan Jawa itu sendiri. Jawa sebagai pulau yang pernah menjadi pusat peradaban Hindu telah menerima banyak pengaruh dari Hindu. Terutama sistem gagasan yang memunculkan falsafah atau pandangan hidup orang Jawa. Bahkan surutnya peradaban Hindu dan berkembangnya peradaban Islam di Jawa, tidak menjadikan peradaban Jawa meninggalkan pemikiran-pemikiran Hindu sebelumnya, sebab peradaban ini telah mengakar dalam nafas kehidupan Jawa.[8]

Eksistensi budaya dan pandangan hidup Jawa yang telah mengkristal dalam setiap peri kehidupan masyarakat Jawa tersebut kemudian melahirkan salah satu bentuk falsafah hidup Jawa termasuk di dalamnya juga berisikan ajaran-ajaran tentang ketuhanan. Sejalan dengan roda perputaran zaman, ajaran yang oleh tersebut telah menjatikan dirinya dalam sebuah paham yang oleh sebagian besar pakar budaya Jawa disebut sebagai Kêjawén.[9]

Sentuhan nafas Kêjawén tersebut telah merambah dunia batin orang Jawa  sehingga mampu menghasilkan suatu bentuk wawasan teologis hasil akumulasi dari tradisi Hindu, Budha, Islam dan tradisi leluhur. Wawasan teologis itu berkembang menjadi suatu aliran-aliran kepercayaan yang sampai sekarang tetap eksis dalam masyarakat Jawa. Niels Mulder menambahkan, Kêjawén sebagaimana disebutkan di atas sering diistilahkan sebagai “kebatinan orang Jawa”. Senada dengan hal tersebut, Harun Hadiwijono menyebut kebatinan itu sebagai sistem antropologis yang sejalan dengan tujuan dalam sistem religi.[10]

Dalam dunia batin Jawa, semua lapisan masyarakat Jawa (ada juga yang Non-Jawa) dari berbagai agama berbaur dalam satu pandangan dan keyakinan hidup. Kenyataan ini menurut Rassers melahirkan suatu perspektif lain terhadap Kêjawén. Pandangan ini menyebut Kêjawén sebagai sinkretisme Jawa.[11] Belakangan ini, pandangan sinkretik atas falsafah Jawa ini banyak ditentang oleh tokoh-tokoh Jawa. Seraya mengomentari karya Geertz The Religion of Java, Bachtiar dengan sangat tegas menolak istilah sinkretisme tersebut. Pasalnya, ada satu pluralitas dari pelbagai agama yang dianggap sama-sama benar baik secara individual maupun  komunal.[12] Rumusan Geertz yang mengotak-kotakkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan (sekarang dikenal dengan istilah trikotomi) yakni Santri, Abangan dan Priyayi dengan sendirinya telah menghantarkannya pada kesalahpahaman terhadap tafsir budaya dan masyarakat Jawa. Karena kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa batasan atas penafsiran tentang kaum Santri, Abangan, dan Priyayi tersebut justru menjadi kabur.

Senada dengan ulasan tersebut serta pandangan dari pakar lain seperti  Kern tentang vermenging, Gonda serta Koentjaraningrat, maka Abdullah Ciptoprawiro memberikan solusi melalui konsepsinya tentang mozaikisme, yang sedikit berbeda dengan sinkretisme.[13] Dalam konsep mozaikisme ini, filsafat Jawa mempunyai pola yang tetap, namun unsur-unsur atau “batu-batunya” akan berubah dengan masuknya budaya baru.

Pola dan konsepsi yang ada dalam Kêjawén ini memberikan keteguhan tersendiri bagi masyarakat Jawa. Sebagai pandangan hidup ia juga meninggalkan endapan spiritual dalam pengalaman batin orang Jawa. Sehingga manakala falsafah tersebut ditinggalkan, seakan-akan ada hal yang kurang lengkap dalam hidup orang Jawa.[14]

Fenomena tersebut dapat ditemukan pada hampir sebagian besar masyarakat Jawa yang secara antropologis bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Lebih-lebih pada daerah Kêjawén yang menurut Kodiran  meliputi wilayah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri atau di wilayah Nagari dan Nagaragung dalam Tri Mandala Praja pada masa Keraton Mataram II.

Meskipun demikian, fenomena budaya itu juga dapat ditemukan pada wilayah selain yang disebutkan sebelumnya. Ron Hatley membenarkannya dengan menyatakan bahwa akan selalu ada “Jawa yang lain” di luar keraton (Yogyakarta dan Solo).[15] Daerah-daerah tersebut pada dasarnya adalah peninggalan kerajaan Hindu-Budha yang secara sporadis menyebar di pegunungan, pesisir dan sebagainya. Di Jawa Timur daerah-daerah tersebut dapat ditemukan di sekitar pegunungan Tengger, Raung dan Semeru. Banyuwangi adalah salah satu di antara dari daerah-daerah tersebut mengingat wilayah ini terletak di sekitar kaki Gunung Raung. Masyarakat Jawa khususnya di Banyuwangi ini merupakan masyarakat yang memegang teguh “warisan leluhur” Jawa. Ini pun diakui oleh Andrew Beatty ketika dia mengadakan penelitian di wilayah Banyuwangi .

Ajaran Kêjawèn dalam Mayarakat Jawa

Selama ini pemahaman tentang Kêjawèn selalu merujuk pada pandangan Geertz yang menyebutnya sebagai sinkretisme (percampuran) antara ajaran Hindu, Buddha, animisme-dinamisme, yang dibaurkan dengan ajaran makrifat atau tasawuf Islam[16] meskipun sebagian besar orang-orang Kêjawèn tidak merasa bahwa itu adalah sebuah percampuran. Dalam hal ini penulis sependapat dengan para pemikir Jawa di atas bahwa itu adalah mozaikisme Jawa yang dijadikan sebagai pijakan bagi orang-orang Kêjawèn untuk melaksanakan laku yang selaras dengan “rasa” mereka meskipun ajaran agama yang mereka anut tidak mengajarkan hal tersebut. Hal inilah yang memunculkan istilah: ngakoni nanging ora nglakoni (mengakui tetapi tidak melaksanakan) dan nglakoni nanging ora ngakoni (melaksanakan tetapi tidak mengakui).

Sejalan dengan hal tersebut maka Tjaroko HP Teguh Pranoto mengatakan bahwa Kêjawèn pada dasarnya bukanlah agama dan tidak bermaksud membentuk agama baru, karena itu Kêjawèn tidak memiliki nabi maupun kitab suci. Kêjawèn adalah sebuah kawruh kautaman (pengetahuan tentang keutamaan) yang  diajarkan oleh para leluhur Jawa. Jadi Kêjawèn hadir bukan sebagai agama tandingan yang sudah ada dan Kêjawèn pun bisa dipelajari oleh umat dari semua agama karena Kêjawèn bersifat universal dan bukan hanya untuk orang Jawa saja.[17] Siapapun yang ingin mencapai kesadaran jiwa bisa mempelajari dan mengamalkan kawruh atau ngèlmu Kêjawèn. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Sêrat Wedhatama III (Pucung).1 yang menyebutkan:

 

Ngèlmu (pengetahuan) itu dijalankan dengan laku (perbuatan). Harus diawali dengan kemauan yang tulus dan kesungguhan hati, hati yang kuat untuk menghadapi segala godaan. Dan kesadaran budi nurani itulah yang akan menjauhkan diri kita dari perilaku angkara atau pengaruh negatif.[18]

Semua ajaran pada berbagai aliran Kêjawen pada dasarnya bertujuan untuk mencapai keselamatan (rahayu) dan kebahagiaan (kabêgjan). Selaras dengan sêsanti mereka yang menyatakan “mêmayu hayuning urip bêbrayan kanggo mêmayu hayuning bawana”.[19] Untuk itu mencapainya maka mereka harus mencapai kesadaran pada tahapan menyatunya: Ingsun-Suksma Sejati-Suksma Kawekas.[20] Dasarnya hanya pada apa yang disebut sebagai kasunyatan.  Sebagaimaan ditembangkan dalam Sërat Añcala Jarwa Pupuh XI (Durma) bait ke-2 disebutkan sebagai berikut:

  

Kenyataan jadilah dasar dari norma. Norma tentang kehidupan. Hingga datangnya maut, janganlah meninggalkan norma-norma. Jika dianalisa satu per satu supaya semakin paham akan norma kehidupan itu.[21]

Merujuk hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan laku Kêjawèn tersebut orang Jawa senantiasa berpedoman pada apa yang disebut tata-titi-tatag-tutug. Dan untuk itu maka mereka harus bisa mengaplikasikan konsep mëguru kasunyatan (berguru pada kasunyatan itu sendiri).[22]

Ajaran Ketuhanan dalam Pandangan Orang Jawa

Penggambaran Tuhan dalam pandangan Jawa adalah sesuatu zat yang tidak dapat dibayangkan seperti apa pun (acintya), dekat tiada bersentuhan, jauh tiada perbatasan-Nya. Dalam istilah Jawa disebutkan sebagai “tan kêna kinayangapa, cêðak tanpa sénggolan, adoh tanpa wangênan”.

Namun karena keterbatasan manusia, masyarakat Jawa kemudian memberikan nama untuk Tuhannya yang mewujudkan lambang atau kebesaran-Nya. Nama-nama yang dipakai itu diantaranya: Sang Hyang Taya (Yang Tidak Ada tapi Ada), Sang Hyang Wênang (Yang Maha Kuasa), Sang Hyang Tunggal (Yang Maha Esa), Sangkan Paraning Dumadi (Asal dan Tujuan dari semua yang ada).[23]

Selain nama-nama yang diperuntukkan bagi Tuhan di atas, masyarakat Jawa seringkali menggunakan sebutan “Gusti” untuk Tuhannya yang dalam jarwa dosoknya diartikan sebagai “bagusing ati (pujaan hati)”. Kata ini biasanya diikuti oleh beberapa kata yang menunjukkan pada satu sebutan Tuhan sesuai dengan fungsinya, misalnya: Gusti Kang Murbèng Dumadi (Tuhan Penguasa Semua Makhluk), Gusti Kang Akarya Jagat (Tuhan Pencipta Alam Semesta), Gusti Kang Maha Wasesa (Tuhan Yang Maha Kuasa), dan lain-lain.

Di samping itu masyarakat Jawa juga menyebut Tuhannya dengan kata Pangèran.[24] Kata ini berasal dari kata dasar “hira (ira)” dan mendapat awalan: pa- + ng- dan akhiran -an. Kata hira berasal dari kata Sanskerta हिर​ yang berarti “intan”.[25] Kata Pangèran ini dimaksudkan untuk Dia yang dimuliakan seperti intan permata. Kadang masyarakat Jawa juga menjarwadhosokan kata “Pangèran”, sebagai  “pangèngèran” atau tempat kita berlindung.

Suwardi Endraswara mengatakan bahwa konsep ketuhanan yang diyakini oleh masyarakat Jawa tidak jauh beda dengan paham yang dianut dalam konsep ketuhanan Hindu maupun Tasawuf Islam. Konsep pantheisme maupun monisme tetap mewarnai kehidupan teologis orang Jawa. Kedua konsep tersebut sering kali bercampur halus sehingga tidak begitu jelas apakah menganut pantheisme atau monisme.[26] Hal ini bisa dilihat dari beberapa pituduh dalam butir-butir budaya Jawa atau Kêjawèn berikut ini:    

 

Tuhan itu satu ada  di tempat abadi, pencipta alam seisinya, dan menjadi pujaan manusia sejagat raya, dengan caranya masing-masing | Tuhan itu ada di mana-mana, juga ada pada dirimu, tetapi jangan engkau berani mengaku diri sebagai Tuhan | Tuhan itu jauh tanpa ada batasnya, dan dekat sekali tetapi tiada dapat bersentuhan | Tuhan itu abadi, tak dapat digambarkan, merupakan awal mula dan tujuan akhir dari segala ciptaan | Tuhan itu dapat berwujud, tetapi perwujudan itu bukanlah Tuhan[27]

Zoetmulder yang pernah meneliti tentang ajaran ketuhanan dalam sastra suluk, juga menyebutkan bahwa Tuhan ada di dalam manusia dan manusia ada di dalam Tuhan. Hati sebagai bagian terhalus dalam diri manusia, merupakan suatu sarana yang sengaja dipersiapkan bagi bersemayamnya Tuhan. Dengan demikian, menurut Zoetmulder, akan dijumpai adanya dua pemahaman yang sejajar yakni manunggal dalam rasa dan manunggal dalam hidup.[28] Kemanunggalan antara kawula dan Gusti ini juga banyak dikupas dalam cerita Dewa Ruci. Selain itu juga dapat diumpakan dalam perumpamaan keris dan warangkanya (curiga manjing warangka, warangka manjing curiga). Hal ini sebagaimana dikutip dalam Tembang Asmarandana berikut.[29]

  

Sebabnya Suksma (Kawêkas) dipuji di antara semua suksma lainnya ialah karena di antara suksma-suksma itu tak ada satu seperti yang ini, yang serupa dengan Suksma Kawêkas (Mutlak), bagaikan sebilah keris dengan sarungnya. Selalu dilihat manunggal.

Suwardi Endraswara mengatakan bahwa konsep ketuhanan yang diyakini oleh masyarakat Jawa tidak jauh beda dengan paham yang dianut dalam konsep ketuhanan dalam Tattwa / Darsana Hindu maupun Tasawuf Islam. Pemahaman konsep ketuhanan Jawa tidak lepas dari konsep hana (Ada) atau dan tan hana (Tidak Ada).[30] Konsep hana tan hana ini merupakan puncak dari ngèlmu kasunyatan dalam teosofi Jawa di mana disebutkan “ana nanging ora ana, ora ana nanging ana”. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tujuan hidup manusia Jawa adalah kembali ke alam sunya ruri atau alam suwung  (adam makdum) di mana Tuhan berada. Berbicara masalah konsep dalam Kidung Dharma Weda 1 disebutkan:

    

Ada seorang pandita yang menciptakan isyarat gaib. Bagaikan kumbang menggapai langit, di manakah sarang angin berada, serta inti batang kangkung, batas antara langit dan lautan, isi dari bilah bambu kosong, dan punggung bola besi, jejak burung kuntul (bangau) yang sedang melayang, burung terbang melampaui langit, bunga mekar memenuhi angkasa.

Dalam kiasan tersebut eksistensi Tuhan diibaratkan sebagai kombang angajab ing tawang (kumbang yang hinggap di angkasa). Ini merupakan hal yang nyata (ana) tetapi tidak nyata (ora ana). Ini dikarenakan Dia meliputi dan sekaligus diliputi. Dia berada di jantung sebagai terminal sirkulasi nafas atau sarangnya angin (susuhé angin). Dia juga menjadi intisari dalam setiap badan manusia namun Dia tidak terlihat, ada namun tiada seperti intisari dalam pohon kangkung (galihing kangkung). Dia juga tanpa awal dan tanpa akhir ibarat melihat langit di tengah samudera (wëkasané langit jaladri). Dia adalah Yang Maha Cemerlang yang menjadi sumber cahaya sejati sebagaimana digambarkan dalam isi bambu kosong (isining wuluh wungwang). Dia juga tanpa arah, tanpa papan, tanpa warna, tanpa rupa, tanpa kiblat, tanpa teman, tanpa bau, tanpa rasa, tidak laki-laki atau pun perempuan dan juga bukan banci yang dikiaskan dengan istilah gigiring punglu (punggung peluru). Dia juga mampu menciptakan Mayà-Nya yang tidak berbekas seperti bekas jejak burung kuntul yang sedang terbang (tapaking kuntul anglayang). Namun Dia bisa dicapai dengan buddhi atau kecerdasan meskipun budi itu berada dalam lingkup nafsu. Hanya dengan kekuatan buddhi yang mampu mengalahkan nafsu ibarat burung terbang yang melampaui langit (manuk mibër uluké ngungkuli langit) saja yang bisa mencapai-Nya. Menurut Sërat Wirid Karana Jati untuk dapat mencapai-Nya (manunggaling kawula gusti) tahapan-tahapan-tahapan yang terdiri dari: jasad dituntun oleh keutamaan buddhi, buddhi terhirup oleh hawanya nafsu, nafsu (rasaning karëp) diredam oleh kekuasaan sukûma sejati, sukûma diserap mengikuti rasa sejati (karëping rasa), rasa luluh melebur disucikan oleh cahaya (pengetahuan suci), cahaya terpelihara oleh atma (energi yang hidup), atma kembali pada  Sang Sangkan Paraning Dumadi.[31]

Hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya menurut orang Jawa dapat diumpamakan seperti ðalang dan wayangnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Serat Cenþini 279.2-3 (Mêgatruh)[32] yang menyebutkan:

    

Oleh manusia sempurna itu dijadikan sasmita menunjuk kepada Tuhan. Ðalang dan wayang diberikan tempat dan arti sejati, yaitu sebagai cara menggambarkan bagaimana Tuhan itu bertindak. Orang bijak membuat perumpamaan sebagai berikut, kêlir itu jagad yang kelihatan, wayang-wayang yang ditancapkan di kiri dan kanan menggambarkan golongan makhluk-makhluk Tuhan. Batang pisang adalah buminya. Bléncong adalah lampu kehidupan. Gamelan adalah keserasian antara peristiwa-peristiwa.

Memang konsep ketuhanan menurut orang Jawa tidak bisa dipisahkan dari konsep hidup, manusia, dan alam itu sendiri. Untuk bisa mengenal Tuhan maka manusia harus mengenal dirinya sendiri, makna hidup dan kehidupan serta mengenal alam semesta. Tanpa memahami hakikat semua itu manusia sulit untuk mengenal Tuhannya. Dalam sebuah Tembang Dhandhanggula diungkapkan sebagai berikut.

  

Ketahuilah tentang hakikat hidup. Bahwa manusia hidup di dunia ini; dapat diibaratkan seperti orang yang singgah untuk minum; bagaikan burung terbang; yang keluar dari sarangnya; ke mana dia harus hinggap maka janganlah sampai keliru; jika diibaratkan seperti orang yang pergi bertamu ke rumah tetangga, maka tak akan lama pun dia akan pulang, pulang kembali ke asalnya.[33]

Untuk memahami hakikat hidup tersebut maka kita perlu merealisasikan kesadaran diri manusia menjaganya secara terus menerus. Meminjam filosofi Ignatius Suharyo, bahwa hidup itu perlu nêng (mênêng) supaya ning (wêning) dan akhirnya nung (dunung). Artinya dengan mênêng (diam) seseorang bisa menjadi wêning (jernih hati dan pikirannya) agar lebih mampu dunung (mengerti dan memahami) realitas hidup dalam hubungannya dengan diri sendiri, sesama, alam semesta dan Tuhan.  Senada dengan hal tersebut dalam Sêrat Wedhatama I.13 (Pangkur)  disebutkan:

   

Ia yang tidak bingung kepada perpaduan sukma. Diresapkan dan dihayati di kala sepi, serta disimpan di dalam hati. Saat membuka tirainya, tak lain ketika antara sadar dan tidak. Bagaikan kilasan mimpi meresapnya rasa yang sejati.[34]

Inti dari têmbang tersebut adalah bahwa untuk bisa kembali ke alam suwung (únyata) atau manunggaling kawula Gusti, maka manusia tersebut harus melalui tahapan dan proses samadhi dengan cara menjernihkan batin, memusatkan nalar, meluruskan budi, serta menempatkan rasa dengan cara liyêp-layap-luyupLiyêp berarti memahami perjalanan nafas sebagai inti anasir angin. Layap berarti memahami rasa panas sebagai inti anasir api. Luyup, memahami perjalanan darah sebagai anasir air. Ketiga anasir itu akan menyatu dan menghidupkan raga, sebagai inti anasir tanah sehingga menjadi hidup dan makarti. Keempat anasir (sêdulur papat) itulah yang harus disempurnakan dan dikembalikan ke asalnya agar manusia bisa menyatu dengan sang Diri (lima pancêr).

Penutup

Ajaran ketuhanan dalam perspektif Jawa merupakan hasil perenungan orang Jawa yang mendalam.  Sebagai pemikiran ajaran ini banyak berkembang dalam sistem kebatinan Jawa atau paham Kêjawèn. Memang tidak jelas apakah pahamnya pantheisme atau monisme. Namun pada intinya orang Jawa meyakini bahwa Tuhan itu abadi, tiada terpikirkan, ada di mana-mana, dan juga ada di dalam hati setiap insan. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah Gusti, Sang Hyang, atau pun Pangèran. Untuk bisa menyatu dengannya atau manunggaling kawula Gusti maka manusia harus melalui kesadaran Ingsun-Suksma Sêjati-Suksma Kawêkas melalui proses layap-liyêp-aluyup.

 

Daftar Pustaka

Bakker, J.W.M. 1984. Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius, 1984.
Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi, terjemahan Achmad Fedyani Saefudin. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ciptoprawiro, Abdullah. 2000. Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang: Penerbit Cakrawala.
Geertz, Clifford. 1976. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press.
Hadiwijono, Harun. 2002. Kebatinan dan Injil. Jakarta: Gunung Mulia.
Huijber, Theo. Manusia mencari Allah Suatu Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta: Kanisius.
Jacobs, Tom. 2002. Paham Allah dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi. Yogyakarta: Kanisius.
Kern,  J.HC. dan W.H. Rassers. 1982. Çiva dan Buddha. Jakarta: Djambatan.
Koentjaraningrat, 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia.
Mangkunegara IV. 1988. Wedhatama Winardi. terj. R. Soedjonoredjo. Surabaya: Citra Jaya Murti.
Miswanto. 2009. Esensi Falsafah Jawa bagi Peradaban Umat Hindu. Surabaya: Paramita.
Poerbatjaraka, R.M. Ng. dan Tarjan Hadidjaja, 1952. Kepoestakaan Djawa. Djakarta: Djambatan.
Pranoto, Tjaroko HP. Teguh. 2008. Spiritualitas Kejawen, Ilmu Kasunyatan, Wawasan dan Pemahaman, Penghayatan dan Pengamalan. Yogyakarta: Kuntul Press.
Sujamto. 1997. Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa. Semarang: Dahara Prize.
Tebba, Sudirman. 2007. Etika dan Tasawuf Jawa: Untuk Meraih Ketenangan Jiwa. Tangerang: Pustaka Irvan.
Tim Penyusun, 2011. Kamus Bau Sastra Jawa. Yogyakarta: Kanisius.
Tjahjadi, Simon Petrus L. 2007. Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan, dari Descartes sampai Whitehead. Yogyakarta: Kanisius.
Wahyudi, Agus. 2014. Pesona Kearifan Jawa, Hakikat Diri Manusia dalam Jagat Jawa. Yogyakarta: Dipta.
Zoetmulder, P.J. 2000. Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Jakarta: Gramedia
Zoetmulder, P.J. 2006. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Gramedia

 

End Note

[1] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1974), h. 1-2 .

[2] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), h. 14.

[3] Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, (Tangerang: Penerbit Cakrawala, 2003), h. 46.

[4] Simon Petrus L. Tjahjadi, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan, dari Descartes sampai Whitehead, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 1-18.

[5] Tom Jacobs, Paham Allah dalam Filsafat, Agama-agama, dan Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), h. 60.

[6] Theo Huijber, Manusia mencari Allah Suatu Filsafat Ketuhanan, (Yogyakarta: Kanisius, 1977).

[7] J.W.M. Bakker, Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), h.12.

[8] Sujamto, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, (Semarang: Dahara Prize, 1997), h. 43.

[9] Miswanto, Esensi Falsafah Jawa bagi Peradaban Umat Hindu, (Surabaya: Paramita, 2009), h. 1

[10] Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, (Jakarta: Gunung Mulia, 2002), h. 3.

[11] J.HC. Kern dan W.H. Rassers, Çiva dan Buddha, (Jakarta: Djambatan, 1982), h.38-39.

[12] Clifford Geertz, The Religion of Java, (Chicago: The University of Chicago Press, 1976), h. 529-530.

[13] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, op.cit., h. 27.

[14] Miswanto, Esensi Falsafah Jawa, op.cit., h. 3

[15] Andrew Beatty, Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi, terjemahan Achmad Fedyani Saefudin, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), h. 14.

[16] Agus Wahyudi, Pesona Kearifan Jawa, Hakikat Diri Manusia dalam Jagat Jawa, (Yogyakarta: Dipta, 2014), h.8.

[17] Tjaroko HP Teguh Pranoto, Spiritualitas Kejawen, Ilmu Kasunyatan, Wawasan dan Pemahaman, Penghayatan dan Pengamalan, (Yogyakarta: Kuntul Press, 2008), h. xxxiii-xxxv

[18] Mangkunegara IV, Wedhatama Winardi, terj. R. Soedjonoredjo, (Surabaya: Citra Jaya Murti, 1988), h. 28-29.

[19] Tjaroko HP Teguh Pranoto, Spiritualitas Kejawen, op.cit., h.4-5.

[20] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, op.cit., h. 24-25.

[21] Raden Supardi. Antjala Djarwa, dalam Miswanto, Esensi Falsafah Jawa, op.cit., h. 92.

[22] Loc.cit., h. 93.

[23] R.M. Ng. Poerbatjaraka dan Tarjan Hadidjaja, Kepoestakaan Djawa, (Djakarta: Djambatan, 1952), h.68.

[24] Tim Penyusun, Kamus Bau Sastra Jawa, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), h. 526.

[25] P.J. Zoetmulder, Kamus Jawa Kuna-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2006), h. 360.

[26] Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, op.cit., h. 239.

[27] Sujamto, Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, op.cit., h. 114-115.

[28] P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa, (Jakarta: Gramedia, 2000), h. 213-245.

[29] Loc.cit., h. 246-247.

[30] Bandingkang dengan konsep Sat-Asat dalam filsafat Hindu atau Nafi-Isbat dalam Tasawuf Islam.

[31] Miswanto, Esensi Falsafah Jawa, op.cit., h. 43-46

[32] P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti, op.cit., h. 287-291.

[33] Sudirman Tebba,Etika dan Tasawuf Jawa: Untuk Meraih Ketenangan Jiwa,(Tangerang: Pustaka Irvan, 2007), hal.13-14.

[34] Mangkunegara IV, Wedhatama Winardi, op.cit., h. 14-16.

Oleh: Miswanto, Wakil Sekjen PP Pandu Nusa

(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Doktor Program Studi llmu Agama Program Pascasarjana IHDN Denpasar, 28 Juni 2016)

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

©Pandunusa 2018
%d blogger menyukai ini: